1. Teknik Pemeliharaan dan
Pemijahan Induk
1.1 Pemeliharaan Induk
Induk-induk ikan kakap putih dipelihara dalam
bak beton atau bak fiber berbentuk bulat dengan volume 50 - 200 m3
(ton) dengan kedalaman 2 - 3 m. Bak induk dilengkapi dengan aerasi, pipa
pemasukan air (inlet) dan pipa pengeluaran air (outlet) bawah 2 - 4 inci, pipa
outlet atas 2 – 4 inci yang terletak tepat di atas bak penampungan telur, serta
bak penampungan telur dengan dimensi 2 x 2 x 1 m. Bak pemeliharaan induk ini juga sekaligus
merupakan bak pemijahan.
Induk yang dipelihara memiliki bobot tubuh
berkisar 1,3 - 5,5 kg dengan panjang tubuh 46 - 67 cm. Bobot tubuh rata-rata induk jantan 1 – 2 kg
dan induk betina > 3 kg. Kegiatan
rutin yang dilakukan setiap 2 - 3 bulan sekali adalah vaksinasi induk, sampling
bobot dan panjang induk.
Pada saat menjelang musim pemijahan (awal bulan
terang), induk dipindah ke bak penampungan sementara. Bak induk dikuras dan teritip yang menempel
dibersihkan, kemudian bak disterilisasi dengan kaporit dosis 10.000 ppm yang
dilarutkan ke dalam 10 liter air tawar dan disiramkan ke dinding maupun dasar
bak sambil dilakukan penggosokan dengan sikat agar lumut yang menempel
mati. Terakhir bak dicuci bersih
menggunakan air tawar. Bak ini diisi air
laut kembali sampai penuh sehingga induk dapat dimasukkan kembali ke dalam bak.
1.2 Manajemen Pemberian Pakan
Induk harus diberi pakan yang memiliki
kandungan nutrisi yang cukup tinggi dan lengkap, karena dapat berpengaruh
terhadap pematangan gonad dan kualitas telur yang dihasilkan, yang selanjutnya
akan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup larva. Induk diberi pakan ikan rucah segar seperti
ikan benggol, kembung dan mata besar.
Dan sangat dianjurkan untuk memberikan pakan cumi selain ikan rucah pada
induk sebanyak 2 kali seminggu. Sebelum
diberikan, ikan rucah yang sudah dihilangkan kepala, ekor dan isi perutnya dipotong-potong
sesuai lebar bukaan mulut induk.
Pemberian pakan dilakukan secara at-satiation
(sekenyangnya) dengan dosis pemberian pakan 3 – 5 % dari bobot biomassa induk
dan diberikan satu kali per hari (pagi hari).
Jumlah pakan per hari yang biasanya dimakan hingga kenyang oleh induk
dengan bobot rata-rata 2,8 kg adalah 3 - 4 kg.
Pemberian jenis ikan rucah ini juga dianjurkan saling bergantian dan
bisa diberikan campuran dari beberapa jenis ikan. Pemberian pakan induk cukup dilakukan 5 - 6
kali seminggu dan diselingi dengan pemuasaan induk satu hari, hal ini
dimaksudkan agar nafsu makan induk selalu bagus.
Untuk menjaga kesehatan induk dan memacu
kematangan gonad, setiap hari induk juga diberikan moist pelet (hasil penelitian kerja sama antara Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB)),
serta diberi vitamin B, C dan E yang dimasukkan ke dalam kapsul. Pemberian vitamin ini dilakukan sebanyak 2
kali/minggu dengan dosis 40 mg/bobot biomassa induk. Moist
pelet dan kapsul vitamin ini dimasukkan ke dalam ikan rucah maupun cumi
sebelum diberikan induk.
Ikan rucah, cumi dan moist pelet harus benar-benar segar dan sebaiknya di simpan dalam
freezer suhu - 20oC. Karena
pakan yang tetap segar, nutrisinya akan
tetap terjaga dengan baik atau tidak rusak.
1.3 Manajemen Kualitas Air
Sirkulasi air pada bak induk dilakukan secara
terus menerus atau sistem air mengalir dengan pergantian air minimal 200% per
hari. Untuk menjaga agar kualitas air
tetap baik, setiap 2 hari sekali air diturunkan sampai 70% setelah pemberian
pakan, sambil dinding dan dasar bak disikat.
Hal ini bertujuan untuk membuang lumut yang menempel dan sisa kotoran
induk. Pengaturan pembuangan air atas
dan air bawah juga dilakukan agar kualitas air dalam bak induk tetap baik,
siang hari dilakukan pembuangan air bawah dan malam hari dilakukan pembuangan
air atas. Bak pemeliharaan dan pemijahan
induk dikuras dan dibersihkan setiap 2 minggu sekali.
Kualitas air yang optimal dapat meningkatkan
kesehatan dan daya tahan induk terhadap penyakit sebelum melakukan pemijahan. Di bawah ini adalah nilai parameter kualitas
air pada bak pemeliharaan induk :
Suhu : 28 - 31 oC
Salinitas :
28 – 30 ppt
pH :
7.5 – 8.0
DO (Dissolved
Oxygen) : 3.5 – 5 ppm
1.4 Pemijahan Induk
Ikan kakap putih termasuk ikan yang hermaprodit protandri, dimana dalam satu
siklus hidupnya terdapat proses diferensiasi gonad dari fase jantan ke fase
betina setelah mencapai umur lebih dari 6 – 8 tahun. Pada ikan-ikan yang berukuran kecil berjenis
kelamin jantan dan setelah besar sampai ukuran tertentu berubah menjadi kelamin
betina. Biasanya ikan yang memiliki
berat ±1,2 Kg sudah bisa menjadi induk jantan, sedangkan untuk induk betina
minimal memiliki berat 3 kg.
Pada awal pertumbuhannya ikan kakap putih
berada dalam habitat air payau atau air tawar selama 2 – 3 tahun lebih. Dan pada saat perkembangan gonad, ikan kakap
mulai bermigrasi ke laut untuk kawin (Katadromous).
Pemijahan berlangsung di laut secara bergerombol.
Keberhasilan pemijahan induk kakap putih ini
sangat tergantung dari manajemen pakan, lingkungan dan rangsangan
hormonal. Pemijahan ikan kakap putih
dapat dilakukan dengan pemijahan alami (natural
spawning), pemijahan buatan (artificial
spawning), dan pemijahan dengan rangsangan hormonal (induced spawning). Dari
ketiga metode pemijahan di atas, yang menghasilkan kualitas telur terbaik adalah
dengan pemijahan alami (natural spawning)
dengan rangsangan hormonal.
Menjelang musim pemijahan (awal bulan terang),
dilakukan pengamatan jenis kelamin dan seleksi tingkat kematangan induk dengan
metode kanulasi, yaitu dengan memasukkan selang kanula atau kateter yang
berdiameter 0,8 - 1 mm ke dalam lubang genital sedalam 4 - 6 cm, lalu dihisap
dan dicabut secara perlahan-lahan. Induk
betina yang siap dipijahkan memiliki diameter telur 400 - 500 µm, sedangkan
induk jantan terlihat cairan sperma berwarna putih susu pada selang
kanula. Metode kanulasi biasanya
dilakukan bersamaan dengan pemindahan induk ke bak penampungan sementara saat
bak utama dikuras dan dibersihkan.
