1. TEKNIK PEMELIHARAAN DAN PEMIJAHAN INDUK
1.1 Pemeliharaan Induk
Induk-induk ikan kerapu bebek dipelihara dalam
bak fiber berbentuk bulat dengan volume 50 ton (diameter m dan
kedalaman m). Bak dilengkapi dengan 20 titik aerasi dan pipa
pemasukan air (inlet) 1 “ yang memiliki debit air L/menit,
pipa pengeluaran air (outlet) bawah 4”, pipa
outlet atas 2 “ yang terletak tepat di atas bak penampungan telur, serta bak
penampungan telur dengan dimensi 0,6 x 0,6 x 0,6 m. Bak pemeliharaan induk ini juga sekaligus
merupakan bak pemijahan.
Induk yang dipelihara berjumlah 42 ekor yang terdiri
dari 22 ekor F1 Situbondo (berat 1,2 - 1,7 kg),
12 ekor F2 Situbondo (berat 0,9 - 1,1 kg) dan 8 induk dari alam (berat 1,8 –
3,2 kg). Adanya induk-induk yang
unggul ini diharapkan dapat menghasilkan benih-benih yang berkualitas, baik
dari segi kelangsungan hidupnya, ketahanan terhadap penyakit maupun dari
pertumbuhannya. Induk-induk kerapu bebek
yang dipelihara diberi nomor tagging dengan menyuntikkan microchip di punggung tepat di bawah sirip dorsal, tujuannya untuk
memudahkan melihat pertumbuhan dan kesiapan induk memijah dari masing-masing
induk. Kegiatan vaksinasi, sampling
bobot dan panjang induk dapat dilakukan setiap 2 - 3 bulan sekali.
Pada saat menjelang musim pemijahan (bulan
gelap), induk dipindah ke bak penampungan sementara. Bak dikuras dan teritip yang menempel
dibersihkan, kemudian bak disterilisasi dengan kaporit dosis 10.000 ppm yang
dilarutkan ke dalam 10 L air tawar dan disiramkan ke dinding maupun dasar bak
sambil dilakukan penggosokan dengan sikat agar lumut yang menempel mati. Terakhir bak dicuci bersih menggunakan air
tawar. Bak ini diisi air laut kembali
sampai penuh sehingga induk dapat dimasukkan kembali ke dalam bak.
1.2 Manajemen Pemberian Pakan
Induk harus diberi pakan yang memiliki
kandungan nutrisi yang cukup tinggi dan lengkap, karena dapat berpengaruh
terhadap pematangan gonad dan kualitas telur yang dihasilkan, yang selanjutnya
akan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup larva. Induk diberi pakan ikan rucah segar seperti
ikan benggol, kembung dan mata besar. Dan
sangat dianjurkan untuk memberikan pakan cumi selain ikan rucah pada induk sebanyak
2 kali seminggu. Sebelum diberikan, ikan
rucah dipotong-potong sesuai lebar bukaan mulut induk serta kepala, isi perut
dan ekor ikan dibuang. Pemberian pakan
dilakukan secara at-satiation
(sekenyangnya) dengan dosis pemberian pakan 3 -
5% dari bobot biomassa induk dan diberikan satu kali per hari (pagi
hari). Jumlah pakan per hari yang
biasanya dimakan hingga kenyang oleh 42 ekor induk dengan berat rata-rata 1,5 -
2 kg adalah 2 - 3 Kg. Pemberian jenis ikan rucah ini juga
dianjurkan saling bergantian dan bisa diberikan campuran dari beberapa jenis
ikan. Pemberian pakan induk cukup dilakukan
5-6 kali seminggu dan diselingi dengan pemuasaan induk satu hari, hal ini
dimaksudkan agar nafsu makan induk selalu bagus.
Untuk menjaga kesehatan induk dan memacu kematangan
gonad, setiap hari induk juga diberikan moist pellet (hasil penelitian kerja sama
antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT bersama dengan Institut
Pertanian Bogor/IPB), serta diberi vitamin B, C dan E yang dimasukkan ke dalam
kapsul. Pemberian vitamin ini dilakukan
sebanyak 2 kali seminggu dengan dosis 40
mg/bobot biomassa induk. Moist pellet dan kapsul vitamin ini dimasukkan
ke dalam ikan rucah maupun cumi sebelum diberikan induk.
Ikan rucah, cumi dan moist pellet harus benar-benar segar dan sebaiknya di simpan dalam
freezer suhu -18oC. Karena
pakan yang tetap segar nutrisinya juga akan tetap baik dan dapat menjaga induk
selalu sehat.
1.3 Manajemen Kualitas Air
Sirkulasi air pada bak induk dilakukan secara
terus menerus atau sistem air mengalir dengan pergantian air minimal 200% per
hari. Untuk menjaga agar kualitas air
tetap baik, setiap 2 hari sekali air diturunkan sampai 70% setelah pemberian
pakan, sambil dinding dan dasar bak disikat.
Hal ini bertujuan untuk membuang lumut yang menempel dan sisa kotoran
induk. Pengaturan pembuangan air atas
dan air bawah juga dilakukan agar kualitas air dalam bak induk tetap baik,
siang hari dilakukan pembuangan air bawah dan malam hari dilakukan pembuangan
air atas. Bak pemeliharaan dan pemijahan
induk dikuras dan dibersihkan setiap 2 minggu sekali.
1.4 Pemijahan Induk
Ikan kerapu bebek termasuk ikan yang hermaprodit protogini, yaitu dapat
berganti jenis kelamin dari kelamin betina berubah menjadi kelamin jantan. Pada ikan-ikan yang berukuran kecil berjenis
kelamin betina dan setelah besar sampai ukuran tertentu berubah menjadi kelamin
jantan. Biasanya ikan yang memiliki
berat ±1 Kg sudah bisa menjadi induk betina, sedangkan untuk induk jantan
minimal memiliki berat 3 Kg.
Keberhasilan pemijahan induk kerapu bebek ini
sangat tergantung dari manajemen pakan, lingkungan dan rangsangan
hormonal. Pemijahan ikan kerapu dapat
dilakukan dengan pemijahan alami (natural
spawning), pemijahan buatan (artificial
spawning), dan pemijahan dengan rangsangan hormonal (induced spawning). Dari
ketiga metode pemijahan di atas, yang menghasilkan kualitas telur terbaik
adalah dengan pemijahan alami.
