Histologi adalah ilmu yang mempelajari anatomi
jaringan secara mikroskopis, yaitu dengan menggunakan mikroskop untuk
mengamatinya. Ikan adalah organisme
multiseluler atau terdiri dari jutaan sel.
Sel-sel tersebut dibedakan satu sama lain serta masing-masing sel
memiliki sifat yang khas, karena kelompok sel tersebut dapat melakukan fungsi
tertentu.
Kebanyakan jaringan lebih kompleks karena terdiri dari
berbagai jenis sel yang berbeda.
Kumpulan dari berbagai jaringan dalam satu kesatuan membentuk
organ. Organ inilah yang merupakan
bagian yang tampak pada anatomi luar atau anatomi makro.
Jadi setelah kita mengetahui bahwa anatomi mikro atau histologI
adalah mempelajari suatu organ atau bagian tubuh ikan secara lebih cermat,
terinci sampai ke tingkat selnya, maka perlu pula diketahui teknik pembuatan
preparat histologI tersebut. Agar sel
yang akan diamati seperti asalnya bila ikan dalam keadaan hidup, maka jaringan
perlu di cegah agar tidak rusak atau otolisis (kerusakan akibat kerja enzim
katabolik). Semua jaringan tubuh ikan
mudah sekali rusak atau otolisis, sehingga langkah utama yang perlu dilakukan
adalah mengawetkan jaringan ikan segera setelah dimatikan atau yang sering
disebut proses fiksasi. Tidak disarankan
membuat preparat jaringan untuk histologi bila ikan sudah mati. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dan diperhatikan
dalam teknik histologi secara manual adalah :
1. Penentuan jaringan yang
akan diamati
2. Fiksasi atau pengawetan
jaringan (Fixation)
3. Perlakuan jaringan (processing)
4. Pemotongan jaringan
menggunakan alat mikrotom (Sectioning)
5. Pewarnaan jaringan (staining)
6. Pengamatan di bawah
mikroskop (Observation)
Ikan yang akan diambil
jaringannya, perlu dimatikan lebih dahulu (nekropsi) dengan memotong susunan
syaraf pusat di belakang kepalanya. Bila
ikannya sangat aktif, perlu dilakukan pembiusan terlebih dahulu sebelum ikan
dimatikan.
1.
Penentuan Jaringan
Penentuan jaringan merupakan salah satu kegiatan yang
sangat penting dalam pembuatan preparat jaringan histologi. Cara memotongnya perlu diperhatikan agar
preparat jaringan yang dilihat di bawah mikroskop tampak pada bagian yang
sesuai dengan yang diamati. Kesalahan
pemotongan dapat berakibat fatal pada pengamatannya kelak. Tebalnya jaringan dibuat agar bahan fiksatif
dapat meresap sempurna ke dalam jaringan adalah 1 cm. Jaringan yang sudah dipotong sebesar 1 cm3
langsung dimasukkan ke dalam larutan fiksatif dan disertai dengan label (nama
sampel, tanggal, dll).
Bila ukuran ikan kecil, maka seluruh tubuh ikan
dimasukkan ke dalam larutan fiksatif, yang sebelumnya bagian perut ikan dibelah
agar larutan fiksatif dapat masuk ke dalam dan mengenai organ dalam ikan. Pemotongan jaringan dilakukan dengan
menggunakan pisau skalpel yang tajam.
Pemotongan jaringan dilakukan sekali, tidak berkali-kali dituris agar
permukaan rata. Sangat dianjurkan untuk
tidak menggunting jaringan, karena dapat berakibat tertekannya sel oleh gunting
sehingga jaringan menjadi mengkerut atau kempis.
2.