Induk-induk yang siap dipijahkan ini yang nantinya akan diberikan
rangsangan hormonal yaitu dengan penyuntikan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) seperti Puberogen atau Chorulon
sebanyak 250 - 500 IU/kg bobot induk.
Penyuntikan dilakukan secara intramuscular
di bagian punggung di bawah sirip dorsal.
Perbandingan induk jantan dan betina adalah 1 : 2.
Pemijahan alami (natural spawning) yang dilakukan adalah dengan memanipulasi
lingkungan, yaitu dengan menurunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan induk
sampai ±70% pada pagi hari setelah pemberian pakan dan dibiarkan selama 5 - 7
jam dimana sirkulasi air terus dilakukan.
Setelah itu ketinggian air dinaikkan kembali seperti semula. Penurunan ketinggian air dan penjemuran bak
ini dapat menaikkan suhu air di dalam bak sebesar ± 1 - 3oC. Dan akan terjadi penurunan suhu kembali pada
saat penaikan ketinggian air. Kondisi
ini yang dapat merangsang induk untuk memijah.
Perlakuan naik turun ketinggian air ini dilakukan setiap hari sejak
induk dimasukkan ke dalam bak pemeliharaan menjelang musim pemijahan.
Pemijahan ikan kakap putih biasanya terjadi
pada bulan terang dan terjadi pada malam hari sekitar jam 18.00 - 22.00
WIB. Telur yang dibuahi akan mengapung
di permukaan air dan akan terbawa keluar mengikuti aliran air bagian atas
kemudian telur akan tersaring pada jaring pengumpul telur (eggs collector) yang diletakkan di luar bak induk. Eggs
collector ini terbuat dari jaring yang lembut dengan ukuran mata jaring
berkisar antara 300 - 400 µm. Eggs collector ini dipasang pada sore
hari dan telur yang terapung dalam eggs
collector dipanen pada pagi hari sekitar jam 07.00 - 08.00 WIB.
Telur ikan kakap putih hasil pemijahan yang
baik akan melayang dipermukaan air, transparan dan berbentuk bulat dengan
diameter 600 -800 µm. Sedangkan telur
yang jelek dan tidak terbuahi akan mengendap di dasar dan berwarna putih susu
(keruh).
1.5 Pengendalian Penyakit
Pemeliharaan induk harus selalu terkontrol
dengan baik, salah satu faktor yang tidak kalah penting adalah kegiatan pengendalian
penyakit pada induk. Pengendalian
berbagai jenis penyakit dan parasit ini akan menunjang kelangsungan hidup dan
peningkatan produksi telur induk.
Penyakit dan parasit akan muncul jika kondisi lingkungan pemeliharaan
kurang optimal dan mutu pakan yang rendah serta besarnya prosentase pergantian
air laut.
Kegiatan pengendalian penyakit dan parasit ini
dilakukan dengan pengelolaan kualitas air yang baik. Setiap hari bak disikat bersamaan dengan
penurunan ketinggian air sampai 70%, sehingga sisa-sisa kotoran dapat
terbuang. Setiap 2 minggu sekali bak
dikuras dan disterilisasi dengan kaporit.
Bersamaan dengan pembersihan bak ini, induk ditreatmen dengan direndam
air tawar selama 5 - 10 menit dengan aerasi kencang, bisa juga ditambahkan
acriflavine 50 ppm atau formalin 200 ppm.
Perendaman ini untuk menghilangkan parasit yang menempel pada permukaan
tubuh, mata maupun insang ikan. Parasit
yang sering menyerang adalah golongan krustasea (copepod : Caligus sp.), trematoda (skin fluke : Benedenia sp.), Leeches (lintah) dan protozoa.
Pencegahan penyakit ini juga dilakukan dengan
cara vaksinasi induk menggunkan vaksin
polivalen Vibrio (hasil penelitian kerja sama antara Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT) bersama dengan Universitas Gajah Mada (UGM)). Caranya induk disuntik dengan larutan vaksin polivalen vibrio secara intramuscular di bagian punggung di
bawah sirip dorsal dengan dosis 0,5 ml/induk.
Kegiatan vaksinasi dilakukan rutin setiap 3 bulan sekali.
2. Teknik Pemeliharaan Larva
2.1 Persiapan Bak
Bak yang digunakan dalam pemeliharaan larva
memiliki kapasitas 2 m3.
Ukuran ini digunakan untuk target produksi 5.000 – 10.000 ekor juvenil
ikan kakap putih. Bak berbentuk bulat dengan diameter 2 m dan
kedalaman 1 m, dilengkapi pipa inlet 1 inci dan pipa outlet 2 inci, dan bak
dicat dengan warna biru muda.
Bak terletak di dalam ruangan tertutup (indoor)
supaya tidak terkena hujan dan sinar matahari langsung. Untuk menghindari fluktuasi suhu, maka bak
ditutup dengan plastik transparan. Tutup
plastik ini dibuka pada siang hari dan ditutup pada malam hari.
Persiapan bak pemeliharaan larva memegang
peranan yang sangat penting di dalam usaha pembenihan ikan kerapu. Tujuan utama dari persiapan bak ini adalah
untuk mematikan organisme penyakit (patogen).
Sebelum bak digunakan harus disterilisasi atau didesinfektan menggunakan
larutan kaporit Ca(OCl)2 (bahan aktif 60%) dengan dosis 10.000 ppm
yang dilarutakan ke dalam 10 L air tawar.
Dinding dan dasar bak disiram menggunakan larutan kaporit, dan dibiarkan
beberapa menit sampai dinding berwarna keputihan (lumut mati), lalu dilakukan
penggosokan menggunakan sikat. Bak dan
peralatan (selang dan batu aerasi) kemudian direndam dengan larutan kaporit 100
ppm selama 1 hari. Setelah 1 hari bak
pemeliharaan dan peralatan dicuci dengan deterjen. Setelah itu baru dibilas dengan air
tawar. Terakhir bak dikeringkan dan
ditutup dengan terpal atau plastik.
Bak yang sudah siap digunakan, diisi air bersih
yang sebelumnya sudah dilewatkan pada mesin Ultraviolet (UV) dan filter bag (ukuran 5 µm).
2.2 Seleksi, Penebaran dan
PenetasanTelur
Setelah
persiapan bak selesai, dilakukan seleksi telur.
Seleksi dan penangan telur merupakan langkah awal menuju keberhasilan
produksi benih ikan kerapu. Kesalahan
dalam penanganan telur dapat menyebabkan kerusakan pada telur.
