Wednesday, November 15, 2017

TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN KERAPU BEBEK Cromileptes altivelis



1.  TEKNIK PEMELIHARAAN DAN PEMIJAHAN INDUK
1.1 Pemeliharaan Induk
Induk-induk ikan kerapu bebek dipelihara dalam bak fiber berbentuk bulat dengan volume 50 ton (diameter   m dan kedalaman  m).  Bak dilengkapi dengan 20 titik aerasi dan pipa pemasukan air (inlet)  1 “ yang memiliki debit air      L/menit, pipa pengeluaran air (outlet) bawah  4”, pipa outlet atas 2 “ yang terletak tepat di atas bak penampungan telur, serta bak penampungan telur dengan dimensi 0,6 x 0,6 x 0,6 m.  Bak pemeliharaan induk ini juga sekaligus merupakan bak pemijahan.
Induk yang dipelihara berjumlah 42 ekor yang terdiri dari 22 ekor F1 Situbondo (berat 1,2 - 1,7 kg), 12 ekor F2 Situbondo (berat 0,9 - 1,1 kg) dan 8 induk dari alam (berat 1,8 – 3,2 kg).  Adanya induk-induk yang unggul ini diharapkan dapat menghasilkan benih-benih yang berkualitas, baik dari segi kelangsungan hidupnya, ketahanan terhadap penyakit maupun dari pertumbuhannya.  Induk-induk kerapu bebek yang dipelihara diberi nomor tagging dengan menyuntikkan microchip di punggung tepat di bawah sirip dorsal, tujuannya untuk memudahkan melihat pertumbuhan dan kesiapan induk memijah dari masing-masing induk.  Kegiatan vaksinasi, sampling bobot dan panjang induk dapat dilakukan setiap 2 - 3 bulan sekali.
Pada saat menjelang musim pemijahan (bulan gelap), induk dipindah ke bak penampungan sementara.  Bak dikuras dan teritip yang menempel dibersihkan, kemudian bak disterilisasi dengan kaporit dosis 10.000 ppm yang dilarutkan ke dalam 10 L air tawar dan disiramkan ke dinding maupun dasar bak sambil dilakukan penggosokan dengan sikat agar lumut yang menempel mati.  Terakhir bak dicuci bersih menggunakan air tawar.  Bak ini diisi air laut kembali sampai penuh sehingga induk dapat dimasukkan kembali ke dalam bak.




1.2 Manajemen Pemberian Pakan
Induk harus diberi pakan yang memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi dan lengkap, karena dapat berpengaruh terhadap pematangan gonad dan kualitas telur yang dihasilkan, yang selanjutnya akan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup larva.  Induk diberi pakan ikan rucah segar seperti ikan benggol, kembung dan mata besar.  Dan sangat dianjurkan untuk memberikan pakan cumi selain ikan rucah pada induk sebanyak 2 kali seminggu.  Sebelum diberikan, ikan rucah dipotong-potong sesuai lebar bukaan mulut induk serta kepala, isi perut dan ekor ikan dibuang.  Pemberian pakan dilakukan secara at-satiation (sekenyangnya) dengan dosis pemberian pakan 3 - 5% dari bobot biomassa induk dan diberikan satu kali per hari (pagi hari).  Jumlah pakan per hari yang biasanya dimakan hingga kenyang oleh 42 ekor induk dengan berat rata-rata 1,5 - 2 kg adalah 2 - 3 Kg.  Pemberian jenis ikan rucah ini juga dianjurkan saling bergantian dan bisa diberikan campuran dari beberapa jenis ikan.  Pemberian pakan induk cukup dilakukan 5-6 kali seminggu dan diselingi dengan pemuasaan induk satu hari, hal ini dimaksudkan agar nafsu makan induk selalu bagus.
Untuk menjaga kesehatan induk dan memacu kematangan gonad, setiap hari induk juga diberikan moist pellet (hasil penelitian kerja sama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT bersama dengan Institut Pertanian Bogor/IPB), serta diberi vitamin B, C dan E yang dimasukkan ke dalam kapsul.  Pemberian vitamin ini dilakukan sebanyak 2 kali seminggu dengan dosis 40 mg/bobot biomassa induk.  Moist pellet dan kapsul vitamin ini dimasukkan ke dalam ikan rucah maupun cumi sebelum diberikan induk.
Ikan rucah, cumi dan moist pellet harus benar-benar segar dan sebaiknya di simpan dalam freezer suhu -18oC.  Karena pakan yang tetap segar nutrisinya juga akan tetap baik dan dapat menjaga induk selalu sehat.


1.3 Manajemen Kualitas Air
Sirkulasi air pada bak induk dilakukan secara terus menerus atau sistem air mengalir dengan pergantian air minimal 200% per hari.  Untuk menjaga agar kualitas air tetap baik, setiap 2 hari sekali air diturunkan sampai 70% setelah pemberian pakan, sambil dinding dan dasar bak disikat.  Hal ini bertujuan untuk membuang lumut yang menempel dan sisa kotoran induk.  Pengaturan pembuangan air atas dan air bawah juga dilakukan agar kualitas air dalam bak induk tetap baik, siang hari dilakukan pembuangan air bawah dan malam hari dilakukan pembuangan air atas.  Bak pemeliharaan dan pemijahan induk dikuras dan dibersihkan setiap 2 minggu sekali.