Menjelang musim pemijahan (bulan gelap),
dilakukan pengamatan jenis kelamin dan seleksi tingkat kematangan induk dengan
metode kanulasi, yaitu dengan memasukkan selang kanula atau kateter yang
berdiameter 0,8 - 1 mm ke dalam lubang genital sedalam 4 - 6 cm, lalu dihisap
dan dicabut secara perlahan-lahan. Induk
dibius dulu dengan MS22 atau minyak cengkeh sebelum dilakukan kanulasi. Induk betina yang siap dipijahkan memiliki
diameter telur 400 - 500 µm, sedangkan induk jantan terlihat cairan sperma
berwarna putih susu pada selang kanula. Metode
kanulasi biasanya dilakukan bersamaan dengan pemindahan induk ke bak
penampungan sementara saat bak utama dikuras dan dibersihkan. Induk-induk yang siap dipijahkan ini yang
nantinya akan diberikan rangsangan hormonal.
Perbandingan induk jantan dan betina adalah 1:2.
Di hatchery BPPT, pemijahan dilakukan dengan
metode gabungan yaitu natural spawning dan induced spawning. Di mana induk yang sudah diseleksi selain
dipijahkan secara alami dengan manipulasi lingkungan, induk juga disuntik
dengan hormon human chorionic gonadotropin
(HCG) dan hormon puberogen (Pb).
Pemijahan alami (natural spawning) yang dilakukan adalah dengan memanipulasi
lingkungan, yaitu dengan menurunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan induk
sampai ±70% pada pagi hari setelah pemberian pakan dan dibiarkan selama 5 - 7
jam dimana sirkulasi air terus dilakukan.
Setelah itu ketinggian air dinaikkan kembali seperti semula. Penurunan ketinggian air dan penjemuran bak ini
dapat menaikkan suhu air di dalam bak sebesar ±1 - 3oC. Dan akan terjadi penurunan suhu kembali pada
saat penaikan ketinggian air. Kondisi
ini yang dapat merangsang induk untuk memijah.
Perlakuan naik turun ketinggian air ini dilakukan setiap hari sejak
induk dimasukkan ke dalam bak pemeliharaan menjelang musim pemijahan. Sedangkan untuk pemijahan rangsangan hormonal
(induced spawning) adalah dengan
menyuntikkan hormon human chorionic
gonadotropin (HCG) dengan dosis 250 IU/kg berat induk dan hormon puberogen (Pb) dengan dosis 150 IU/kg
berat induk. Penyuntikan dilakukan
selama 2 hari berturut-turut, pada hari pertama dosis HCG 250 IU/kg berat induk dan dosis Pb 150 IU/kg berat induk,
sedangkan pada penyuntikkan hari kedua dosis HCG maupun Pb dinaikkan menjadi
dua kali lipat yaitu HCG 500 IU/kg berat induk
dan Pb 300 IU/kg berat induk.
Penyuntikkan dilakukan secara intramuscular
di bagian punggung di bawah sirip dorsal, dimana masing-masing hormon
disuntikkan pada bagian punggung yang berbeda (kanan dan kiri).
Pemijahan ikan kerapu biasanya terjadi pada bulan
gelap (antara tanggal 25-5 bulan lunar) dan terjadi pada malam hari sekitar jam
22.00 - 02.00 WIB. Telur yang dibuahi
akan mengapung di permukaan air dan akan terbawa keluar mengikuti aliran air
bagian atas kemudian telur akan tersaring pada jaring pengumpul telur (eggs collector) yang diletakkan di luar
bak induk. Eggs collector ini terbuat dari jaring yang lembut dengan ukuran
mata jaring berkisar antara 300 - 400 µm.
Eggs collector ini dipasang
pada sore hari dan telur yang terapung dalam eggs collector dipanen pada pagi hari sekitar jam 07.00 - 08.00
WIB.
Telur ikan kerapu hasil pemijahan yang baik
akan melayang dipermukaan air, transparan dan berbentuk bulat dengan diameter
800 - 900 µm. Sedangkan telur yang jelek
dan tidak terbuahi akan mengendap di dasar dan berwarna putih susu (keruh).
1.5 Pengendalian Penyakit
Pemeliharaan induk harus selalu terkontrol
dengan baik, salah satu faktor yang tidak kalah penting adalah kegiatan
pengendalian penyakit pada induk.
Pengendalian berbagai jenis penyakit dan parasit ini akan menunjang
kelangsungan hidup dan peningkatan produksi telur induk. Penyakit dan parasit akan muncul jika kondisi
lingkungan pemeliharaan kurang baik (kotor) dan mutu pakan yang rendah serta
besarnya prosentase pergantian air laut, karena air laut hanya dilewatkan pada
filter fisik dan tidak menggunakan mesin UV.
Kegiatan pengendalian penyakit dan parasit ini
dilakukan dengan pengelolaan kualitas air yang baik. Setiap hari bak disikat bersamaan dengan
penurunan ketinggian air sampai 70%, sehingga sisa-sisa kotoran dapat
terbuang. Setiap 2 minggu sekali bak
dikuras dan disterilisasi dengan kaporit.
Bersamaan dengan pembersihan bak ini, induk ditreatmen dengan direndam air tawar selama 5 - 10 menit dengan aerasi
kencang, bisa juga ditambahkan acriflavine 50 ppm dan atau formalin 200 ppm. Perendaman ini untuk menghilangkan parasit
yang menempel pada permukaan tubuh, mata maupun insang ikan. Parasit yang sering menyerang adalah golongan
krustasea (copepod : Caligus sp.),
trematoda (skin fluke : Benedenia
sp.), Leeches (lintah) dan protozoa.
Pencegahan penyakit ini juga dilakukan dengan
cara vaksinasi induk menggunkan vaksin polivalen Vibrio (hasil penelitian
kerja sama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT bersama dengan
Universitas Gajah Mada/UGM). Caranya
induk disuntik dengan larutan vaksin
polivalen vibrio secara intramuscular
di bagian punggung di bawah sirip dorsal dengan dosis 0,5 ml/induk. Kegiatan
vaksinasi dilakukan rutin setiap 3 bulan sekali.