Telur yang telah tertampung di eggs collector dan sudah pada stadia
embrio dipindahkan ke ember menggunakan gayung untuk kemudian ditaruh di
akuarium. Pemindahan telur harus
pelan-pelan dan hindari telur kontak langsung dengan udara. Seleksi telur dilakukan dengan cara mengangkat
aerasi dan mendiamkan telur selama ± 5 - 10 menit. Telur yang jelek (tidak terbuahi) berwarna
putih susu dan akan mengendap di dasar akuarium, sedangkan telur yang baik akan
mengapung di permukaan berwarna putih transaparan, bulat dengan diameter 600 –
800 µm. Telur-telur yang mengendap
selanjutnya disipon. Kemudian telur yang
sudah terseleksi dihitung jumlahnya dengan metode volumetrik dengan sampling
sebanyak 5 kali pada tempat yang bebeda dan pada saat sampling jumlah telur
aerasi harus dihidupkan. Di bawah ini
adalah rumus untuk menghitung jumlah telur :
Telur yang sudah dihitung jumlahnya kemudian
direndam dengan larutan iodin 20 ppm selama 15 menit atau acriflavin selama 1
menit sebagai desinfektan. Kemudian
telur siap untuk ditebar langsung ke bak penetasan dan pemeliharaan larva. Penebaran dilakukan secara hati-hati dengan
kepadatan dalam bak 30 butir/liter.
Rumus volume air pada bak penampungan telur (akuarium) yang akan
dipindahkan ke bak penetasan (V) adalah sebagai berikut :
Telur kakap putih akan menetas antara 17 - 18
jam setelah pembuahan pada suhu 27 - 29oC dengan panjang total 1,8 mm.
Setelah larva menetas, telur dan cangkang yang mengendap di dasar bak
disipon untuk menghindari timbulnya protozoa, jamur maupun bakteri. Telur yang sudah menetas menjadi larva
disebut larva day nol (D0) sedangkan
larva yang berumur satu hari dari telur menetas adalah day 1 (D1). Larva kakap
putih umur D1 akan menyebar merata, kemudian larva yang menetas dihitung
jumlahnya dengan metode volumetrik dengan sampling sebanyak 3 kali pada tempat
yang bebeda. Air sampel diambil dengan
cara mencelupkan pipa PVC tegak lurus ke dalam bak (diameter pipa 1,5 inci dan
panjang 0,5 m). Volume air dan jumlah
larva yang terambil dalam air sampel dihitung.
Kepadatan larva di bak dapat dihitung berdasarkan konversi jumlah larva
per satuan volume air sampel. Penghitungan
ini selain untuk mengetahui jumlah larva, juga untuk menentukan prosentase Hatching Rate (HR). Apabila HR kurang
dari 70% maka larva dibuang (flushing). Hal ini disebabkan kualitas telur yang jelek
dan apabila terus dipelihara maka, larva banyak yang cacat, lemah dan akhirnya
mati. HR rata-rata di hatchery adalah 80
- 90 %, dan nilai ini masih bagus untuk ukuran derajat penetasan telur ikan
kakap putih. Rumus HR adalah sebagai
berikut :
Pada larva umur D1, permukaan air pemeliharaan
ditetesi minyak cumi sebanyak 0.3 ml/m2/hari sampai umur D8. Minyak cumi diberikan dua kali sehari yaitu
pada jam 06.00 dan 15.00.
2.3 Manajemen Pemberian Pakan
Larva
kakap putih yang baru menetas akan memiliki cadangan makanan yang berupa kuning
telur (yolk egg). Selama kuning telur ini belum habis diserap,
maka larva kerapu belum mengambil makanan dari luar tubuhnya. Rata-rata pada larva ikan kakap putih, kuning
telur tinggal sedikit setelah larva berumur 2 hari setelah menetas (D2). Sehingga larva mulai diberi makanan dari luar
(exogenous feeding) pada umur D2,
seiring sudah tebentuknya mulut dan saluran pencernaan serta sistem penglihatan
yang sudah mulai berfungsi.
Keterlambatan pemberian pakan ini akan menyebabkan point of no return, yaitu titik yang tidak dapat balik lagi, dimana
larva akan mati akibat tidak mendapatkan energi pertama kali dari luar
tubuhnya, sehingga larva tidak terlatih untuk makan meskipun diberi pakan.
Tiga jenis pakan yang sering digunakan dalam
pemeliharaan larva kerapu yaitu Rotifera, Artemia dan pakan buatan (pelet). Sedangkan
Nannochloropsis sp. ditambahkan ke
dalam bak pemeliharaan larva sebagai pakan Rotifera dan untuk mempertahankan
warna air agar berwarna selalu hijau yang selanjutnya dapat meratakan
intensitas cahaya dalam air. Nannochloropsis sp. dan Rotifera diberikan
ke dalam bak pemeliharaan larva secara perlahan selama beberapa jam setiap harinya
menggunakan selang kecil atau pipa kecil, karena larva sangat sensitif terhadap
turbulensi air yang besar. Rotifera yang
sering diberikan adalah tipe-SS dengan panjang lorika 120 - 140 µm dan tipe-S
dengan panjang lorika 180 - 200 µm (Sugama et
al., 2003). Sedangkan naupli Artemia
memiliki ukuran 450 - 500 µm. Di bawah
ini akan dijelaskan cara pemberian pakan larva menggunakan tiga jenis pakan
tesebut di atas :
a.
Rotifera (Brachionus sp.)
Untuk
larva kakap putih, Rotifera tipe-SS mulai diberikan pada larva pada umur D2 -
D4 dengan kepadatan 5 - 7 ind/ml, sedangkan mulai umur D5 - D20 larva diberi
Rotifer tipe-S dengan kepadatan 8 - 10 ind/ml.
Penambahan Rotifera dilakukan apabila kepadatan Rotifera kurang dari 5
ind/ml. Rotifera diberikan pada larva
sampai umur D25 (Sugama et al., 2003).
Sebelum Rotifera diberikan dilakukan pengkayaan (enrichment). Tujuan dari
pengkayaan ini adalah untuk meningkatkan kandungan nilai nutrisi dalam
Rotifera, terutama kandungan asam-asam lemak tak jenuh esensial seperti DHA (Docosahexaenoic Acid) dan EPA (Eicosapentaenoic Acid), dimana DHA dan
EPA ini sangat dibutuhkan larva pada fase awal untuk perkembangan system
syaraf, retina mata dan otak. Bahan
pengkayaan yang digunakan yaitu Bio-NR (hasil penelitian kerja sama antara
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama dengan Institut
Pertanian Bogor (IPB)), dengan dosis 0.9 g Bio-NR untuk 10 liter media Rotifera
dengan kepadatan Rotifera 200 - 500 ind/ml.
Lamanya pengkayaan 2 - 4 jam.
Pengkayaan juga bisa menggunakan 1 ml minyak cumi + 1 g ragi roti
(yeast) + 0.2 g kuning telur dan juga
bisa ditambahkan 1 g vitamin C atau vit B kompleks, kemudian ditambah air 200 ml dan diblender
selama 30 detik. Dosis ini juga sama,
yaitu untuk media Rotifera 10 liter dengan kepadatan Rotifera 200 - 500 ind/ml.
Rumus banyaknya volume air pada bak penampungan
Rotifera yang diberikan pada bak pemeliharaan larva adalah sebagai berikut :
Ket :
V =
Volume air pada bak penampungan Rotifera yang diberikan (L)
KRI =
Kepadatan Rotifera yang diinginkan
pada bak larva (ind/ml)
KRS = Kepadatan Rotifera yang tersisa pada bak
larva (ind/ml)
KRP = Kepadatan Rotifera pada bak Penampungan
(ind/ml)
b.