1.4 Pemijahan Induk
Ikan kerapu bebek termasuk ikan yang hermaprodit protogini, yaitu dapat berganti jenis kelamin dari kelamin betina berubah menjadi kelamin jantan.  Pada ikan-ikan yang berukuran kecil berjenis kelamin betina dan setelah besar sampai ukuran tertentu berubah menjadi kelamin jantan.  Biasanya ikan yang memiliki berat ±1 Kg sudah bisa menjadi induk betina, sedangkan untuk induk jantan minimal memiliki berat 3 Kg.
Keberhasilan pemijahan induk kerapu bebek ini sangat tergantung dari manajemen pakan, lingkungan dan rangsangan hormonal.  Pemijahan ikan kerapu dapat dilakukan dengan pemijahan alami (natural spawning), pemijahan buatan (artificial spawning), dan pemijahan dengan rangsangan hormonal (induced spawning).  Dari ketiga metode pemijahan di atas, yang menghasilkan kualitas telur terbaik adalah dengan pemijahan alami.
Menjelang musim pemijahan (bulan gelap), dilakukan pengamatan jenis kelamin dan seleksi tingkat kematangan induk dengan metode kanulasi, yaitu dengan memasukkan selang kanula atau kateter yang berdiameter 0,8 - 1 mm ke dalam lubang genital sedalam 4 - 6 cm, lalu dihisap dan dicabut secara perlahan-lahan.  Induk dibius dulu dengan MS22 atau minyak cengkeh sebelum dilakukan kanulasi.  Induk betina yang siap dipijahkan memiliki diameter telur 400 - 500 µm, sedangkan induk jantan terlihat cairan sperma berwarna putih susu pada selang kanula.  Metode kanulasi biasanya dilakukan bersamaan dengan pemindahan induk ke bak penampungan sementara saat bak utama dikuras dan dibersihkan.  Induk-induk yang siap dipijahkan ini yang nantinya akan diberikan rangsangan hormonal.  Perbandingan induk jantan dan betina adalah 1:2.
Di hatchery BPPT, pemijahan dilakukan dengan metode gabungan yaitu natural spawning dan induced spawning.  Di mana induk yang sudah diseleksi selain dipijahkan secara alami dengan manipulasi lingkungan, induk juga disuntik dengan hormon human chorionic gonadotropin (HCG) dan hormon puberogen (Pb).
Pemijahan alami (natural spawning) yang dilakukan adalah dengan memanipulasi lingkungan, yaitu dengan menurunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan induk sampai ±70% pada pagi hari setelah pemberian pakan dan dibiarkan selama 5 - 7 jam dimana sirkulasi air terus dilakukan.  Setelah itu ketinggian air dinaikkan kembali seperti semula.  Penurunan ketinggian air dan penjemuran bak ini dapat menaikkan suhu air di dalam bak sebesar ±1 - 3oC.  Dan akan terjadi penurunan suhu kembali pada saat penaikan ketinggian air.  Kondisi ini yang dapat merangsang induk untuk memijah.  Perlakuan naik turun ketinggian air ini dilakukan setiap hari sejak induk dimasukkan ke dalam bak pemeliharaan menjelang musim pemijahan.  Sedangkan untuk pemijahan rangsangan hormonal (induced spawning) adalah dengan menyuntikkan hormon human chorionic gonadotropin (HCG) dengan dosis 250 IU/kg berat induk dan hormon puberogen (Pb) dengan dosis 150 IU/kg berat induk.  Penyuntikan dilakukan selama 2 hari berturut-turut, pada hari pertama dosis HCG 250 IU/kg berat induk dan dosis Pb 150 IU/kg berat induk, sedangkan pada penyuntikkan hari kedua dosis HCG maupun Pb dinaikkan menjadi dua kali lipat yaitu HCG 500 IU/kg berat induk dan Pb 300 IU/kg berat induk.  Penyuntikkan dilakukan secara intramuscular di bagian punggung di bawah sirip dorsal, dimana masing-masing hormon disuntikkan pada bagian punggung yang berbeda (kanan dan kiri).
Pemijahan ikan kerapu biasanya terjadi pada bulan gelap (antara tanggal 25-5 bulan lunar) dan terjadi pada malam hari sekitar jam 22.00 - 02.00 WIB.  Telur yang dibuahi akan mengapung di permukaan air dan akan terbawa keluar mengikuti aliran air bagian atas kemudian telur akan tersaring pada jaring pengumpul telur (eggs collector) yang diletakkan di luar bak induk.  Eggs collector ini terbuat dari jaring yang lembut dengan ukuran mata jaring berkisar antara 300 - 400 µm.  Eggs collector ini dipasang pada sore hari dan telur yang terapung dalam eggs collector dipanen pada pagi hari sekitar jam 07.00 - 08.00 WIB.
Telur ikan kerapu hasil pemijahan yang baik akan melayang dipermukaan air, transparan dan berbentuk bulat dengan diameter 800 - 900 µm.  Sedangkan telur yang jelek dan tidak terbuahi akan mengendap di dasar dan berwarna putih susu (keruh).

1.5 Pengendalian Penyakit
Pemeliharaan induk harus selalu terkontrol dengan baik, salah satu faktor yang tidak kalah penting adalah kegiatan pengendalian penyakit pada induk.  Pengendalian berbagai jenis penyakit dan parasit ini akan menunjang kelangsungan hidup dan peningkatan produksi telur induk.  Penyakit dan parasit akan muncul jika kondisi lingkungan pemeliharaan kurang baik (kotor) dan mutu pakan yang rendah serta besarnya prosentase pergantian air laut, karena air laut hanya dilewatkan pada filter fisik dan tidak menggunakan mesin UV.
Kegiatan pengendalian penyakit dan parasit ini dilakukan dengan pengelolaan kualitas air yang baik.  Setiap hari bak disikat bersamaan dengan penurunan ketinggian air sampai 70%, sehingga sisa-sisa kotoran dapat terbuang.  Setiap 2 minggu sekali bak dikuras dan disterilisasi dengan kaporit.  Bersamaan dengan pembersihan bak ini, induk ditreatmen dengan direndam air tawar selama 5 - 10 menit dengan aerasi kencang, bisa juga ditambahkan acriflavine 50 ppm dan atau formalin 200 ppm.  Perendaman ini untuk menghilangkan parasit yang menempel pada permukaan tubuh, mata maupun insang ikan.  Parasit yang sering menyerang adalah golongan krustasea (copepod : Caligus sp.), trematoda (skin fluke : Benedenia sp.), Leeches (lintah) dan protozoa.
Pencegahan penyakit ini juga dilakukan dengan cara vaksinasi induk menggunkan vaksin polivalen Vibrio (hasil penelitian kerja sama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT bersama dengan Universitas Gajah Mada/UGM).  Caranya induk disuntik dengan larutan vaksin polivalen vibrio secara intramuscular di bagian punggung di bawah sirip dorsal dengan dosis 0,5 ml/induk.  Kegiatan vaksinasi dilakukan rutin setiap 3 bulan sekali.