2. TEKNIK PEMELIHARAAN LARVA
2.1 Persiapan Bak
Bak yang digunakan dalam pemeliharaan larva
memiliki kapasitas 2 m3 (ton).
Ukuran ini digunakan untuk target produksi 1000-1500 ekor juvenil ikan kerapu
bebek, tetapi target ini belum bisa tercapai akibat beberapa kendala dari mulai
kualitas air, penyakit dan pakan alami.
Bak berbentuk bulat
dengan diameter 2 m dan kedalaman 1 m, dilengkapi pipa inlet 1” dan pipa outlet
2”, dan bak dicat dengan warna biru muda.
Bak terletak di dalam ruangan tertutup (indoor)
supaya tidak terkena hujan dan sinar matahari langsung. Untuk menghindari fluktuasi suhu, maka bak
ditutup dengan plastik transparan. Tutup
plastik ini dibuka pada siang hari dan ditutup pada malam hari.
Persiapan bak pemeliharaan larva memegang
peranan yang sangat penting di dalam usaha pembenihan ikan kerapu. Tujuan utama dari persiapan bak ini adalah
untuk mematikan organisme penyakit (patogen).
Sebelum bak digunakan harus disterilisasi atau didesinfektan menggunakan
larutan kaporit/Ca(OCl)2 (bahan aktif 60%) dengan dosis 10.000 ppm
yang dilarutakan ke dalam 10 L air tawar.
Dinding dan dasar bak disiram menggunakan larutan kaporit, dan dibiarkan
beberapa menit sampai dinding berwarna keputihan (lumut mati), lalu dilakukan
penggosokan menggunakan sikat. Bak dan
peralatan (selang dan batu aerasi) kemudian direndam dengan larutan kaporit 100
ppm selama 1 hari. Setelah 1 hari bak
pemeliharaan dan peralatan dicuci dengan deterjen. Setelah itu baru dibilas dengan air
tawar. Terakhir bak dikeringkan dan
ditutup dengan terpal atau plastik.
Bak yang siap digunakan diisi air yang sudah melewati mesin UV (Ultra violet), yang sebelumnya air
disariang dulu menggunakan filter bag
(ukuran 5 µm) yang diikatkan pada ujung pipa inlet.
2.2 Seleksi, Penebaran dan
PenetasanTelur
Setelah
persiapan bak selesai, dilakukan seleksi telur.
Seleksi dan penangan telur merupakan langkah awal menuju keberhasilan
produksi benih ikan kerapu. Kesalahan
dalam penanganan telur dapat menyebabkan kerusakan pada telur.
Telur yang telah tertampung di eggs collector dan sudah pada stadia
embrio dipindahkan ke ember menggunakan gayung untuk kemudian ditaruh di
akuarium. Pemindahan telur harus pelan-pelan
dan hindari telur kontak langsung dengan udara.
Seleksi telur dilakukan dengan cara mengangkat aerasi dan mendiamkan
telur selama ± 5 - 10 menit. Telur yang jelek
(tidak terbuahi) berwarna putih susu dan akan mengendap di dasar akuarium,
sedangkan telur yang baik akan mengapung di permukaan berwarna putih
transaparan, bulat dengan diameter 800 – 900 µm. Telur-telur yang mengendap selanjutnya
disipon. Kemudian telur yang sudah terseleksi
dihitung jumlahnya dengan metode volumetrik dengan sampling sebanyak 5 kali
pada tempat yang bebeda. Di bawah ini
adalah rumus untuk menghitung jumlah telur :
Telur yang sudah dihitung jumlahnya kemudian
direndam dengan larutan iodin 60 ppm selama 15
menit sebagai desinfektan.
Kemudian telur siap untuk ditebar langsung ke bak penetasan dan
pemeliharaan larva. Penebaran dilakukan
secara hati-hati dengan kepadatan dalam bak 10
butir/liter. Rumus volume air pada
bak penampungan telur (akuarium) yang akan dipindahkan ke bak penetasan (V)
adalah sebagai berikut :
Telur kerapu bebek akan menetas antara 18 - 20
jam setelah pembuahan pada suhu 27 - 29oC dengan panjang total 2 mm. Setelah larva menetas, telur dan cangkang
yang mengendap di dasar bak disipon untuk menghindari timbulnya protozoa, jamur
maupun bakteri. Telur yang sudah menetas
menjadi larva disebut larva day nol
(D0) sedangakn larva yang berumur satu hari dari telur menetas adalah day 1 (D1). Larva kerapu umur D1 akan menyebar merata, kemudian
larva yang menetas dihitung jumlahnya dengan metode volumetrik dengan sampling
sebanyak 3 kali pada tempat yang bebeda.
Air sampel diambil dengan cara mencelupkan pipa PVC tegak lurus ke dalam
bak (diameter pipa 1,5 inci dan panjang 0,5 m).
Volume air dan jumlah larva yang terambil dalam air sampel
dihitung. Kepadatan larva di bak dapat
dihitung berdasarkan konversi jumlah larva per satuan volume air sampel. Penghitungan ini selain untuk mengetahui
jumlah larva, juga untuk menentukan prosentase hatching rate (HR). Apabila HR kurang dari 70% maka larva dibuang (flushing). Hal ini disebabkan kualitas telur yang jelek
dan apabila terus dipelihara maka, larva banyak yang cacat, lemah dan akhirnya
mati. HR rata-rata di hatchery adalah 80%, dan nilai ini masih bagus untuk ukuran derajat
penetasan telur ikan kerapu bebek. Rumus
HR adalah sebagai berikut :
Pada larva umur D1, permukaan air pemeliharaan
ditetesi minyak cumi sebanyak 0.3 ml/m2/hari
sampai umur D5 untuk larva kerapu bebek, sedangkan pada larva kerapu macan
sampai umur D10. Minyak cumi diberikan dua
kali sehari yaitu pada jam 06.00 dan 15.00.