Artemia
Pada larva kakap putih naupli Artemia mulai
diberikan pada umur D12 dengan kepadatan 1 - 3 ind/ml. Pemberian naupli Artemia ini dilakukan sampai
umur D30. Jumlah naupli Artemia yang
diberikan harus habis dimakan larva setelah 1 jam, jika dalam 1 jam naupli Artemia
belum habis dimakan, maka jumlah yang diberikan dikurangi, demikian pula sebaliknya.
Sugama et al. (2003) menambahakan, artemia yang tersisa di bak pemeliharaan
larva tidak boleh lebih dari satu hari, karena dapat menyebabkan penyakit
lordosis dan meningkatkan mortalitas pada larva.
Naupli Artemia sebelum diberikan juga bisa diperkaya
dengan Nannochloropsis sp., scout
emulsion minyak ikan cod dan vitamin C dosis 100 ppm selama 2 - 4 jam. Dan selama pengkayaan juga dapat diberikan
Acriflavin 2 ppm selama 30 menit untuk membunuh protozoa.
c.
Pakan Buatan (pelet)
Untuk mencegah malnutrisi pada larva, maka
pemberian pakan buatan harus dilakukan sedini mungkin dan pemberiannya sebelum
mulai pemberian Artemia. Pada larva
kakap putih pakan buatan mulai diberikan pada umur D17. Pakan buatan diberikan sedikit demi sedikit
secara merata. Ukuran partikel pakan buatan disesuaikan dengan perkembangan
larva (lebar bukaan mulut) dan jumlah yang diberikan perhari disesuaikan dengan
kemampuan larva memangsanya. Di bawah
ini disajikan skema manajemen pakan dan kualitas air pemeliharaan larva ikan kakap
putih (Gambar 1). Dan jadwal pemberian pakan disajikan pada Tabel 1.

Gambar
1.
Skema manajemen pakan dan kualitas air pada pemeliharaan larva kakap putih
Tabel 1.
Jadwal pemberian pakan pada pemeliharaan larva kakap putih
|
Umur
(day)
|
Jenis
Pakan
|
Waktu
(jam)
|
|||||||||||
|
07.00
|
08.00
|
09.00
|
10.00
|
11.00
|
12.00
|
13.00
|
14.00
|
15.00
|
16.00
|
17.00
|
18.00
|
||
|
D2 –
D7
|
Nanno
|
X
|
X
|
||||||||||
|
Rotifera
|
X
|
X
|
X
|
||||||||||
|
D8 –
D20
|
Nanno
|
X
|
X
|
||||||||||
|
Rotifera
|
X
|
X
|
X
|
||||||||||
|
Artemia
|
X
|
X
|
|||||||||||
|
Pelet
(D17)
|
X
|
X
|
X
|
||||||||||
|
D21 –
D30
|
Artemia
|
X
|
X
|
||||||||||
|
Pelet
|
X
|
X
|
X
|
X
|
|||||||||
|
D31 –
D45
|
Pelet
|
X
|
X
|
X
|
X
|
X
|
|||||||
|
D46 –
D50
|
Pelet
|
X
|
X
|
X
|
X
|
X
|
X
|
||||||
2.4 Manajemen Kualitas Air
2.4.1 Pergantian Air
Kualitas
air dalam Pemeliharaan larva kakap putih harus dikelola secara optimal. Karena larva kakap putih membutuhkan
lingkungan air yang benar-benar bersih dan segar (fresh). Untuk itu harus
dilakukan pergantian air yang cukup berdasarkan perkembangan larva. Pada umur D8 sampai D20 pergantian air
dilakukan sebanyak
10 - 20%. Pada umur D20 – D30
pergantian air dilakukan
sebanyak 50%. Selanjutnya >D30
pergantian air dilakukan secara terus-menerus atau sistem air mengalir (Flow Through System) sebanyak >100%.
2.4.2 Pembersihan Dasar Bak
(Penyiponan)
Selama pemeliharaan larva, kualitas air harus
selalu dijaga dengan baik yaitu dengan mengusahakan keadaan bak selalu
bersih. Untuk itu perlu dilakukan
pembersihan dasar bak (penyiponan) bila terlihat dasar bak kotor dan
pembersihan dinding, selang aerasi serta batu aerasi. Kotoran berupa bahan organik ini berasal dari
sisa pakan yang tidak termakan, kotoran larva (feses), serta Nannochloropsis,
Rotifera dan larva yang mati akan terkumpul di dasar bak. Akumulasi bahan organik ini dapat mengundang
protozoa, jamur dan bakteri, jika tidak dilakukan penyiponan. Khususnya larva yang mati di dasar bak, harus
cepat dilakukan penyiponan untuk mencegah terjadinya serangan bakteri Vibrio sp. dan virus jenis Viral Nervous Necrosis (VNN). Penyiponan dilakukan secara hati-hati supaya
tidak terjadi pengadukan kotoran dasar.
Penyiponan dasar bak ini dilakukan dengan melihat kondisi larva dan
dasar bak pemeliharaan.
Penyiponan dapat dilakukan pada saat larva baru
menetas (umur D1) jika terlihat ada telur dan cangkang telur yang
mengendap. Penyiponan selanjutnya dapat
dilakukan pada saat larva berumur D8 - D17, dan setelah larva diberi pakan buatan (pelet)
secara penuh, penyiponan dilakukan setiap hari.
2.4.3 Pemberian Fitoplankton (Nannochloropsis sp.)
Fitoplankton yang diberikan ke dalam bak
pemeliharan larva adalah Nannochloropsis
sp. dengan kepadatan (10 - 15) x 106 sel/ml sebanyak 40 - 60 liter. Kepadatan Nannochloropsis
sp. di bak larva dipertahankan (3 - 5) x 105 sel/ml (Sugama et al., 2003). Nannochloropsis sp. yang diberikan ini untuk makanan Rotifera dan
mempertahankan warna air agar berwarna selalu hijau yang selanjutnya dapat
meratakan intensitas cahaya dalam air.
Warna air hijau dapat menghindari terjadinya larva menggerombol di satu
tempat dalam bak.
Larva kakap putih sangat sensitif terhadap
perputaran air (turbulence), oleh
karena itu pemberian plankton harus dilakukan secara perlahan dengan
menggunakan selang kecil selama beberapa jam.
Prosentase pergantian air yang cukup besar pada
malam hari menyebabkan air bak pemeliharaan larva menjadi bening pada pagi
hari, hal ini dikarenakan fitoplankton banyak yang keluar adanya sirkulasi
air. Sehingga warna air menjadi bening
dan harus ditambahkan fitoplankton sebelum matahari terbit dan dibantu dengan
pemberian penerangan lampu neon di atas bak untuk meningkatkan populasi
fitoplankton. Akibat prosentase
pergantian air yang besar, selain penambahan fitoplankton juga dibantu dengan pemberian acriflavin 0.5 - 1 ppm. Acriflavin ini berwarna hijau kekuningan
dan berfungsi sebagai pewarna air agar larva tidak berkumpul di salah satu
tempat dan sebagai bahan antiseptik.