2.  TEKNIK PEMELIHARAAN LARVA
2.1 Persiapan Bak
Bak yang digunakan dalam pemeliharaan larva memiliki kapasitas 2 m3 (ton).  Ukuran ini digunakan untuk target produksi 1000-1500 ekor juvenil ikan kerapu bebek, tetapi target ini belum bisa tercapai akibat beberapa kendala dari mulai kualitas air, penyakit dan pakan alami.  Bak  berbentuk bulat dengan diameter 2 m dan kedalaman 1 m, dilengkapi pipa inlet 1” dan pipa outlet 2”, dan bak dicat dengan warna biru muda.  
Bak terletak di dalam ruangan tertutup (indoor) supaya tidak terkena hujan dan sinar matahari langsung.  Untuk menghindari fluktuasi suhu, maka bak ditutup dengan plastik transparan.  Tutup plastik ini dibuka pada siang hari dan ditutup pada malam hari.
Persiapan bak pemeliharaan larva memegang peranan yang sangat penting di dalam usaha pembenihan ikan kerapu.  Tujuan utama dari persiapan bak ini adalah untuk mematikan organisme penyakit (patogen).  Sebelum bak digunakan harus disterilisasi atau didesinfektan menggunakan larutan kaporit/Ca(OCl)2 (bahan aktif 60%) dengan dosis 10.000 ppm yang dilarutakan ke dalam 10 L air tawar.  Dinding dan dasar bak disiram menggunakan larutan kaporit, dan dibiarkan beberapa menit sampai dinding berwarna keputihan (lumut mati), lalu dilakukan penggosokan menggunakan sikat.  Bak dan peralatan (selang dan batu aerasi) kemudian direndam dengan larutan kaporit 100 ppm selama 1 hari.  Setelah 1 hari bak pemeliharaan dan peralatan dicuci dengan deterjen.  Setelah itu baru dibilas dengan air tawar.  Terakhir bak dikeringkan dan ditutup dengan terpal atau plastik.
Bak yang siap digunakan  diisi air yang sudah melewati mesin UV (Ultra violet), yang sebelumnya air disariang dulu menggunakan filter bag (ukuran 5 µm) yang diikatkan pada ujung pipa inlet.

2.2 Seleksi, Penebaran dan PenetasanTelur
 Setelah persiapan bak selesai, dilakukan seleksi telur.  Seleksi dan penangan telur merupakan langkah awal menuju keberhasilan produksi benih ikan kerapu.  Kesalahan dalam penanganan telur dapat menyebabkan kerusakan pada telur. 
Telur yang telah tertampung di eggs collector dan sudah pada stadia embrio dipindahkan ke ember menggunakan gayung untuk kemudian ditaruh di akuarium.  Pemindahan telur harus pelan-pelan dan hindari telur kontak langsung dengan udara.  Seleksi telur dilakukan dengan cara mengangkat aerasi dan mendiamkan telur selama ± 5 - 10 menit.  Telur yang jelek (tidak terbuahi) berwarna putih susu dan akan mengendap di dasar akuarium, sedangkan telur yang baik akan mengapung di permukaan berwarna putih transaparan, bulat dengan diameter 800 – 900 µm.  Telur-telur yang mengendap selanjutnya disipon.  Kemudian telur yang sudah terseleksi dihitung jumlahnya dengan metode volumetrik dengan sampling sebanyak 5 kali pada tempat yang bebeda.  Di bawah ini adalah rumus untuk menghitung jumlah telur :


Telur yang sudah dihitung jumlahnya kemudian direndam dengan larutan iodin 60 ppm selama 15 menit sebagai desinfektan.  Kemudian telur siap untuk ditebar langsung ke bak penetasan dan pemeliharaan larva.  Penebaran dilakukan secara hati-hati dengan kepadatan dalam bak 10 butir/liter.  Rumus volume air pada bak penampungan telur (akuarium) yang akan dipindahkan ke bak penetasan (V) adalah sebagai berikut :

  


Telur kerapu bebek akan menetas antara 18 - 20 jam setelah pembuahan pada suhu 27 - 29oC dengan panjang total  2 mm.  Setelah larva menetas, telur dan cangkang yang mengendap di dasar bak disipon untuk menghindari timbulnya protozoa, jamur maupun bakteri.  Telur yang sudah menetas menjadi larva disebut larva day nol (D0) sedangakn larva yang berumur satu hari dari telur menetas adalah day 1 (D1).  Larva kerapu umur D1 akan menyebar merata, kemudian larva yang menetas dihitung jumlahnya dengan metode volumetrik dengan sampling sebanyak 3 kali pada tempat yang bebeda.  Air sampel diambil dengan cara mencelupkan pipa PVC tegak lurus ke dalam bak (diameter pipa 1,5 inci dan panjang 0,5 m).  Volume air dan jumlah larva yang terambil dalam air sampel dihitung.  Kepadatan larva di bak dapat dihitung berdasarkan konversi jumlah larva per satuan volume air sampel.  Penghitungan ini selain untuk mengetahui jumlah larva, juga untuk menentukan prosentase hatching rate (HR). Apabila HR kurang dari 70% maka larva dibuang (flushing).  Hal ini disebabkan kualitas telur yang jelek dan apabila terus dipelihara maka, larva banyak yang cacat, lemah dan akhirnya mati.  HR rata-rata di hatchery adalah 80%, dan nilai ini masih bagus untuk ukuran derajat penetasan telur ikan kerapu bebek.  Rumus HR adalah sebagai berikut :




Pada larva umur D1, permukaan air pemeliharaan ditetesi minyak cumi sebanyak 0.3 ml/m2/hari sampai umur D5 untuk larva kerapu bebek, sedangkan pada larva kerapu macan sampai umur D10.  Minyak cumi diberikan dua kali sehari yaitu pada jam 06.00 dan 15.00.    