2.3 Manajemen Pemberian Pakan
Larva
kerapu yang baru menetas akan memiliki cadangan makanan yang berupa kuning
telur (yolk egg). Selama kuning telur ini belum habis diserap,
maka larva kerapu belum mengambil makanan dari luar tubuhnya. Rata-rata pada larva ikan kerapu, kuning
telur mulai terserap habis 71 jam setelah menetas, sedangkan larva mulai makan
sampai semua larva makan adalah 69 - 92.5 jam setelah penetasan. Sehingga larva mulai diberi makanan dari luar
(exogenous feeding) pada umur D3,
seiring sudah tebentuknya mulut dan saluran pencernaan. Keterlambatan pemberian pakan ini akan
menyebabkan point of no return, yaitu
titik yang tidak dapat balik lagi, dimana larva akan mati akibat tidak
mendapatkan energi pertama kali dari luar tubuhnya, sehingga larva tidak
terlatih untuk makan meskipun diberi pakan.
Tiga jenis pakan yang sering digunakan dalam
pemeliharaan larva kerapu yaitu Rotifera,
Artemia dan pakan buatan
(pellet). Rotifera yang sering diberikan adalah tipe–SS dengan panjang lorika 120 - 140 µm dan tipe-S
dengan panjang lorika 140 - 200 µm.
Sedangkan naupli Artemia
memiliki ukuran 450 - 500 µm. Di bawah
ini akan dijelaskan cara pemberian pakan larva menggunakan tiga jenis pakan
tesebut di atas :
a.
Rotifera (Brachionus sp.)
Untuk
larva kerapu bebek, Rotifera tipe-SS
mulai diberikan pada larva pada umur D3 - D5 dengan kepadatan 5 - 6 ind/ml.
Mulai umur D5 larva diberi Rotifer
tipe-S dengan kepadatan 7 - 9 ind/ml. Penambahan Rotifera dilakukan apabila kepadatan Rotifera kurang dari 5 ind/ml. Rotifera
diberikan pada larva sampai umur D30.
Sedangkan pada larva kerapu macan, Rotifera
diberikan pada larva mulai umur D2 dengan kepadatan 3 - 5 ind/ml, dan kepadatan
ini terus dipertahankan sampai umur D30.
Sebelum Rotifera
diberikan dilakukan pengkayaan (enrichment). Tujuan dari pengkayaan ini adalah untuk
meningkatkan kandungan nilai nutrisi dalam Rotifera, terutama kandungan
asam-asam lemak tak jenuh esensial seperti DHA (Docosa Hexaenoic Acid) dan EPA (Eicosa
Pentaenoic Acid), dimana DHA dan EPA ini sangat dibutuhkan larva pada fase
awal untuk perkembangan system syaraf, retina mata dan otak. Bahan pengkayaan yang digunakan yaitu Bio-NR (hasil penelitian kerja sama antara
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT bersama dengan Institut Pertanian
Bogor/IPB), dengan dosis 0.9 g Bio-NR untuk 10
L media Rotifera dengan kepadatan Rotifera 500 ind/ml. Lamanya pengkayaan 2 - 4 jam. Pengkayaan juga bisa menggunakan 1 ml minyak
cumi + 1 g ragi roti (yeast) + 0.2 g kuning telur dan juga bisa ditambahkan 1 g vitamin C atau
vit B kompleks, kemudian ditambah air
200 ml dan diblender selama 30 detik.
Dosis ini juga sama, yaitu untuk media Rotifera 10 L dengan kepadatan Rotifera
500 ind/ml. Selama pengkayaan juga dapat
diberikan Oxytetracycline (OTC) 1 ppm, untuk mencegah kontaminasi bakteri.
Rumus banyaknya volume air pada bak penampungan
Rotifera yang diberikan pada bak
pemeliharaan larva adalah sebagai berikut :
Ket :
V =
Volume air pada bak penampungan Rotifera
yang diberikan (L)
KRI =
Kepadatan Rotifera yang diinginkan
pada bak larva (ind/ml)
KRS = Kepadatan Rotifera yang tersisa pada bak larva (ind/ml)
KRP = Kepadatan Rotifera pada bak Penampungan (ind/ml)
b.
Artemia
Pada larva kerapu bebek naupli Artemia mulai diberikan pada umur D21
dengan kepadatan 0.2 - 0.5 ind/ml. Sedangkan pada larva kerapu macan, naupli Artemia mulai diberikan pada umur
D13. Pemberian naupli Artemia ini dilakukan sampai umur D45. Jumlah naupli Artemia yang diberikan harus habis dimakan larva setelah 1 jam,
jika dalam 1 jam naupli Artemia belum
habis dimakan, maka jumlah yang diberikan dikurangi, demikian pula sebaliknya.
Naupli Artemia
sebelum diberikan juga bisa diperkaya dengan scout emulsion minyak ikan cod dan
vitamin C dosis 100 ppm selama 2 - 4 jam.
Dan selama pengkayaan juga dapat diberikan OTC 1 ppm untuk mencegah
kontaminasi bakteri, atau Acriflavin 2 ppm selama 30 menit untuk membunuh
protozoa.
c.
Pakan Buatan (pellet)
Untuk mencegah malnutrisi pada larva, maka
pemberian pakan buatan harus dilakukan sedini mungkin dan pemberiannya sebelum
mulai pemberian Artemia. Pada larva kerapu bebek pakan buatan mulai
diberikan pada umur D17, sedangkan untuk larva kerapu macan mulai diberikan
pada umur D8. Pakan buatan diberikan
sedikit demi sedikit secara merata.
Ukuran partikel pakan buatan disesuaikan dengan perkembangan larva
(lebar bukaan mulut) dan jumlah yang diberikan perhari disesuaikan dengan
kemampuan larva memangsanya. Jenis pakan
buatan yang digunakan di hatchery BPPT adalah NRD INVE (Thailand) Ltd. Di bawah ini disajikan skema manajemen pakan
dan kualitas air pemeliharaan larva ikan kerapu bebek (gambar
). Dan jadwal pemberian pakan disajikan
pada tabel
Gambar . Skema manajemen
pakan dan kualitas air pada pemeliharaan larva kerapu bebek
Tabel . Jadwal pemberian pakan pada pemeliharaan
larva kerapu bebek
2.4 Manajemen Kualitas Air
2.4.1 Pergantian Air
Kualitas air dalam Pemeliharaan larva kerapu
harus dikelola secara optimal. Karena
larva kerapu membutuhkan lingkungan air yang benar-benar bersih dan segar (fresh).