2.4.4 Pengaturan Suhu
Suhu air pemeliharaan larva kakap putih dijaga
agar tetap stabil yaitu berkisar antara 28 - 31oC. Dan kisaran ini masih baik untuk kelangsungan
hidup larva. Sugama et al. (2003) menambahkan, bahwa suhu optimal yang menghasilkan Survival Rate (SR) larva terbaik adalah
suhu 28 oC. Untuk menghindari
fluktuasi suhu yang terlalu besar, maka bak pemeliharaan larva dibuat di dalam
ruangan tertutup (indoor) dan pada malam hari bak ditutup menggunakan plastik
transparan.
2.4.5 Pengaturan Cahaya
Cahaya diperlukan larva supaya dapat melihat
dan memangsa terhadap pakan yang diberikan.
Larva pada stadia awal membutuhkan intensitas cahaya 1000 Lux dan
fotoperiod lebih dari 10 jam untuk memburu pakan secara optimal. Sugama et
al. (2001) selanjutnya mengatakan bahwa untuk mencegah bergerombolnya larva
pada permukaan air dapat dipasang lampu neon TL di atas bak larva dengan
intensitas cahya minimum 800 lux. Pengaturan
pencahayaan juga bertujuan untuk memperpanjang aktivitas metabolism larva dan
menjaga kesetabilan intensistas cahaya dalam air.
Pencahayaan
dilakukan dengan menggunakan lampu neon TL 40 watt sebanyak satu buah yang
dipasang di atas bak pada jarak 40 - 60 cm dari permukaan air dan lampu neon
ini dapat diatur ketinggiannya dari permukaan air. Sebelum larva umur D10 pencahayaan lampu neon
diatur supaya intensitas yang dihasilkan 1000 - 1500 Lux, sedangkan setelah larva
umur D10 intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah 600 - 1000 Lux. Lamanya penggunaan lampu neon mulai dari jam
06.00 – 19.00 WIB.
2.4.6 Pengaturan Aerasi
Pengaturan aerasi baik penempatan titik aerasi
dan kecepatan aerasinya dilakukan berdasarkan perkembangan dan umur larva. Untuk bak larva volume 2 m3 , jumlah
titik aerasi yang digunakan sebanyak 8 buah yang ditempatkan di pinggir atau menempel
pada dinding bak, serta satu titik aerasi ditempatkan ditengah bak.
Pengaturan kecepatan aerasi pada larva umur D0 -
D2 aerasi diberikan agak besar untuk menghindari telur atau larva mengendap di
dasar bak. Larva umur D3 - D10,
kecepatan aerasi diperkecil sampai kecepatan sedang agar pergerakan larva di
dalam air membentuk kelompok dan mudah memangsa Rotifera. Larva umur D11 - D40,
kecepatan aerasi ditambah sedikit demi sedikit sampai besar untuk menghindari
larva bergerombol di satu tempat dan meningkatkan kandungan oksigen terlarut
dalam air.
2.4.7 Pemberian Minyak Cumi
pada Permukaan Air Bak
Pemberian minyak cumi dilakukan dengan
meneteskan minyak cumi di atas permukaan air sedikit demi sedikit menggunakan
pipet tetes, agar minyak cumi tersebar merata dan tidak menggumpal. Pada larva kakap putih, pemberian minyak cumi
ini dilakukan pada umur D0 - D8. Dosis
minyak cumi yang diberikan adalah 0.3 ml/m2 luasan permukaan air bak setiap
harinya. Pemberian dilakukan 2 kali
sehari pada jam 06.00 dan 15.00. Tujuan
utama pemberian minyak cumi adalah untuk
mencegah kematian larva yang mengapung akibat terperangkap tegangan permukaan
air.
2.4.8 Pengamatan Parameter
Kualitas Air
Kualitas dalam pemeliharaan larva harus selalu
terkontrol dan stabil, karena perubahan salah satu parameter kualitas air yang
drastis atau mendadak dapat menyebabkan larva stress dan mudah terserang
penyakit. Sehingga dilakukan pengamatan
kualitas air untuk mengetahui fluktuasi hariannya. Pengamatan atau pengecekan parameter kualitas
air dilakukan setiap hari selama pemeliharaan larva. Untuk melihat kualitas air harian dilakukan
pengecekan kualitas air pada pagi dan sore hari, sedangkan untuk melihat
kualitas air bulanan pengecekan dilakukan setiap 2 jam sekali selama 24
jam. Pengecekan bulanan ini dilakukan
sebulan 2 kali (2 minggu sekali). Parameter
kualitas air yang sering diamati adalah suhu, salinitas, pH, DO (oksigen
terlarut), kekeruhan dan konduktifitas.
Pengukuran kualitas air menggunakan alat digital, sehingga lebih mudah,
praktis dan cepat menghasilkan data. Di
bawah ini adalah nilai parameter kualitas air yang optimal pada bak
pemeliharaan larva :
Suhu : 28 - 30 oC
Salinitas : 28 – 30 ppt
pH : 7.5 – 8.0
DO (Dissolved Oxygen) : >
3.5 ppm
2.5 Pengendalian Penyakit
Selama pemeliharaan larva kakap putih, penyakit
yang sering menyerang adalah penyakit yang disebabkan bakteri. Jenis bakteri yang sering muncul adalah Vibrio sp. dan penyakitnya disebut
vibriosis. Bakteri Vibrio sp. ini bersifat oportunis dan akan patogen jika larva atau
juvenil dalam kondisi stress. Juvenil
yang terinfeksi vibriosis tubuhnya akan terlihat berwarna gelap, sedangkan
untuk ikan yang lebih besar akan memperlihatkan luka pada permukaan tubuhnya. Selain itu gejala lainnya adalah nafsu makan
berkurang, berenang lemah, pembusukan pada sirip (fin rot), pangkal sirip ekor dan mulut merah, mata menonjol dan
terjadi penggumpalan cairan pada perut (perut kembung). Umumnya bakteri Vibrio menyerang larva pada
umur D17 dan merupakan penyebab kematian yang besar selain penyakit viral
(Kurniastuty et al., 2004). Pengobatan
dapat dilakukan dengan perendaman Acriflavin 10 ppm selama 2 jam atau dengan
perendaman Oxytetracycline 10 ppm selama 1 jam selama 5 hari berturut-turut. Selain itu bisa juga diberikan
chlorampenichol 0.2 kg/kg pakan selama 4 hari atau Sulphoamide 0.5 g/kg pakan
selama 7 hari (Kurniastuty et al.,
2004).
Selain penyakit vibriosis juga ada penyakit
yang disebabkan oleh virus. Penyakit
virus yang sering menyerang pada larva kakap putih adalah VNN (Viral Necrotic Nervous) yang disebabkan
oleh nodavirus. Virus ini menyebabkan
kematian massal pada larva atau juvenil, dengan ciri-ciri mula-mula tenggelam
di dasar bak kenudian akan mengapung di permukaan air dengan perut menggembung. Kurniastuty et al. (2004) menambahkan, penyakit viral VNN yang menginfeksi
larva dapat mengakibatkan kematian total 100% dalam tempo yang relatif singkat
(1-2 minggu). VNN sampai sekarang tidak ada obatnya dan hanya bisa dilakukan
upaya pencegahannya.