2.3  Manajemen Pemberian Pakan
 Larva kerapu yang baru menetas akan memiliki cadangan makanan yang berupa kuning telur (yolk egg).  Selama kuning telur ini belum habis diserap, maka larva kerapu belum mengambil makanan dari luar tubuhnya.  Rata-rata pada larva ikan kerapu, kuning telur mulai terserap habis 71 jam setelah menetas, sedangkan larva mulai makan sampai semua larva makan adalah 69 - 92.5 jam setelah penetasan.  Sehingga larva mulai diberi makanan dari luar (exogenous feeding) pada umur D3, seiring sudah tebentuknya mulut dan saluran pencernaan.  Keterlambatan pemberian pakan ini akan menyebabkan point of no return, yaitu titik yang tidak dapat balik lagi, dimana larva akan mati akibat tidak mendapatkan energi pertama kali dari luar tubuhnya, sehingga larva tidak terlatih untuk makan meskipun diberi pakan.
Tiga jenis pakan yang sering digunakan dalam pemeliharaan larva kerapu yaitu Rotifera, Artemia dan pakan buatan (pellet).  Rotifera yang sering diberikan adalah tipe–SS  dengan panjang lorika 120 - 140 µm dan tipe-S dengan panjang lorika 140 - 200 µm.  Sedangkan naupli Artemia memiliki ukuran 450 - 500 µm.  Di bawah ini akan dijelaskan cara pemberian pakan larva menggunakan tiga jenis pakan tesebut di atas :

a. Rotifera (Brachionus sp.)
 Untuk larva kerapu bebek, Rotifera tipe-SS mulai diberikan pada larva pada umur D3 - D5 dengan kepadatan 5 - 6 ind/ml.  Mulai umur D5 larva diberi Rotifer tipe-S dengan kepadatan 7 - 9 ind/ml.  Penambahan Rotifera dilakukan apabila kepadatan Rotifera kurang dari 5 ind/ml. Rotifera diberikan pada larva sampai umur D30.  Sedangkan pada larva kerapu macan, Rotifera diberikan pada larva mulai umur D2 dengan kepadatan 3 - 5 ind/ml, dan kepadatan ini terus dipertahankan sampai umur D30.
Sebelum Rotifera diberikan dilakukan pengkayaan (enrichment).  Tujuan dari pengkayaan ini adalah untuk meningkatkan kandungan nilai nutrisi dalam Rotifera, terutama kandungan asam-asam lemak tak jenuh esensial seperti DHA (Docosa Hexaenoic Acid) dan EPA (Eicosa Pentaenoic Acid), dimana DHA dan EPA ini sangat dibutuhkan larva pada fase awal untuk perkembangan system syaraf, retina mata dan otak.  Bahan pengkayaan yang digunakan yaitu Bio-NR (hasil penelitian kerja sama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT bersama dengan Institut Pertanian Bogor/IPB), dengan dosis 0.9 g Bio-NR untuk 10 L media Rotifera dengan kepadatan Rotifera 500 ind/ml.  Lamanya pengkayaan 2 - 4 jam.  Pengkayaan juga bisa menggunakan 1 ml minyak cumi + 1 g ragi roti (yeast) + 0.2 g kuning telur  dan juga bisa ditambahkan 1 g vitamin C atau vit B kompleks,  kemudian ditambah air 200 ml dan diblender selama 30 detik.  Dosis ini juga sama, yaitu untuk media Rotifera 10 L dengan kepadatan Rotifera 500 ind/ml.  Selama pengkayaan juga dapat diberikan Oxytetracycline (OTC) 1 ppm, untuk mencegah kontaminasi bakteri.  
Rumus banyaknya volume air pada bak penampungan Rotifera yang diberikan pada bak pemeliharaan larva adalah sebagai berikut :


 Ket :
V      = Volume air pada bak penampungan Rotifera yang diberikan (L)
KRI   = Kepadatan Rotifera yang diinginkan pada bak larva (ind/ml)
KRS = Kepadatan Rotifera yang tersisa pada bak larva (ind/ml)
KRP = Kepadatan Rotifera pada bak Penampungan (ind/ml)


b. Artemia
Pada larva kerapu bebek naupli Artemia mulai diberikan pada umur D21 dengan kepadatan 0.2 - 0.5 ind/ml.  Sedangkan pada larva kerapu macan, naupli Artemia mulai diberikan pada umur D13.  Pemberian naupli Artemia ini dilakukan sampai umur D45.  Jumlah naupli Artemia yang diberikan harus habis dimakan larva setelah 1 jam, jika dalam 1 jam naupli Artemia belum habis dimakan, maka jumlah yang diberikan dikurangi, demikian pula sebaliknya.
Naupli Artemia sebelum diberikan juga bisa diperkaya dengan scout emulsion minyak ikan cod dan vitamin C dosis 100 ppm selama 2 - 4 jam.  Dan selama pengkayaan juga dapat diberikan OTC 1 ppm untuk mencegah kontaminasi bakteri, atau Acriflavin 2 ppm selama 30 menit untuk membunuh protozoa.

c. Pakan Buatan (pellet)
Untuk mencegah malnutrisi pada larva, maka pemberian pakan buatan harus dilakukan sedini mungkin dan pemberiannya sebelum mulai pemberian Artemia.  Pada larva kerapu bebek pakan buatan mulai diberikan pada umur D17, sedangkan untuk larva kerapu macan mulai diberikan pada umur D8.  Pakan buatan diberikan sedikit demi sedikit secara merata.  Ukuran partikel pakan buatan disesuaikan dengan perkembangan larva (lebar bukaan mulut) dan jumlah yang diberikan perhari disesuaikan dengan kemampuan larva memangsanya.  Jenis pakan buatan yang digunakan di hatchery BPPT adalah NRD INVE (Thailand) Ltd.  Di bawah ini disajikan skema manajemen pakan dan kualitas air pemeliharaan larva ikan kerapu bebek (gambar ).  Dan jadwal pemberian pakan disajikan pada tabel







Gambar . Skema manajemen pakan dan kualitas air pada pemeliharaan larva kerapu bebek




Tabel . Jadwal pemberian pakan pada pemeliharaan larva kerapu bebek



2.4 Manajemen Kualitas Air
2.4.1 Pergantian Air
Kualitas air dalam Pemeliharaan larva kerapu harus dikelola secara optimal.  Karena larva kerapu membutuhkan lingkungan air yang benar-benar bersih dan segar (fresh).  Untuk itu harus dilakukan pergantian air yang cukup berdasarkan perkembangan larva.  Pada umur D10 sampai D13 pergantian air dilakukan sebanyak 30%.  Selanjutnya >D13 pergantian air dilakukan secara terus-menerus atau sistem air mengalir (Flow Through System) sebanyak >100%.