Untuk itu harus dilakukan pergantian air yang cukup berdasarkan
perkembangan larva. Pada umur D10 sampai
D13 pergantian air dilakukan sebanyak 30%. Selanjutnya >D13 pergantian air dilakukan
secara terus-menerus atau sistem air mengalir (Flow Through System) sebanyak >100%.
2.4.2 Pembersihan Dasar Bak
(Penyiponan)
Selama pemeliharaan larva, kualitas air harus
selalu dijaga dengan baik yaitu dengan mengusahakan keadaan bak selalu
bersih. Untuk itu perlu dilakukan
pembersihan dasar bak (penyiponan) bila terlihat dasar bak kotor dan
pembersihan dinding, selang aerasi serta batu aerasi. Kotoran berupa bahan organik ini berasal dari
sisa pakan yang tidak termakan, kotoran larva (feses), serta Nannochloropsis,
Rotifera dan larva yang mati akan terkumpul di dasar bak. Akumulasi bahan organik ini dapat mengundang
protozoa, jamur dan bakteri, jika tidak dilakukan penyiponan. Khususnya larva yang mati di dasar bak, harus
cepat dilakukan penyiponan untuk mencegah terjadinya serangan virus jenis Viral Nervous Necrosis (VNN). Penyiponan dilakukan secara hati-hati supaya
tidak terjadi pengadukan kotoran dasar.
Penyiponan dasar bak ini dilakukan dengan melihat kondisi larva dan
dasar bak pemeliharaan.
Penyiponan dapat dilakukan pada saat larva baru
menetas (umur D1) jika terlihat ada telur dan cangkang telur yang
mengendap. Penyiponan selanjutnya dapat
dilakukan pada saat larva berumur D11,
dan setelah larva diberi pakan buatan (pellet),
penyiponan dilakukan setiap hari.
2.4.3 Pemberian Fitoplankton (Nannochloropsis sp.)
Fitoplankton yang diberikan ke dalam bak
pemeliharan larva adalah Nannochloropsis
sp. dengan kepadatan (10 - 15) x 106 sel/ml sebanyak 40-60 L. Kepadatan Nannochloropsis
sp. di bak larva dipertahankan (2 - 5) x 105
sel/ml. Nannochloropsis sp. yang diberikan ini untuk makanan Rotifera dan mempertahankan warna air
agar berwarna selalu hijau yang selanjutnya dapat meratakan intensitas cahaya
dalam air. Warna air hijau dapat
menghindari terjadinya larva menggerombol di satu tempat dalam bak.
Larva kerapu sangat sensitif terhadap
perputaran air (turbulence), oleh
karena itu pemberian plankton harus dilakukan secara perlahan dengan
menggunakan selang kecil selama beberapa jam.
Prosentase pergantian air yang cukup besar pada
malam hari menyebabkan air bak pemeliharaan larva menjadi bening pada pagi
hari, hal ini dikarenakan fitoplankton banyak yang keluar adanya sirkulasi
air. Sehingga warna air menjadi bening
dan harus ditambahkan fitoplankton sebelum matahari terbit dan dibantu dengan
pemberian penerangan lampu neon di atas bak untuk meningkatkan populasi
fitoplankton.
Warna air yang bening akan menyebabkan larva
menggerombol di satu tempat. Hal ini
akan menjadi masalah pada larva umur D10 - D25, karena larva sudah memiliki
satu duri sirip punggung dan dua duri sirip perut yang memanjang bersamaan
dengan bertambahnya umur larva. Apabila
larva menggerombol pada satu tempat, maka duri sirip tersebut akan saling
mengait satu sama lain, sehingga menyebabkan banyak kematian larva. Untuk itu harus selalu mempertahankan
intensitas cahaya dan warna hijau pada air pemeliharaan larva, yaitu dengan
penambahan fitoplankton. Akibat
prosentase pergantian air yang besar, selain penambahan fitoplankton juga dibantu dengan pemberian acriflavin 0.5 - 1 ppm. Acriflavin ini berwarna hijau kekuningan
dan berfungsi sebagai pewarna air dan sebagai bahan anatiseptik.
2.4.4 Pengaturan Suhu
Suhu air pemeliharaan larva kerapu di Hatchery
BPPT Batam berkisar antara 28 - 31oC. Dan kisaran ini baik layak untuk kelangsungan
hidup larva. Untuk menghindari fluktuasi
suhu yang terlalu besar, maka bak pemeliharaan larva dibuat di dalam ruangan tertutup
(indoor) dan pada malam hari bak ditutup menggunakan plastik transparan.
2.4.5 Pengaturan Cahaya
Cahaya diperlukan larva supaya dapat melihat
dan memangsa terhadap pakan yang diberikan.
Larva pada stadia awal membutuhkan intensitas cahaya 1000 Lux dan
fotoperiod lebih dari 12 jam untuk memburu pakan secara optimal. Pengaturan pencahayaan bertujuan untuk
memperpanjang aktivitas metabolism larva dan menjaga kesetabilan intensistas
cahaya dalam aair.
Pencahayaan dilakukan dengan menggunakan lampu
neon 40 watt sebanyak satu buah yang dipasang di atas bak pada jarak 40-60 cm dari
permukaan air dan lampu neon ini dapat diatur ketinggiannya dari permukaan
air. Sebelum larva umur D12 pencahayaan
lampu neon diatur supaya intensitas yang dihasilkan 1000 - 1500 Lux, sedangkan setelah larva umur D12 intensitas
cahaya yang dibutuhkan adalah 600 - 1000 Lux. Lamanya penggunaan lampu neon adalah sebagai
berikut :
- Umur D2-D5 : jam 06.00 (sebelum matahari terbit)
- 22.00
- Umur D6 : jam 06.00 – 21.00
- Umur D7-D10 :
jam 06.00 – 20.00
- Umur ≥D11 : jam 06.00 – 19.00
Penggunaan lampu neon juga dilengkapi dengan
UPS (baterai penyimpan cadangan listrik), untuk menghindari lampu hidup dan
mati secara tiba-tiba yang dapat menyebabkan larva kaget dan stress.