Fiksasi Jaringan (Fixation)
Jaringan atau organ harus secepatnya dimasukkan ke
dalam larutan fiksatif setelah ikan dimatikan dan dibedah. Tujuan dilakukan proses fiksasi adalah :
1. Mengawetkan jaringan agar
mendekati atau sama seperti keadaan asalnya (normal)
2. Untuk mencegah terjadinya
kerusakan jaringan akibat otolisis ataupun oleh bakteri pembusuk
3. Mencegah terjadinya proses
osmosis dan penciutan jaringan
4. Melindungi jaringan pada
waktu dilakukan proses (perlakuan)
5. Membentuk tekstur jaringan
sehingga memudahkan pada waktu pemotongan
6. Mengaktifkan jaringan dan
komponennya sehingga mudah diwarnai.
Bahan kimia yang dipakai harus memenuhi persyaratan
agar dapat berfungsi sebagai larutan fiksatif.
Adapun syaratnya yaitu :
1. Dapat menyerap (penetrasi)
ke dalam jaringan dengan cepat untuk mencegah terjadinya otolisis, pembusukan
dan sebagainya
2. Mengkoagulasikan
komponen-komponen sel
3. Melindungi jaringan
terhadap pengkerutan atau kerusakan selama proses pembuatan preparat jaringan
lebih lanjut.
Selain pemilihan bahan kimia yang cocok sebagai
larutan fiksatif, penting diperhatikan perbandingan volume larutan fiksatif dengan
besarnya jaringan yang difiksasi.
Perbandingan larutan fiksatif dengan jaringan yaitu 10 : 1 agar
penyerapan larutan fiksatif dapat sempurna ke dalam jaringan. Sesekali jaringan-jaringan dalam larutan
fiksatif dikocok atau dihomogenkan.
Untuk ikan lebih baik bila dilakukan penyimpanan jaringan dalam larutan
fiksatif di kulkas suhu 5 – 10 oC.
Ada beberapa macam larutan fiksatif yang dapat
digunakan, tergantung dari tujuan atau maksud apa yang akan dipelajari dari
preparat jaringan tersebut serta macam apa jaringannya. Pada umumnya larutan fiksatif terdiri dari
campuran beberapa bahan kimia yang umum dipakai yaitu 10% Buffer Normal
Formalin (BNF) Solution, Bouin’s Solution, Carnoy’s Solution dan beberapa larutan
lainnya :
a.
10% Buffer Normal Formalin
(BNF) Solution:
-
di-Natrium hydrogen phosphate
(Na2HPO4) : 6.5 g
-
Natrium dihydrogen phosphate monohydrate (NaH2PO4.H2O) : 40 g
-
Formalin 37 – 40 % (Formaldehyde) : 100 ml
-
Akuades :
900 ml
Na2HPO4 (anhydrous) dapat
diganti dengan Na2HPO4.2H2O sebanyak 8.15 g
untuk setiap 1000 ml 10% BNF. Setelahg
larutan ini dibuat, pH diukur dan diusahakan pH 7.0 atau antara 6.5 – 7.5. Formaldehyde 37 – 40 % teknis dapat pula
dipakai asal larutan masih berwarna jernih dan bila larutan menjadi keruh, maka
tidak dapat digunakan sebagi larutan fiksatif karena terbentuk para
formaldehyde. Formaldehyde yang baik
memiliki pH 2.8 – 4, dan bila pH kurang dari 2 maka formaldehyde tidak dapat
digunakan.
10% BNF adalah larutan fiksatif yang dianjurkan,
karena larutan fiksatif ini sebagai buffer untuk mencegah terjadinya asam
akibat perubahan formaldehyde menjadi asam format secara perlahan-lahan. Jika 10% BNF tidak tersedia dilapangan dapat
juga digunakan 10% formalin yang terdiri dari formaldehyde 37 – 40% sebanyak 100
ml yang dilarutkan ke dalam 900 ml akuades.
Dan secepatnya spesimen atau sampel jaringan sampai di Laboratorium
diganti dengan larutan fiksatif 10% BNF.
Waktu minimal yang dibutuhkan untuk jaringan dalam larutan fiksatif
adalah 24 jam dan maksimal 1 minggu.