2.4.2 Pembersihan Dasar Bak (Penyiponan)
Selama pemeliharaan larva, kualitas air harus selalu dijaga dengan baik yaitu dengan mengusahakan keadaan bak selalu bersih.  Untuk itu perlu dilakukan pembersihan dasar bak (penyiponan) bila terlihat dasar bak kotor dan pembersihan dinding, selang aerasi serta batu aerasi.  Kotoran berupa bahan organik ini berasal dari sisa pakan yang tidak termakan, kotoran larva (feses), serta Nannochloropsis, Rotifera dan larva yang mati akan terkumpul di dasar bak.  Akumulasi bahan organik ini dapat mengundang protozoa, jamur dan bakteri, jika tidak dilakukan penyiponan.  Khususnya larva yang mati di dasar bak, harus cepat dilakukan penyiponan untuk mencegah terjadinya serangan virus jenis Viral Nervous Necrosis (VNN).  Penyiponan dilakukan secara hati-hati supaya tidak terjadi pengadukan kotoran dasar.  Penyiponan dasar bak ini dilakukan dengan melihat kondisi larva dan dasar bak pemeliharaan.
Penyiponan dapat dilakukan pada saat larva baru menetas (umur D1) jika terlihat ada telur dan cangkang telur yang mengendap.  Penyiponan selanjutnya dapat dilakukan pada saat larva berumur D11, dan setelah larva diberi pakan buatan (pellet), penyiponan dilakukan setiap hari.



2.4.3 Pemberian Fitoplankton (Nannochloropsis sp.)
Fitoplankton yang diberikan ke dalam bak pemeliharan larva adalah Nannochloropsis sp. dengan kepadatan (10 - 15) x 106 sel/ml sebanyak 40-60 L.  Kepadatan Nannochloropsis sp. di bak larva dipertahankan (2 - 5) x 105 sel/ml.  Nannochloropsis sp. yang diberikan ini untuk makanan Rotifera dan mempertahankan warna air agar berwarna selalu hijau yang selanjutnya dapat meratakan intensitas cahaya dalam air.  Warna air hijau dapat menghindari terjadinya larva menggerombol di satu tempat dalam bak.
Larva kerapu sangat sensitif terhadap perputaran air (turbulence), oleh karena itu pemberian plankton harus dilakukan secara perlahan dengan menggunakan selang kecil selama beberapa jam.
Prosentase pergantian air yang cukup besar pada malam hari menyebabkan air bak pemeliharaan larva menjadi bening pada pagi hari, hal ini dikarenakan fitoplankton banyak yang keluar adanya sirkulasi air.  Sehingga warna air menjadi bening dan harus ditambahkan fitoplankton sebelum matahari terbit dan dibantu dengan pemberian penerangan lampu neon di atas bak untuk meningkatkan populasi fitoplankton.
Warna air yang bening akan menyebabkan larva menggerombol di satu tempat.  Hal ini akan menjadi masalah pada larva umur D10 - D25, karena larva sudah memiliki satu duri sirip punggung dan dua duri sirip perut yang memanjang bersamaan dengan bertambahnya umur larva.  Apabila larva menggerombol pada satu tempat, maka duri sirip tersebut akan saling mengait satu sama lain, sehingga menyebabkan banyak kematian larva.  Untuk itu harus selalu mempertahankan intensitas cahaya dan warna hijau pada air pemeliharaan larva, yaitu dengan penambahan fitoplankton.  Akibat prosentase pergantian air yang besar, selain penambahan fitoplankton juga dibantu dengan pemberian acriflavin 0.5 - 1 ppm.  Acriflavin ini berwarna hijau kekuningan dan berfungsi sebagai pewarna air dan sebagai bahan anatiseptik.


2.4.4 Pengaturan Suhu
Suhu air pemeliharaan larva kerapu di Hatchery BPPT Batam berkisar antara 28 - 31oC.  Dan kisaran ini baik layak untuk kelangsungan hidup larva.  Untuk menghindari fluktuasi suhu yang terlalu besar, maka bak pemeliharaan larva dibuat di dalam ruangan tertutup (indoor) dan pada malam hari bak ditutup menggunakan plastik transparan.

2.4.5 Pengaturan Cahaya
Cahaya diperlukan larva supaya dapat melihat dan memangsa terhadap pakan yang diberikan.  Larva pada stadia awal membutuhkan intensitas cahaya 1000 Lux dan fotoperiod lebih dari 12 jam untuk memburu pakan secara optimal.  Pengaturan pencahayaan bertujuan untuk memperpanjang aktivitas metabolism larva dan menjaga kesetabilan intensistas cahaya dalam aair.
Pencahayaan dilakukan dengan menggunakan lampu neon 40 watt sebanyak satu buah yang dipasang di atas bak pada jarak 40-60 cm dari permukaan air dan lampu neon ini dapat diatur ketinggiannya dari permukaan air.  Sebelum larva umur D12 pencahayaan lampu neon diatur supaya intensitas yang dihasilkan 1000 - 1500 Lux, sedangkan setelah larva umur D12 intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah 600 - 1000 Lux.  Lamanya penggunaan lampu neon adalah sebagai berikut :
- Umur D2-D5           : jam 06.00 (sebelum matahari terbit) - 22.00
- Umur D6                : jam 06.00 – 21.00
- Umur D7-D10         : jam 06.00 – 20.00
- Umur ≥D11            : jam 06.00 – 19.00
Penggunaan lampu neon juga dilengkapi dengan UPS (baterai penyimpan cadangan listrik), untuk menghindari lampu hidup dan mati secara tiba-tiba yang dapat menyebabkan larva kaget dan stress.