2.4.6 Pengaturan Aerasi
Pengaturan aerasi baik penempatan titik aerasi
dan kecepatan aerasinya dilakukan berdasarkan perkembangan dan umur larva. Larva sebelum umur D10, jumlah titik aerasi 4 buah dan ditempatkan merata di tengah
bak. Hal ini untuk menghindari kematian
larva akibat benturan dengan dinding bak. Sedangkan setelah umur ≥D10, jumlah titik aerasi ditingkatkan menjadi
8 buah dan penempatan titik aerasi di pinggir atau
menempel pada dinding bak, serta satu titik aerasi ditempatkan ditengah bak.
Pengaturan kecepatan aerasi pada larva umur D0 -
D2 aerasi diberikan agak besar untuk menghindari telur atau larva mengendap di
dasar bak. Larva umur D3 - D10,
kecepatan aerasi diperkecil sampai kecepatan sedang agar larva dapat memangsa Rotifera namun tidak bergerombol di satu
tempat. Larva umur D11 – D25, kecepatan
aerasi ditambah sedikit demi sedikit untuk menghindari larva bergerombol di
permukaan air. Setelah larva berumur D25
- D45, larva sudah mulai berenang aktif dan bergerombol, maka aerasi harus
dibesarkan sehingga dapat meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air.
2.4.7 Pemberian Minyak Cumi
pada Permukaan Air Bak
Pemberian minyak cumi dilakukan dengan
meneteskan minyak cumi di atas permukaan air sedikit demi sedikit menggunakan
pipet tetes, agar minyak cumi tersebar merata dan tidak menggumpal. Pada larva kerapu bebek, pemberian minyak
cumi ini dilakukan pada umur D1 - D5.
Sedangkan pada larva kerapu macan pemberian minyak cumi sampai umur D10. Dosis minyak cumi yang diberikan adalah 0.3 ml/m2 luasan permukaan air bak
setiap harinya. Pemberian dilakukan 2
kali sehari pada jam 06.00 dan 15.00. Tujuan utama pemberian minyak cumi adalah untuk mencegah kematian larva yang mengapung
akibat terperangkap tegangan permukaan air.
2.4.8 Pengamatan Parameter
Kualitas Air
Kualitas dalam pemeliharaan larva harus selalu
terkontrol dan stabil, karena perubahan salah satu parameter kualitas air yang
drastis atau mendadak dapat menyebabkan larva stress dan mudah terserang
penyakit. Sehingga dilakukan pengamatan
kualitas air untuk mengetahui fluktuasi hariannya. Pengamatan atau pengecekan parameter kualitas
air dilakukan setiap hari selama pemeliharaan larva. Untuk melihat kualitas air harian dilakukan
pengecekan kualitas air pada pagi dan sore hari, sedangkan untuk melihat
kualitas air bulanan pengecekan dilakukan setiap 2 jam sekali selama 24
jam. Pengecekan bulanan ini dilakukan
sebulan 2 kali (2 minggu sekali). Di Hatchery
BPPT, hanya dilakukan pengecekan kualitas air pada parameter fisika saja,
seperti suhu, salinitas, pH, DO (oksigen terlarut), kekeruhan dan
konduktifitas. Pengukuran kualitas air
menggunakan alat digital, sehingga lebih mudah, praktis dan cepat menghasilkan
data.
2.5 Pengendalian Penyakit
Selama pemeliharaan larva kerapu, penyakit yang
sering menyerang adalah penyakit yang disebabkan bakteri. Jenis bakteri yang sering muncul adalah Vibrio sp. dan penyakitnya disebut
vibriosis. Bakteri Vibrio sp. merupakan patogen sekunder yang muncul akibat infeksi
primer oleh protozoa. Bakteri Vibrio sp. ini bersifat oportunis dan
akan patogen jika larva atau juvenil dalam kondisi stress. Juvenil yang terinfeksi vibriosis tubuhnya
akan terlihat berwarna gelap, sedangkan untuk ikan yang lebih besar akan
memperlihatkan luka pada permukaan tubuhnya.
Selain itu gejala lainnya adalah nafsu makan berkurang, berenang lemah,
pembusukan pada sirip (fin rot),
pangkal sirip ekor dan mulut merah, mata menonjol dan terjadi penggumpalan
cairan pada perut (perut kembung).
Pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman Acriflavin 10 ppm selama 2
jam atau dengan perendaman Oxytetracycline 10 ppm selama 1 jam selama 5 hari
berturut-turut.
Selain penyakit vibriosis juga ada penyakit
yang disebabkan oleh virus. Penyakit
virus yang sering menyerang pada larva kerapu adalah VNN (Viral Necrotic Nervous) yang disebabkan oleh nodavirus. Virus ini menyebabkan kematian massal pada
larva atau juvenil, dengan ciri-ciri mula-mula tenggelam di dasar bak kenudian
akan mengapung di permukaan air dengan perut menggembung. VNN sampai sekarang tidak ada obatnya dan hanya bisa dilakukan
upaya pencegahannya.
Upaya pencegahan terhadap penyakit yang
dilakukan di Hatchery BPPT yaitu sterilisasi air laut menggunakan UV (ultra
violet), sterilisasi semua peralatan dan fasilitas dengan bahan disinfektan
berupa kaporit 100 ppm, penebaran telur yang bebas VNN (berdasarkan
hasil deteksi Polymerase Chain Reaction/PCR),
perendaman telur dengan iodin 20 ppm selama 15
menit, mengurangi kepadatan
larva, menghindari larva stress dengan menjaga kualitas air yang baik serta
kualitas dan kuantitas pakan, pemberian
Oxytetracycline 1 ppm selama pengkayaan pakan alami, pemberian elbazine 1 ppm seminggu sekali pada media
pemeliharaan larva untuk mencegah kontaminasi bakteri, dekapsulasi siste Artemia dengan kaporit, dan perendaman
larva atau juvenil dengan larutan vaksin polivalen Vibrio selama 30 menit dengan aerasi kuat Kepadatan juvenil pada saat perendaman 200
ekor/10 L air laut.