Jaringan masih dapat disimpan dalam pengawet ini untuk jangka waktu
beberapa bulan atau tahun dengan resiko terjadinya penurunan kualitas warna pada
inti sel. Larutan fiksatif 10% BNF ini
dapat digunakan untuk mengawetkan bermacam-macam jaringan termasuk jaringan
syaraf.
b.
Bouin’s Solution :
A. Picric acid jenuh (1000
ml):
-
Picric acid : 30 g
-
Akuades :
1000 ml
B. Larutan Bouin’s (1000 ml)
:
-
Picric acid jenuh (A) :
800 ml
-
Formaldehyde 37 – 40 % :
150 ml
-
Acetic acid glacial 100 % :
50 ml
Larutan fiksasi Bouin’s sangat baik digunakan untuk
pengawetan jaringan ikan terutama tenunan ikat, glikogen dan otot. Kerugian dari fiksatif ini dapat menyebabkan
sel-sel darah merah lysis dan terjadinya pembengkakan dari serabut-serabut
kolagen serta menyebabkan jaringan berwarna kuning. Lamanya waktu pengawetan 24 jam dan sesudah
itu secepatnya dipindahkan ke alkohol 70 %.
Larutan Bouin’s juga sangat baik digunakan untuk pewarnaan spesifik
trichromes.
Larutan Bouin’s dibuat dengan perbandingan picric acid
jenuh : formaldehyde : acetic acid glacial adalah 16 : 3 : 1. Larutan Bouin’s bisa tahan lama sekitar
6 bulan jika terhindar dari keadaan yang dingin dan kelebihan panas. Jaringan tidak boleh lebih lama dari 24 – 48
jam di dalam larutan Bouin’s. Selanjutnya
jaringan harus dipindahkan ke dalam alkohol 70 % selama ≥ 2 jam sampai beberapa hari, kemudian
jaringan dipindahkan ke :
-
Alkohol 85 % :
selama 1 jam
-
Alkohol 90 % :
selama 2 jam
-
Alkohol 85 % :
selama 1 jam
-
Alkohol 70 % :
selama 2 jam
-
Jaringan dibilas dengan air kran mengalir pelan selama ± 2
jam
-
Jaringan yang mengandung calcium, harus didekalsifikasi
dahulu menggunakan larutan Decalcification selama 24 jam. Hal ini bertujuan agar calcium yang ada di
jaringan hilang, sehingga mempermudah pada saat pemotongan
-
Jaringan dibilas lagi dengan air kran mengalir pelan selama ±
2 jam
-
Pindahkan ke alkohol 70 % lagi selama ≥ 2 jam atau sampai beberapa hari
Sekarang jaringan siap untuk dilakukan Processing.
3.
Proses (perlakuan)
jaringan (Processing)
Proses jaringan terdiri dari dari 5 tahap, yaitu :
1. Dehidrasi
2. Clearing
3. Impregnasi
4. Embedding
5. Blocking
Proses jaringan ini bertujuan agar jaringan yang
umumnya lunak nantinya dapat dipotong setebal 2 – 4 mm, diwarnai dan dilihat
bentuk selnya di bawah mikroskop. Bila
potongan jaringan lebih tebal, maka bentuk sel dari jaringan tersebut tidak
jelas karena terjadi penumpukan atau saling tindih menindih sel yang satu
dengan lainnya. Untuk memungkinkan
dibuat potongan yang sedemikian tipis, dan jaringan perlu diikat dalam parafin.
Agar ikatan dalam parafin tidak mudah
lepas, maka perlu dilakukan beberapa tahapan proses pembuatannya :
A.