2.4.6 Pengaturan Aerasi
Pengaturan aerasi baik penempatan titik aerasi dan kecepatan aerasinya dilakukan berdasarkan perkembangan dan umur larva.  Larva sebelum umur D10, jumlah titik aerasi 4 buah dan ditempatkan merata di tengah bak.  Hal ini untuk menghindari kematian larva akibat benturan dengan dinding bak. Sedangkan setelah umur ≥D10, jumlah titik aerasi ditingkatkan menjadi 8 buah dan penempatan titik aerasi di pinggir atau menempel pada dinding bak, serta satu titik aerasi ditempatkan ditengah bak.
Pengaturan kecepatan aerasi pada larva umur D0 - D2 aerasi diberikan agak besar untuk menghindari telur atau larva mengendap di dasar bak.  Larva umur D3 - D10, kecepatan aerasi diperkecil sampai kecepatan sedang agar larva dapat memangsa Rotifera namun tidak bergerombol di satu tempat.  Larva umur D11 – D25, kecepatan aerasi ditambah sedikit demi sedikit untuk menghindari larva bergerombol di permukaan air.  Setelah larva berumur D25 - D45, larva sudah mulai berenang aktif dan bergerombol, maka aerasi harus dibesarkan sehingga dapat meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air.

2.4.7 Pemberian Minyak Cumi pada Permukaan Air Bak
Pemberian minyak cumi dilakukan dengan meneteskan minyak cumi di atas permukaan air sedikit demi sedikit menggunakan pipet tetes, agar minyak cumi tersebar merata dan tidak menggumpal.  Pada larva kerapu bebek, pemberian minyak cumi ini dilakukan pada umur D1 - D5.  Sedangkan pada larva kerapu macan pemberian minyak cumi sampai umur D10.  Dosis minyak cumi yang diberikan adalah 0.3 ml/m2 luasan permukaan air bak setiap harinya.  Pemberian dilakukan 2 kali sehari pada jam 06.00 dan 15.00.  Tujuan utama pemberian minyak cumi adalah  untuk mencegah kematian larva yang mengapung akibat terperangkap tegangan permukaan air.


2.4.8 Pengamatan Parameter Kualitas Air
Kualitas dalam pemeliharaan larva harus selalu terkontrol dan stabil, karena perubahan salah satu parameter kualitas air yang drastis atau mendadak dapat menyebabkan larva stress dan mudah terserang penyakit.  Sehingga dilakukan pengamatan kualitas air untuk mengetahui fluktuasi hariannya.  Pengamatan atau pengecekan parameter kualitas air dilakukan setiap hari selama pemeliharaan larva.  Untuk melihat kualitas air harian dilakukan pengecekan kualitas air pada pagi dan sore hari, sedangkan untuk melihat kualitas air bulanan pengecekan dilakukan setiap 2 jam sekali selama 24 jam.  Pengecekan bulanan ini dilakukan sebulan 2 kali (2 minggu sekali).  Di Hatchery BPPT, hanya dilakukan pengecekan kualitas air pada parameter fisika saja, seperti suhu, salinitas, pH, DO (oksigen terlarut), kekeruhan dan konduktifitas.  Pengukuran kualitas air menggunakan alat digital, sehingga lebih mudah, praktis dan cepat menghasilkan data.

2.5 Pengendalian Penyakit
Selama pemeliharaan larva kerapu, penyakit yang sering menyerang adalah penyakit yang disebabkan bakteri.  Jenis bakteri yang sering muncul adalah Vibrio sp. dan penyakitnya disebut vibriosis.  Bakteri Vibrio sp. merupakan patogen sekunder yang muncul akibat infeksi primer oleh protozoa.  Bakteri Vibrio sp. ini bersifat oportunis dan akan patogen jika larva atau juvenil dalam kondisi stress.  Juvenil yang terinfeksi vibriosis tubuhnya akan terlihat berwarna gelap, sedangkan untuk ikan yang lebih besar akan memperlihatkan luka pada permukaan tubuhnya.  Selain itu gejala lainnya adalah nafsu makan berkurang, berenang lemah, pembusukan pada sirip (fin rot), pangkal sirip ekor dan mulut merah, mata menonjol dan terjadi penggumpalan cairan pada perut (perut kembung).  Pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman Acriflavin 10 ppm selama 2 jam atau dengan perendaman Oxytetracycline 10 ppm selama 1 jam selama 5 hari berturut-turut.
Selain penyakit vibriosis juga ada penyakit yang disebabkan oleh virus.  Penyakit virus yang sering menyerang pada larva kerapu adalah VNN (Viral Necrotic Nervous) yang disebabkan oleh nodavirus.  Virus ini menyebabkan kematian massal pada larva atau juvenil, dengan ciri-ciri mula-mula tenggelam di dasar bak kenudian akan mengapung di permukaan air dengan perut menggembung.  VNN sampai sekarang  tidak ada obatnya dan hanya bisa dilakukan upaya pencegahannya.
Upaya pencegahan terhadap penyakit yang dilakukan di Hatchery BPPT yaitu sterilisasi air laut menggunakan UV (ultra violet), sterilisasi semua peralatan dan fasilitas dengan bahan disinfektan berupa kaporit 100 ppm,  penebaran telur yang bebas VNN (berdasarkan hasil deteksi Polymerase Chain Reaction/PCR), perendaman telur dengan iodin 20 ppm selama 15 menit,  mengurangi kepadatan larva, menghindari larva stress dengan menjaga kualitas air yang baik serta kualitas dan kuantitas pakan,  pemberian Oxytetracycline 1 ppm selama pengkayaan pakan alami, pemberian elbazine 1 ppm seminggu sekali pada media pemeliharaan larva untuk mencegah kontaminasi bakteri, dekapsulasi siste Artemia dengan kaporit, dan perendaman larva atau juvenil dengan larutan vaksin polivalen Vibrio selama 30 menit dengan aerasi kuat  Kepadatan juvenil pada saat perendaman 200 ekor/10 L air laut.