3. PANEN JUVENIL DAN GRADING
Juvenil ikan kerapu memiliki sifat berenang
mengelilingi bak. Pemanenan juvenil ikan
kerapu bebek dilakukan pada umur D45
dengan kisaran panjang 2 - 3 cm.
Pemanenan dilakukan dengan
menurunkan air bak secara perlahan-lahan sampai ketinggian air mencapai 20 cm. Setelah itu juvenil diserok menggunakan
serokan (scoop net), kemudian juvenil
ditampung di baskom/keranjang yang diberi aerasi.
Juvenil yang telah dipanen dipisahkan
berdasarkan ukurannya (grading). Grading merupakan upaya untuk menyeragamkan
pertumbuhan juvenil dan meminimalisasi kematian akibat kanibalisme. Karena sebagai ikan karnivora, kerapu
memiliki sifat untuk saling memangsa. Sifat
kanibalisme kerapu macan lebih besar dibanding kerapu bebek, hal ini disebabkan
lebar bukaan mulut kerapu macan ukurannya lebih besar. Kanibalisme ini muncul akibat kekurangan
makanan dan perbedaan ukuran ikan, sehingga ikan yang berukuran besar cenderung
memangsa ikan yang berukuran lebih kecil.
Juvenil atau benih yang sudah digrading selanjutnya dihitung jumlahnya
untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup larva (survival rate/SR).
Tingkat kelangsungan hidup (SR) larva ikan
kerapu bebek sampai ukuran juvenil masih cukup rendah yaitu 0.4% dan masih cukup jauh dari target yang
dingin dicapai 10%. Hal ini disebabkan volume
bak pemeliharaan larva relatif kecil dan tidak standar (kurang dari 10 ton),
ditambah kualitas sumber air laut di teluk Tanjung Riau Batam kurang bagus,
tingkat kekeruhan tinggi, sudah banyak tercemar limbah industri maupun rumah
tangga yang berpengaruh pada jeleknya mutu parameter kimia air laut, dan
salinitas air laut yang rendah berkisar 28 - 31ppt. Apabila salinitas air laut menurun secara
drastis akibat hujan deras, dapat menyebabkan kerusakan pada telur yang
dipijahkan. Pemijahan induk, penetasan
dan pemeliharaan larva ikan kerapu bebek sangat baik pada salinitas tinggi
antara 30 - 35 ppt. Selain kualitas air yang kurang bagus yang menyebabkan SR
rendah adalah serangan penyakit bakterial dan ketersediaan plankton (Nannochloropsis sp dan Rotifera) yang
kurang dari segi kualitas maupun kuantitas.
Karena ketersediaan pakan hidup yaitu plankton merupakan kunci utama keberhasilan
kegiatan pembenihan.
4. PENDEDERAN BENIH
4.1 Pemeliharaan Benih
(Pendederan)
Pendederan benih ikan
kerapu biasanya dibagi menjadi dua yaitu pendederan I dan pendederan II. Pendederan I ikan yang dipelihara mulai dari
juvenil ukuran 2 - 3 cm sampai ukuran 5 - 7cm dengan lama pemeliharaan 1,5 - 2 bulan.
Sedangkan pada pendederan II ikan yang dipelihara dari ukuran 5 - 7 cm
sampai 10 - 15 cm dengan lama pemeliharaan 2 - 3
bulan. Kepadatan yang dipakai
untuk pemeliharaan pada pendederan I adalah 600
ekor/m3 dan kepadatan untuk pendederan II adalah 400 ekor/ m3. Kepadatan ini adalah kepadatan yang optimum
untuk pendederan, jika kepadatan juvenil terlalu tinggi ikan gampang stress dan
dapat mudah terserang penyakit bakterial maupun virus.
Juvenil ikan kerapu bebek pada masa-masa awal pemeliharaan masih berenang mengelilingi
bak. Setelah itu juvenil akan cenderung
berkumpul di dasar bak, sehingga tidak perlu menggunakan ukuran bak besar untuk
pendederan. Bak yang dipakai berukuran 2, 3, 5 dan 10 m3 (ton). Bentuk bak pemeliharaan baik berbentuk bulat atau
persegi panjang dapat digunakan dan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata
(sama).
4.2 Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan berupa pakan buatan (pellet) dan ikan rucah yang dipotong-potong
berdasarkan lebar bukaan mulut ikan.
Sirip, duri, tulang, jeroan dan kepala ikan rucah sebelumnya dibuang
dahulu sebelum dipotong-potong. Jenis
ikan rucah yang sering diberikan adalah ikan benggol, kembung dan mata
besar. Pemberian pellet dapat dilakukan
setiap 3 - 4 jam sekali sehari secara ad-satiation
(sekenyang-kenyangnya) dan ikan rucah mulai diberikan sebanyak 1 - 2 kali
sehari pada pendederan II. Ukuran
butiran pellet yang diberikan harus disesuaikan dengan lebar bukaan mulut ikan
dan biasanya setiap 10 - 14 hari sekali, ukuran butiran pellet yang diberikan
akan berubah setahap demi setahap menjadi ukuran yang lebih besar. Pemberian ukuran pellet ini bersifat relatif,
tergantung dari pertumbuhan ikan.
Pemilihan jenis pakan buatan komersil harus
didasarkan pada kandungan nutrisinya (protein min 45%) dan harga. Hatchery BPPT selain menggunakan pellet
komersil juga memakai pellet rusnas (Riset Unggulan Strategi
Nasional), yaitu hasil penelitian kerja sama antara Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi/BPPT bersama dengan Institut Pertanian Bogor/IPB). Pellet rusnas memberikan hasil yang lebih
baik dibandingkan pellet komersil, baik dari segi Survival Rate (SR),
pertumbuhan maupun ketahanan benih terhadap penyakit.
Jumlah pakan dan berat ikan yang mati setiap
harinya harus dicatat dalam buku data, untuk mengetahui konversi pakan (feed conversion ratio/FCR), efisiensi
pakan (EP), dan tingkat pemberian pakan (feeding
rate/FR) pada akhir pemeliharaan. Di
bawah ini disajikan rumus-rumus FCR, EP dan FR :
1.
BBM = Bobot biomassa ikan
2.