Upaya pencegahan terhadap penyakit yang
dilakukan yaitu sterilisasi air laut menggunakan UV (Ultraviolet), sterilisasi
semua peralatan dan fasilitas dengan bahan disinfektan berupa kaporit 100 ppm, penebaran telur yang bebas VNN (berdasarkan
hasil deteksi Polymerase Chain Reaction
(PCR)), perendaman telur dengan iodin 20 ppm selama 15 menit, mengurangi kepadatan larva, menghindari larva
stress dengan menjaga kualitas air yang baik serta kualitas dan kuantitas
pakan, pemberian Oxytetracycline 1 ppm
selama pengkayaan pakan alami, pemberian elbazine 1 ppm seminggu sekali pada
media pemeliharaan larva untuk mencegah kontaminasi bakteri, dekapsulasi
siste Artemia dengan kaporit, dan perendaman larva atau juvenil dengan larutan vaksin polivalen Vibrio selama 30 menit dengan aerasi kuat Kepadatan juvenil pada saat perendaman 200
ekor/10 L air laut.
2.6 Panen Juvenil dan Grading
Juvenil ikan kakap putih memiliki sifat
berenang mengelilingi bak. Pemanenan
juvenil ikan kakap putih dilakukan pada umur D40 dengan kisaran panjang 2 - 3
cm. Pemanenan dilakukan dengan menurunkan air bak secara
perlahan-lahan sampai ketinggian air mencapai 20 cm. Setelah itu juvenil diserok menggunakan
serokan (scoop net), kemudian juvenil
ditampung di baskom/keranjang yang diberi aerasi.
Juvenil
yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan ukurannya (grading). Grading merupakan upaya untuk menyeragamkan pertumbuhan
juvenil dan meminimalisasi kematian akibat kanibalisme. Karena sebagai ikan karnivora, ikan kakap
putih memiliki sifat untuk saling memangsa.
Kanibalisme ini muncul akibat kekurangan makanan dan perbedaan ukuran
ikan, sehingga ikan yang berukuran besar cenderung memangsa ikan yang berukuran
lebih kecil. Juvenil atau benih yang
sudah digrading selanjutnya dihitung jumlahnya untuk mengetahui tingkat
kelangsungan hidup larva (Survival Rate
(SR)). Tingkat kelangsungan hidup (SR)
larva ikan kakap putih sampai ukuran juvenil (2 - 3 cm) berkisar antara 30 - 50 %.
3 Pendederan Benih
3.1 Pemeliharaan Benih
(Pendederan)
Pendederan benih ikan
kakap putih biasanya dibagi menjadi dua yaitu pendederan I dan pendederan
II. Pendederan I ikan yang dipelihara
mulai dari juvenil ukuran 2 - 3 cm sampai ukuran 5 – 7 cm dengan lama
pemeliharaan 1
bulan. Sedangkan pada pendederan II ikan
yang dipelihara dari ukuran 5 - 7 cm sampai 10 - 15 cm dengan lama pemeliharaan
1 - 2 bulan. Kepadatan yang dipakai
untuk pemeliharaan pada pendederan I adalah 1500 ekor/m3 dan
kepadatan untuk pendederan II adalah 600 ekor/ m3. Kepadatan ini adalah kepadatan yang
optimum untuk pendederan, jika kepadatan juvenil terlalu tinggi ikan gampang
stress dan dapat mudah terserang penyakit bakterial maupun virus.
Juvenil ikan kakap putih pada masa-masa awal pemeliharaan masih berenang mengelilingi
bak. Setelah itu juvenil akan cenderung
berkumpul di dasar bak, sehingga tidak perlu menggunakan ukuran bak besar untuk
pendederan. Bak yang dipakai berukuran 5 - 10 m3. Bentuk bak pemeliharaan baik berbentuk bulat
atau persegi panjang dapat digunakan dan memberikan hasil yang tidak berbeda
nyata (sama).
3.2 Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan berupa pakan buatan (pelet)
dan ikan rucah yang dipotong-potong berdasarkan lebar bukaan mulut ikan. Sirip, duri, tulang, jeroan dan kepala ikan
rucah sebelumnya dibuang dahulu sebelum dipotong-potong. Jenis ikan rucah yang sering diberikan adalah
ikan benggol, kembung dan mata besar.
Pemberian pelet dapat dilakukan setiap 3 - 4 jam sekali sehari secara ad-satiation (sekenyang-kenyangnya) dan
ikan rucah mulai diberikan sebanyak 1 - 2 kali sehari pada pendederan II. Ukuran butiran pelet yang diberikan harus
disesuaikan dengan lebar bukaan mulut ikan dan biasanya setiap 10 - 14 hari
sekali, ukuran butiran pelet yang diberikan akan berubah setahap demi setahap
menjadi ukuran yang lebih besar.
Pemberian ukuran pelet ini bersifat relatif, tergantung dari pertumbuhan
ikan. Pemilihan jenis pakan buatan
komersil harus didasarkan pada kandungan nutrisinya (protein min 45%) dan
harga.
Jumlah pakan dan berat ikan yang mati setiap
harinya harus dicatat dalam buku data, untuk mengetahui konversi pakan (Feed Conversion Ratio (FCR)), efisiensi
pakan (EP), dan tingkat pemberian pakan (Feeding
Rate (FR)) pada akhir pemeliharaan.
Di bawah ini disajikan rumus-rumus FCR, EP dan FR :
1. 
BBM = Bobot biomassa ikan
2. 
3.
atau
4. 
Pada pendederan ikan kakap
putih FCR rata-rata sebesar 1,10 dengan Efisiensi pakan 90,81% dan FR
5,16%. FCR
1,10, berarti untuk menghasilkan 1 kg daging ikan dibutuhkan sebanyak 1,10 kg
pakan. Nilai FCR ini masih tergolong
kecil dan sanagat baik untuk pendederan.
3.3 Pengelolaan Kualitas Air
Pemberian pelet dengan kandungan protein yang
tinggi maupun pemberian ikan rucah, menyebabkan kualitas air cepat jelek dan
kotor. Untuk itu dalam kegiatan
pendederan ini menggunakan sistem air mengalir dengan pergantian air minimal
400%. Air yang digunakan untuk bak
pendederan adalah air yang sudah melewati filter fisik dan mesin UV.
Pembersihan dasar bak (sipon) dilakukan dua
kali setiap hari yaitu pagi dan sore setelah pemberian pakan, tujuannya untuk
membersihkan dasar bak dari feses ikan, sisa pakan, ikan mati maupun
bahan-bahan organik lainnya. Karena
kotoran-kotoran yang terakumulasi di dasar bak jika tidak dibersihkan, maka
pada malam harinya akan terdekomposisi dan mudah memunculkan serangan penyakit
bakterial. Setelah disipon dilakukan
penyikatan dinding dan dasar bak, serta penurunan ketinggian air sampai 70%
agar kualitas air tetap baik (bersih dan tidak keruh).