3.  PANEN JUVENIL DAN GRADING
Juvenil ikan kerapu memiliki sifat berenang mengelilingi bak.  Pemanenan juvenil ikan kerapu bebek dilakukan pada umur D45 dengan kisaran panjang 2 - 3 cm.  Pemanenan  dilakukan dengan menurunkan air bak secara perlahan-lahan sampai ketinggian air mencapai 20 cm.  Setelah itu juvenil diserok menggunakan serokan (scoop net), kemudian juvenil ditampung di baskom/keranjang yang diberi aerasi.
Juvenil yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan ukurannya (grading).  Grading merupakan upaya untuk menyeragamkan pertumbuhan juvenil dan meminimalisasi kematian akibat kanibalisme.  Karena sebagai ikan karnivora, kerapu memiliki sifat untuk saling memangsa.  Sifat kanibalisme kerapu macan lebih besar dibanding kerapu bebek, hal ini disebabkan lebar bukaan mulut kerapu macan ukurannya lebih besar.  Kanibalisme ini muncul akibat kekurangan makanan dan perbedaan ukuran ikan, sehingga ikan yang berukuran besar cenderung memangsa ikan yang berukuran lebih kecil.  Juvenil atau benih yang sudah digrading selanjutnya dihitung jumlahnya untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup larva (survival rate/SR).
Tingkat kelangsungan hidup (SR) larva ikan kerapu bebek sampai ukuran juvenil masih cukup rendah yaitu 0.4% dan masih cukup jauh dari target yang dingin dicapai 10%.  Hal ini disebabkan volume bak pemeliharaan larva relatif kecil dan tidak standar (kurang dari 10 ton), ditambah kualitas sumber air laut di teluk Tanjung Riau Batam kurang bagus, tingkat kekeruhan tinggi, sudah banyak tercemar limbah industri maupun rumah tangga yang berpengaruh pada jeleknya mutu parameter kimia air laut, dan salinitas air laut yang rendah berkisar 28 - 31ppt.  Apabila salinitas air laut menurun secara drastis akibat hujan deras, dapat menyebabkan kerusakan pada telur yang dipijahkan.   Pemijahan induk, penetasan dan pemeliharaan larva ikan kerapu bebek sangat baik pada salinitas tinggi antara 30 - 35 ppt. Selain kualitas air yang kurang bagus yang menyebabkan SR rendah adalah serangan penyakit bakterial dan ketersediaan plankton (Nannochloropsis sp dan Rotifera) yang kurang dari segi kualitas maupun kuantitas.  Karena ketersediaan pakan hidup yaitu plankton merupakan kunci utama keberhasilan kegiatan pembenihan.

4.  PENDEDERAN BENIH
4.1 Pemeliharaan Benih (Pendederan)
 Pendederan benih ikan kerapu biasanya dibagi menjadi dua yaitu pendederan I dan pendederan II.  Pendederan I ikan yang dipelihara mulai dari juvenil ukuran 2 - 3 cm sampai ukuran 5 - 7cm dengan lama pemeliharaan 1,5 - 2 bulan.  Sedangkan pada pendederan II ikan yang dipelihara dari ukuran 5 - 7 cm sampai 10 - 15 cm dengan lama pemeliharaan 2 - 3 bulan.  Kepadatan yang dipakai untuk pemeliharaan pada pendederan I adalah 600 ekor/m3 dan kepadatan untuk pendederan II adalah 400 ekor/ m3.  Kepadatan ini adalah kepadatan yang optimum untuk pendederan, jika kepadatan juvenil terlalu tinggi ikan gampang stress dan dapat mudah terserang penyakit bakterial maupun virus.
Juvenil ikan kerapu bebek pada masa-masa awal pemeliharaan masih berenang mengelilingi bak.  Setelah itu juvenil akan cenderung berkumpul di dasar bak, sehingga tidak perlu menggunakan ukuran bak besar untuk pendederan.  Bak yang dipakai berukuran 2, 3, 5 dan 10 m3 (ton).  Bentuk bak pemeliharaan baik berbentuk bulat atau persegi panjang dapat digunakan dan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (sama).

4.2 Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan berupa pakan buatan (pellet) dan ikan rucah yang dipotong-potong berdasarkan lebar bukaan mulut ikan.  Sirip, duri, tulang, jeroan dan kepala ikan rucah sebelumnya dibuang dahulu sebelum dipotong-potong.  Jenis ikan rucah yang sering diberikan adalah ikan benggol, kembung dan mata besar.  Pemberian pellet dapat dilakukan setiap 3 - 4 jam sekali sehari secara ad-satiation (sekenyang-kenyangnya) dan ikan rucah mulai diberikan sebanyak 1 - 2 kali sehari pada pendederan II.  Ukuran butiran pellet yang diberikan harus disesuaikan dengan lebar bukaan mulut ikan dan biasanya setiap 10 - 14 hari sekali, ukuran butiran pellet yang diberikan akan berubah setahap demi setahap menjadi ukuran yang lebih besar.  Pemberian ukuran pellet ini bersifat relatif, tergantung dari pertumbuhan ikan. 
Pemilihan jenis pakan buatan komersil harus didasarkan pada kandungan nutrisinya (protein min 45%) dan harga.  Hatchery BPPT selain menggunakan pellet komersil juga memakai pellet rusnas (Riset Unggulan Strategi Nasional), yaitu hasil penelitian kerja sama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT bersama dengan Institut Pertanian Bogor/IPB).  Pellet rusnas memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pellet komersil, baik dari segi Survival Rate (SR), pertumbuhan maupun ketahanan benih terhadap penyakit.
Jumlah pakan dan berat ikan yang mati setiap harinya harus dicatat dalam buku data, untuk mengetahui konversi pakan (feed conversion ratio/FCR), efisiensi pakan (EP), dan tingkat pemberian pakan (feeding rate/FR) pada akhir pemeliharaan.  Di bawah ini disajikan rumus-rumus FCR, EP dan FR :
1.    

BBM = Bobot biomassa ikan

2.    

3.      atau

4.    