Dehidrasi
Proses ini dimaksudkan agar cairan di dalam sel atau
jaringan ditarik keluar, untuk akhirnya diganti parafin. Penarikan air keluar dari sel dilakukan
dengan cara merendam jaringan dalam bahan kimia yang fungsinya sebagai penarik
air. Bahan kimia yang dipakai adalah
alkohol, acetone, methanol, diazone, isopropanol dan butanol. Untuk proses dehidrasi pada pembuatan
preparat jaringan histologi secara manual yang sering digunakan adalah
alkohol. Caranya, jaringan yang direndam
dalam alkohol 70 % selama ≥ 2 jam sampai beberapa hari
tersebut secara bertahap dipindahkan ke dalam :
-
Alkohol 85 % :
selama 1 jam
-
Alkohol 95 % :
selama 1 jam
-
Alkohol 100 % :
selama 2 jam
Alkohol absolut 100 %
dibuat dari alkohol 99 % yang ditambahkan cupper sulfate (CuSO4)
sedikit demi sedikit sampai larutan menjadi bening (tidak keruh).
B.
Clearing
Pada proses clearing, jaringan kemudian dipindahkan ke
dalam :
-
Alkohol – xylene (1 : 1) :
selama 1 jam
-
Xylene :
selama 1 jam
-
Xylene 2 :
selama 1 jam
-
Xylene 3 :
selama 1 jam
Proses ini bertujuan agar jaringan sesudah dehidrasi,
air di dalam sel keluar. Bagian sel yang
kosong nantinya dapat didisi parafin, agar jaringan terikat kuat dengan parafin. Tetapi alkohol tidak melarutkan ataupun
bersatu dengan parafin, oleh karena itu digunakan xylene yang dapat melarutkan parafin
maupun dapat bercampur dengan alkohol.
Jadi proses clearing maksudnya mengganti tempat air sel yang sudah
diganti oleh alkohol untuk diganti dengan xylene. Agar proses sempurna dilakukan 2 kali
perendaman dengan xylene.
C.
Impregnasi
Impregnasi adalah proses penggantian xylene dengan parafin. Setelah dalam xylene 2 selama 1 jam, jaringan
dipindahkan dalam xylene : parafin (1 : 1) selama 1 jam (di dalam oven). Proses impregnasi dilakukan di dalam oven
dengan suhu 60 – 65 oC.
Parafin yang digunakan biasanya memiliki titik cair 56 – 58 oC.
D.
Embedding
Proses embedding bertujuan agar
xylene benar-benar telah seluruhnya diganti dengan parafin. Setelah dari tahap impregnasi kemudian
jaringan dipindahkan ke dalam :
-
Parafin 1 :
selama 1 jam
-
Parafin 2 :
selama 1 jam
-
Parafin 3 :
selama 1 jam
E.
Blocking
Setelah dikeluarkan dari parafin 2
kemudian jaringan dicetak dalam cetakan, ini dinamakan proses blocking. Dalam cetakan, jaringan disusun dan bagian
potongan yang diperlukan menghadap dasar cetakan. Ini merupakan cara yang perlu diperhatikan karena
salah meletakkan maka, potongan jaringan yang akan didapat tidak sesuai dengan
yang diinginkan. Biarkan jaringan
terikat parafin selama 1 malam, tetapi diperhatikan agar didalam blok terutama
disekitar jaringan tidak ada udara, sehingga ikatan jaringan dalam parafin
kuat. Setelah blok menjadi keras,
keesokan harinya blok dikeluarkan dari cetakan untuk selanjutnya siap dipotong
dengan alat mikrotom.
4.
Pemotongan jaringan (section)
Setelah mikrotom diset untuk
ketebalan tertentu, jaringan lalu dipotong.
Biasanya untuk jaringan lunak dipotong tipis dengan ketebalan 2 – 4 mm, misalnya untuk jaringan
atau organ daging, hati, ginjal, limfa, otak, usus dan sebagainya. Sedangkan untuk jaringan keras dipotong lebih
tebal yaitu 7 – 8 mm.
Pemotongan diusahakan agar sambung-menyambung berbentuk pita jaringan. Selanjutnya potongan pita jaringan diletakkan
di atas gelas objek, yang sebelumnya gelas objek sudah diolesi dahulu dengan
cairan perekat putih telur (terbuat dari putih telur yang dilarutkan ke dalam
air). Proses perekatan jaringan ini
dilakukan di atas hot plate dengan suhu
± 50 oC agar pita jaringan teregang dan kering, untuk selanjutnya
jaringan diwarnai.