3.4 Pengendalian Penyakit dan
Parasit
Pencegahan terhadap serangan penyakit dan
parasit dilakukan dengan memanajemen dengan baik pengelolaan kualitas air,
pemberian pakan yang cukup mutu dan jumlahnya, dan padat penebaran ikan yang
tidak terlalu tinggi. Selain itu
kegiatan rutin yang sering dilakukan adalah perendaman benih dalam air tawar selama 5 - 10
menit, bisa juga ditambahkan acriflavine 10 ppm dan atau formalin 200 ppm. Biasanya setelah direndam, parasit
yang menempel pada permukaan tubuh, mata dan insang ikan akan lepas. Perendaman ini dilakukan satu kali setiap
bulan. Jika terlihat benih ada yang sakit,
maka benih tersebut langsung direndam dan diobatin, setelah itu dipelihara di
bak terpisah untuk mengurangi tingkat penularan penyakit ke benih yang sehat.
usaha pengendalian penyakit seperti yang
dijelaskan di atas, juga dilakukan kegiatan vaksinasi dengan vaksin polivalen Vibrio. Vaksinasi dilakukan 3 kali yaitu vaksinasi
pertama pada juvenil ukuran
2 - 3 cm dilakukan dengan metode perendaman, dimana juvenil direndam dengan
larutan vaksin selama 30 menit dengan aerasi kuat. Vaksinasi kedua pada benih ukuran 10 - 15 cm
dilakukan dengan metode suntikan, vaksin disuntikkan secara intraperitoneal di
bagian tengah perut, tepat di atas sirip perut dan di bawah operkulum dengan
dosis 0,1 ml/ikan. Vaksinasi yang
ketiga dilakukan seminggu setelah vaksinasi kedua dengan cara yang sama yaitu
metode suntikan. Benih dapat ditebar ke
keramba satu minggu setelah vaksinasi yang ketiga. Benih minimal divaksin sebanyak 2 kali.
3.5 Grading dan Sampling
Grading atau pemilahan ukuran adalah salah satu
kegiatan dalam pendederan untuk menyeleksi sekaligus memilah-milah benih sesuai
dengan ukurannya. Tujuannya untuk
mendapatkan benih yang seragam (seukuran) dengan bentuk tubuh yang ideal (tidak
cacat) dan untuk mengurangi sifat kanibalisme (saling memangsa) (Gambar 17). Sifat kanibal ini akan sedikit berkurang pada
ikan yang berukuran sama atau seragam.
Benih biasanya dipisahkan menjadi 3 ukuran, yaitu ukuran small (S), medium (M)
dan large (L). Benih-benih yang memiliki
ukuran berbeda-beda ini kemudian dihitung dan dipelihara pada bak yang terpisah. Grading dapat dilakukan sebanyak 1 - 2 kali
dalam sebulan, tergantung dari pertumbuhan dan perbedaan ukuran benih.
Sampling biasanya dilakukan setelah kegiatan
grading, dengan mengambil 100 ekor dari masing-masing ukuran benih kemudian
diukur panjang dan beratnya. Dengan
kegiatan grading dan sampling yang rutin dapat diketahui survival rate (SR), pertumbuhan relatif (α) maupun bobot biomassa
(BBM) benih. Rumus untuk mengetahui SR,
pertumbuhan relatif dan bobot biomassa disajikan di bawah ini :
1. 
2. 
t =
waktu atau lamanya pemeliharaan ikan (hari)
3. 
4. 
Survival Rate
(SR) rata-rata pada pendederan ikan kakap putih berkisar 85-95% dengan pertumbuhan relatif
sebesar 4,69%. SR ini cukup baik
untuk kegiatan pendederan kakap putih.
Kematian pada pendederan kakap putih banyak disebabkan oleh penyakit
bakterial dan juga sifat kanibalisme yang tinggi.
4. Kultur Pakan Alami Nannochloropsis sp. dan Brachionus sp. Skala Laboratorium
4.1 Kultur Nannochloropsis sp. Skala Laboratorium
(Kultur Murni)
Pakan alami merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan dari kegiatan pembenihan ikan kakap putih. Karena pakan alami merupakan pakan yang
pertama kali dimakan oleh larva ikan setelah yolk eggs habis diserap larva dan pakan alami memiliki ukuran yang
sangat kecil sesuai ukuran bukaan mulut larva.
Selain itu pakan alami ini memiliki kandungan nutrisi yang sangat
penting untuk pertumbuhan larva, terutama kandungan asam amino dan asam lemak
esensial serta vitamin. Pakan alami yang
sering digunakan untuk pembenihan ikan kakap putih adalah jenis fitoplankton Nannochloropsis sp dan jenis zooplankton
Brachionus sp. (golongan
Rotifera). Nannochloropsis sp. berukuran 2 – 4 μm berwarna hijau memiliki
kandungan EPA (Eicosapentaenoic Acid) 30.5 %, total omega 3 HUFAs 42.7 % dan
Vitamin B12 (Anonim, 2002). Vitamin B12
sangat penting untuk populasi Brachionus
sp. sedangkan EPA penting untuk nilai nutrisi Brachionus sp. untuk pakan larva ikan kakap putih. Nannochloropsis
sp. dikultur untuk pakan Brachionus
sp. sedangkan Brachionus sp. dikultur
untuk pakan larva ikan kakap putih.
Kultur murni Nannochloropsis sp. dilakukan di dalam laboratorium dengan suhu
yang stabil antara 20 - 25 oC, hal ini bertujuan untuk menjaga
kemurnian Nannochloropsis sp. dan
agar tidak ada kontaminasi dari mikroorganisme lain seperti jenis alga yang
lain dan protozoa. Karena dengan suhu
rendah dan stabil akan mengurangi kompetitor dan memberikan pengaruh terhadap
pertumbuhan Nannochloropsis sp. yang
dikultur agar tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat (tidak cepat
drop), sehingga Nannochloropsis sp.
kualitasnya lebih bagus dan awet.
Pencahyaan untuk Nannochloropsis
sp. berfotosintesis diatur supaya intensitas cahaya yang dihasilkan antara 8000
– 10000 Lux, yaitu dengan penambahan beberapa lampu neon TL 40 watt.
Tahapan pada kultur murni Nannochloropsis sp. adalah sterilisasi alat dan bahan, kultur dan
inokulasi, serta observasi kualitas dan kuantitas Nannochloropsis sp. di bawah mikroskop. Pada tahapan sterilisasi, semua alat seperti
tabung reaksi 22 ml, erlenmeyer 500 ml, 3000 ml dan 5000 ml yang sudah diisi
air laut dan selang aerasi serta tutup plastik, semuanya diautoclave dengan
suhu 121 oC tekanan 15 psi selama 15 menit untuk membunuh mikroorganisme
yang tidak diinginkan. Sebelum dilakukan
kultur murni ada tahapan yang harus dilakukan terlebih dahulu, yaitu tahapan
isolasi Nannochloropsis sp. dari laut
(alam). Cara mengisolasi Nannochloropsis sp. dari laut yaitu
dengan penyaringan menggunakan planktonet dengan beberapa ukuran mata jaring
antara 4 – 20 μm. Setelah alga tersaring
dilakukan pengamtan di bawah mikroskop dan dipisah-pisahkan sesuai jenisnya
menggunakan pipet kapiler, untuk selanjutnya di gores atau disebar di atas
media agar cawan yang sudah ditambahkan pupuk Conwy/Walne. Koloni alga yang tumbuh digores lagi ke media
agar agar benar-benar terdapat koloni tunggal, terakhir koloni tunggal dikultur
pada media cair yang sudah dipupuk dan alga diamati dibawah mikroskop lagi
untuk melihat kembali kemurnian alga.