Pada pendederan I ikan kerapu bebek rata-rata FCR yang diperoleh adalah 1,20 dengan efisiensi pakan sebesar 83,33% dan FR 5,61%, sedangkan pada pendederan II FCR rata-rata 1,19 dengan Efisiensi pakan 84,17% dan FR 4,36%.  FCR 1,20 berarti untuk menghasilkan 1 kg daging ikan dibutuhkan sebanyak 1,20 kg pakan.  Nilai FCR ini masih tergolong kecil dan masih baik untuk pendederan.

4.3 Pengelolaan Kualitas Air
Pemberian pellet dengan kandungan protein yang tinggi maupun pemberian ikan rucah, menyebabkan kualitas air cepat jelek dan kotor.  Untuk itu dalam kegiatan pendederan ini menggunakan sistem air mengalir dengan pergantian air minimal 400%.  Air yang digunakan untuk bak pendederan adalah air yang sudah melewati mesin UV dan sebelum masuk bak air di filter dulu dengan filter bag ukuran 5 µm, untuk menyaring sisa partikel-partikel tersuspensi. 
Pembersihan dasar bak (sipon) dilakukan dua kali setiap hari yaitu pagi dan sore setelah pemberian pakan, tujuannya untuk membersihkan dasar bak dari feses ikan, sisa pakan, ikan mati maupun bahan-bahan organik lainnya.  Karena kotoran-kotoran yang terakumulasi di dasar bak jika tidak dibersihkan, maka pada malam harinya akan terdekomposisi dan mudah memunculkan serangan penyakit bakterial.  Setelah disipon dilakukan penyikatan dinding dan dasar bak, serta penurunan ketinggian air sampai 70% agar kualitas air tetap baik (bersih dan tidak keruh).

4.4 Pengendalian Penyakit dan Parasit
Pencegahan terhadap serangan penyakit dan parasit dilakukan dengan memanajemen dengan baik pengelolaan kualitas air, pemberian pakan yang cukup mutu dan jumlahnya, dan padat penebaran ikan yang tidak terlalu tinggi.  Selain itu kegiatan rutin yang sering dilakukan adalah perendaman benih dalam air tawar selama 5 - 10 menit, bisa juga ditambahkan acriflavine 10 ppm dan atau formalin 200 ppm.  Biasanya setelah direndam, parasit yang menempel pada permukaan tubuh, mata dan insang ikan akan lepas.  Perendaman ini dilakukan satu kali setiap bulan.  Jika terlihat benih ada yang sakit, maka benih tersebut langsung direndam dan diobatin, setelah itu dipelihara di bak terpisah untuk mengurangi tingkat penularan penyakit ke benih yang sehat.
Hatchery BPPT selain menerapkan usaha-usaha pengendalian penyakit seperti yang dijelaskan di atas, juga dilakukan kegiatan vaksinasi dengan vaksin polivalen Vibrio.  Vaksinasi dilakukan 3 kali yaitu vaksinasi pertama pada juvenil ukuran 2 - 3 cm dilakukan dengan metode perendaman, dimana juvenil direndam dengan larutan vaksin selama 30 menit dengan aerasi kuat.  Vaksinasi kedua pada benih ukuran 10 - 15 cm dilakukan dengan metode suntikan, vaksin disuntikkan secara intraperitoneal di bagian tengah perut, tepat di atas sirip perut dan di bawah operkulum dengan dosis 0,1 ml/ikan.  Vaksinasi yang ketiga dilakukan seminggu setelah vaksinasi kedua dengan cara yang sama yaitu metode suntikan.  Benih dapat ditebar ke keramba satu minggu setelah vaksinasi yang ketiga.  Benih minimal divaksin sebanyak 2 kali.

4.5 Grading dan Sampling
Grading atau pemilahan ukuran adalah salah satu kegiatan dalam pendederan untuk menyeleksi sekaligus memilah-milah benih sesuai dengan ukurannya.  Tujuannya untuk mendapatkan benih yang seragam (seukuran) dengan bentuk tubuh yang ideal (tidak cacat) dan untuk mengurangi sifat kanibalisme (saling memangsa).  Sifat kanibal ini akan sedikit berkurang pada ikan yang berukuran sama atau seragam.  Tetapi sifat saling memangsa pada pemeliharaan benih ikan kerapu bebek ini tidak menjadi kendala utama penyebab kematian, karena sifat kanibalismenya relatif kecil jika dibandingkan pada ikan kerapu macan.    Benih biasanya dipisahkan menjadi 3 ukuran, yaitu ukuran small (S), medium (M) dan large (L).  Benih-benih yang memiliki ukuran berbeda-beda ini kemudian dihitung dan dipelihara pada bak yang terpisah.  Grading dapat dilakukan sebanyak 1 - 2 kali dalam sebulan, tergantung dari pertumbuhan dan perbedaan ukuran benih.
Sampling biasanya dilakukan setelah kegiatan grading, dengan mengambil 30 ekor dari masing-masing ukuran benih kemudian diukur panjang dan beratnya.  Dengan kegiatan grading dan sampling yang rutin dapat diketahui survival rate (SR), pertumbuhan relatif (α) maupun bobot biomassa (BBM) benih.  Rumus untuk mengetahui SR, pertumbuhan relatif dan bobot biomassa disajikan di bawah ini :

1.    

2.    

        t = waktu atau lamanya pemeliharaan ikan (hari)

3.    

4.    

Survival rate (SR) rata-rata pada pendederan I ikan kerapu bebek berkisar 90% dengan pertumbuhan relatif sebesar 4,36%.  Sedangkan pada pendederan II SR rata-rata berkisar 80 - 90% dengan pertumbuhan relatif 3,67%.   SR ini masih cukup baik untuk kegiatan pendederan kerapu bebek.  Kematian pada pendederan kerapu bebek biasanya terjadi pada awal pemeliharaan maupun akhir pemeliharaan yang disebabkan oleh penyakit bakterial.  Sedangkan pada pendederan kerapu macan, selain disebabkan penyakit bakterial juga sifat kanibalisme yang tinggi.






  


 

No comments:

Post a Comment