3.
atau
4.
Pada
pendederan I ikan kerapu bebek rata-rata FCR yang diperoleh adalah 1,20 dengan efisiensi pakan sebesar 83,33% dan
FR 5,61%, sedangkan pada pendederan II FCR rata-rata 1,19 dengan Efisiensi pakan 84,17% dan FR
4,36%. FCR 1,20 berarti untuk
menghasilkan 1 kg daging ikan dibutuhkan sebanyak 1,20 kg pakan. Nilai FCR ini masih tergolong kecil dan masih
baik untuk pendederan.
4.3 Pengelolaan Kualitas Air
Pemberian pellet dengan kandungan protein yang
tinggi maupun pemberian ikan rucah, menyebabkan kualitas air cepat jelek dan
kotor. Untuk itu dalam kegiatan
pendederan ini menggunakan sistem air mengalir dengan pergantian air minimal
400%. Air yang digunakan untuk bak
pendederan adalah air yang sudah melewati mesin UV dan sebelum masuk bak air di
filter dulu dengan filter bag ukuran
5 µm, untuk menyaring sisa partikel-partikel tersuspensi.
Pembersihan dasar bak (sipon) dilakukan dua
kali setiap hari yaitu pagi dan sore setelah pemberian pakan, tujuannya untuk
membersihkan dasar bak dari feses ikan, sisa pakan, ikan mati maupun
bahan-bahan organik lainnya. Karena
kotoran-kotoran yang terakumulasi di dasar bak jika tidak dibersihkan, maka
pada malam harinya akan terdekomposisi dan mudah memunculkan serangan penyakit
bakterial. Setelah disipon dilakukan penyikatan
dinding dan dasar bak, serta penurunan ketinggian air sampai 70% agar kualitas
air tetap baik (bersih dan tidak keruh).
4.4 Pengendalian Penyakit dan
Parasit
Pencegahan terhadap serangan penyakit dan
parasit dilakukan dengan memanajemen dengan baik pengelolaan kualitas air,
pemberian pakan yang cukup mutu dan jumlahnya, dan padat penebaran ikan yang
tidak terlalu tinggi. Selain itu
kegiatan rutin yang sering dilakukan adalah perendaman benih dalam air tawar selama 5 - 10 menit, bisa juga
ditambahkan acriflavine 10 ppm dan atau formalin 200 ppm. Biasanya setelah direndam, parasit yang
menempel pada permukaan tubuh, mata dan insang ikan akan lepas. Perendaman ini dilakukan satu kali setiap
bulan. Jika terlihat benih ada yang
sakit, maka benih tersebut langsung direndam dan diobatin, setelah itu
dipelihara di bak terpisah untuk mengurangi tingkat penularan penyakit ke benih
yang sehat.
Hatchery BPPT selain menerapkan usaha-usaha
pengendalian penyakit seperti yang dijelaskan di atas, juga dilakukan kegiatan
vaksinasi dengan vaksin polivalen Vibrio. Vaksinasi dilakukan 3 kali yaitu vaksinasi
pertama pada juvenil ukuran 2 - 3 cm
dilakukan dengan metode perendaman, dimana juvenil direndam dengan larutan
vaksin selama 30 menit dengan aerasi kuat.
Vaksinasi kedua pada benih ukuran 10 - 15
cm dilakukan dengan metode suntikan, vaksin disuntikkan secara
intraperitoneal di bagian tengah perut, tepat di atas sirip perut dan di bawah
operkulum dengan dosis 0,1 ml/ikan. Vaksinasi yang ketiga dilakukan seminggu
setelah vaksinasi kedua dengan cara yang sama yaitu metode suntikan. Benih dapat ditebar ke keramba satu minggu
setelah vaksinasi yang ketiga. Benih
minimal divaksin sebanyak 2 kali.
4.5 Grading dan Sampling
Grading atau pemilahan ukuran adalah salah satu
kegiatan dalam pendederan untuk menyeleksi sekaligus memilah-milah benih sesuai
dengan ukurannya. Tujuannya untuk
mendapatkan benih yang seragam (seukuran) dengan bentuk tubuh yang ideal (tidak
cacat) dan untuk mengurangi sifat kanibalisme (saling memangsa). Sifat kanibal ini akan sedikit berkurang pada
ikan yang berukuran sama atau seragam. Tetapi
sifat saling memangsa pada pemeliharaan benih ikan kerapu bebek ini tidak
menjadi kendala utama penyebab kematian, karena sifat kanibalismenya relatif
kecil jika dibandingkan pada ikan kerapu macan. Benih biasanya dipisahkan menjadi 3 ukuran,
yaitu ukuran small (S), medium (M) dan large
(L). Benih-benih yang memiliki
ukuran berbeda-beda ini kemudian dihitung dan dipelihara pada bak yang
terpisah. Grading dapat dilakukan
sebanyak 1 - 2 kali dalam sebulan, tergantung dari pertumbuhan dan perbedaan
ukuran benih.
Sampling biasanya dilakukan setelah kegiatan
grading, dengan mengambil 30 ekor dari masing-masing ukuran benih kemudian
diukur panjang dan beratnya. Dengan
kegiatan grading dan sampling yang rutin dapat diketahui survival rate (SR), pertumbuhan relatif (α) maupun bobot biomassa
(BBM) benih. Rumus untuk mengetahui SR,
pertumbuhan relatif dan bobot biomassa disajikan di bawah ini :
1.
2.
t =
waktu atau lamanya pemeliharaan ikan (hari)
3.
4.
Survival rate
(SR) rata-rata pada pendederan I ikan kerapu bebek berkisar 90% dengan pertumbuhan relatif sebesar 4,36%. Sedangkan pada
pendederan II SR rata-rata berkisar 80 - 90%
dengan pertumbuhan relatif 3,67%. SR ini masih cukup baik untuk kegiatan
pendederan kerapu bebek. Kematian pada
pendederan kerapu bebek biasanya terjadi pada awal pemeliharaan maupun akhir
pemeliharaan yang disebabkan oleh penyakit bakterial. Sedangkan pada pendederan kerapu macan,
selain disebabkan penyakit bakterial juga sifat kanibalisme yang tinggi.
No comments:
Post a Comment