5.
Pewarnaan jaringan (staining)
Setelah dipotong, jaringan masih mengandung paraffin
untuk itu harus dihilangkan dengan merendamnya ke dalam xylene. Agar dapat diwarnai dengan zat warna yang
larut dalam air, maka dilakukan proses hidrasi.
Gelas objek yang berisi jaringan kemudian dimasukkan ke dalam :
-
Petroleum Benzene : selama 3 menit
-
Xylene : selama 3 menit
-
Alkohol 100 % (1) :
selama 3 menit
-
Alkohol 100 % ( 2) : selama 3 menit
-
Alkohol 95 % : selama 3 menit
-
Alkohol 85 % : selama 3 menit
-
Alkohol 70 % : selama 3 menit
-
Alkohol 60 % : selama 3 menit
-
Cuci dengan air kran :
selama 10 detik
-
Cuci dengan akuades :
selama 5 detik
Warnai dengan Haematoxylin (H):
-
Haematoxylin solution : selama 10 - 30 menit
-
Cuci dengan air kran mengalir pelan : selama 5 - 20 menit
-
Cuci dengan akuades :
selama 5 detik
Warnai dengan Eosin (E):
-
Eosin solution : selama 1 - 5 menit
-
Cuci dengan air kran mengalir pelan : selama 10 detik
-
Cuci dengan akuades :
selama 5 detik
Sesudah dicuci, kembali dilakukan dehidrasi agar
selanjutnya dapat direkatkan dengan gelas penutup dan zat perekat (mounting
medium), caranya masukkan gelas objek dan jaringannya ke dalam :
-
Alkohol 70 % :
selama 5 detik
-
Alkohol 80 % :
selama 5 detik
-
Alkohol 95 % :
selama 5 detik
-
Alkohol 100 % :
selama 1 - 3
menit
-
Creosote : Xylene (1:1) :
selama 1 - 3
menit
-
Xylene :
selama 1 - 3
menit
Selanjutnya gelas objek dan jaringan
di atasnya ditetesi dengan canada balsam atau entellan dan langsung ditutup
dengan gelas penutup. Biarkan semalam
agar kering dan tidak ada udara antara gelas penutup dan gelas objek. Sekarang preparat jaringan sudah dapat
diamati di bawah mikroskop.
BAHAN-BAHAN
1.
BOUIN’S Solution :
1. Picric Acid jenuh
(Saturated Picric Acid) :
-
Picric Acid (C6H3N3O7) : 30 g
-
Akuades : 1000 ml
2. Bouin’s Solution (100 ml):
-
Saturated Picric Acid : 80 ml
-
Formaldehyde 37 % : 15 ml
-
Acetic Acid Glacial (CH3COOH) :
5 ml
2.
Decalcification Solution (200 ml):
1. Larutan A :
-
Formic Acid 90% (HCOOH) :
50 ml
-
Akuades :
50 ml
2. Larutan B :
-
tri-Sodium Citrate dihydrate (C6H5Na3O7
. 2H2O) : 20 g
-
Akuades :
100 ml
**Larutan
B distirer selama 30 menit sampai larut.
Kemudian larutan A dan Larutan B dicampur dan distirer lagi.
3.
Hematoxylin Solution (1000
ml) :
-
Hematoxylin (C16H14O6.H2O) : 1 g
-
Natrium Iodate (NaIO3) : 0.2 g
-
Aluminium Potassium Sulfat (KAl(SO4)2.12H2O) :
50 g
-
Chloral Hydrate (C2H3Cl3O2) : 50 g
-
Citric Acid Monohydrate (C6H8O7 .
H2O) : 1 g
-
Akuades : 1000 ml
4.
Eosin Solution (100 ml):
-
Eosin (C20H6Br2N2Na2O9) : 0.5 – 1 g
-
Akuades : 100 ml
No comments:
Post a Comment