Setelah benar-benar didapatkan Nannochloropsis
sp. yang murni kemudian dijadikan bibit (inokulan) untuk tahap kultur murni di
laboratorium.
Tahapan pertama sebelum
kultur murni Nannochloropsis sp.
yaitu media air laut pada tabung reaksi 22 ml, 500 ml, 3000 ml dan 5000 ml yang
sudah di autoclave, semua dipupuk menggunakan pupuk cair Conwy/Walne dengan
dosis 1 ml/liter media. Selanjutnya
dilakukan tahapan inokulasi atau pemberian inokulan Nannochloropsis sp. ke dalam media kultur. Inokulan murni yang dipakai adalah Nannochloropsis sp. yang berasal dari
tahapan isolasi atau dari kultur murni yang sudah jadi. Pemberian inokulan
awal Nannochloropsis sp. sebanyak 10 – 20 % dari
volume media atau dengan kepadatan
awal 3 – 4 juta sel/ml (3 – 4 x 106 sel/ml). Setelah proses inokulasi, media kultur di
erlenmeyer diberi aerasi sedang sebagai sumber karbondioksida (CO2),
sedangkan untuk media di tabung reaksi cukup dibolak-balik 3 kali/hari. Inkubasi dilakukan selama 5 - 6 hari atau
pada saat Nannochloropsis sp. mencapai pertumbuhan
eksponensial (kepadatan optimal) yaitu antara 40-50 x 106 sel/ml. Kultur dilakukan bertingkat mulai dari kultur
media tabung reaksi 22 ml (inokulan dari kultur tabung reaksi), 500 ml
(inokulan dari kultur tabung reaksi), 3000 ml (inokulan dari kultur erlenmeyer
500 ml) dan 5000 ml (inokulan dari kultur erlenmeyer 500 ml). Pengamatan kualitas Nannochloropsis sp.
meliputi bentuk sel, pigmen klorofil dan kontaminasi dari protozoa maupun alga
yang lain, diamati di bawah mikroskop.
Sedangkan pengamatan kuantitas Nannochloropsis
sp. yaitu dengan penghitungan
jumlah sel/ml dengan haemocytometer. Nannochloropsis sp. hasil kultur murni kemudian menjadi inokulan atau bibit untuk kultur
semi massal dan massal. Di bawah ini
adalah komposisi pupuk Conwy/Walne, trace metal dan vitamin:
Pupuk Kultur Murni (pupuk Conway/Walme):
1. NaNO3 / KNO3 100 / 116 g
2. Na2HPO4.2H2O 20 g
3. H3BO3 33.6 g
4. Na2EDTA 45 g
5. MnCL2 0.36 g
6. FeCl3.6H2O 1.3 g
7. Trace Metal Solution)* 1 ml
8. Larutan Vitamin)** 1 ml
9. Aquadest 1000
ml
Penggunaaan : 1 ml/L media
)*Trace Metal Solution :
1. ZnCL2 2.1
g dalam 500 ml aquadest
2. CoCL2.6H2O 2 g dalam 500 ml
aquadest
3. CuSO4.5H2O 2 g dalam 500 ml
aquadest
4. (NH4)6.Mo7.O24.4H2O 0.9 g dalam 500 ml aquadest
)**Larutan Vitamin :
1. Vitamin H (Biotin) 0.025 g dalam 500 ml aquadest steril
2. Vitamin B1 (Thiamin) 0.175 g dalam 500 ml aquadest steril
3. Vitamin B12 0.175
g dalam 250 ml aquadest steril
Cara pembuatan pupuk
Conwy/Walne 1 liter yaitu dengan mencampurkan Larutan A (melarutkan NaNO3, Na2HPO4.2H2O,
H3BO3, Na2EDTA,
MnCL2 ke dalam 500
ml akuades) dan larutan B (melarutkan FeCl3.6H2O
ke dalam 200 ml akuades), kemudian ditambahkan trace metal solution
masing-masing sebanyak 1 ml dan terakhir tambahkan lagi akuades sampai 1
liter. Pupuk Conwy/Walne disterilisasi
dengan autoclave suhu 121 oC tekanan 15
psi selama 15 menit, kemudian tambahkan vitamin masing-masing 1 ml dari stok
primer.
Untuk menjaga
kesinambungan stok murni Nannochloropsis sp., kultur pada media agar dan
tabung reaksi dapat disimpan di kulkas dengan suhu 4 oC. Penyimpanan stok murni Nannochloropsis sp.
dapat bertahan 1 – 6 bulan dan dapat digunakan sebagai bibit kultur apabila Nannochloropsis sp.
mengalami penurunan kualitas.
4.2 Kultur Brachionus sp. Skala Laboratorium
Kultur Brachionus
sp. pada skala laboratorium dilakukan secara bertingkat, dari wadah yang
meiliki volume kecil sampai ke volume yang lebih besar, yaitu dari tabung
reaksi volume 22 ml, erlenmeyer volume 500 ml, 3000 ml dan 5000 ml. Kultur pada media erlenmeyer membutuhkan
aerasi sedang sebagai sumber oksigen Brachionus
sp. dan untuk meratakan penyebaran pakan (pakan tidak mengendap). Pemberian inokulan
awal Brachionus
sp. dengan kepadatan 10
ekor/ml media. Media kultur yang
digunakan adalah green water atau media hasil kultur Nannochloropsis sp.. Pakan yang diberikan melalui penambahan Nannochloropsis sp.
dengan kepadatan tertentu dan penambahan dilakukan setelah jumlah pakan
berkurang atau habis, hal ini dapat terlihat dari media kultur yang menjadi
bening (± 3 hari).
Penghitungan kepadatan Brachionus sp. dilakukan di bawah mikroskop dengan alat Sedgewick Rafter dan alat bantu hand counter. Sedangkan ukuran Brachionus sp. dapat diukur dengan alat micrometer pada lensa
okuler mikroskop. Pengukuran perlu
dilakukan untuk mengetahui ukuran yang sesuai sebagai pakan larva (sesuai
ukuran lebar bukaan mulut larva).
Pemanenan Brachionus sp. dapat
dilakukan setelah 4 – 5 hari atau mencapai kepadatan 100 – 200 ekor/ml dengan
penyaringan menggunakan planktonet ukuran 40 μm atau memanen bersama dengan media
kulturnya.
5. Kultur Nannochloropsis sp. dan Brachionus sp. Skala Semi Massal dan
Massal
5.1 Kultur Nannochloropsis sp. Skala Semi Massal
dan Massal
Kultur
massal Nannochloropsis sp. memiliki peranan yang sangat
penting bagi usaha pembenihan ikan kakap putih.
Karena keberhasilan kultur massal Nannochloropsis
sp. akan menentukan keberhasilan
kultur massal Brachionus sp., hal ini
disebabkan Nannochloropsis sp. merupakan pakan utama dari Brachionus sp. sedangkan Brachionus sp. sendiri merupakan pakan
alami larva ikan kakap putih.
Tahapan kultur semi
massal dan massal yaitu sterilisasi alat, wadah dan air, serta kultur dan
inokulasi. Wadah yang dipakai untuk
kultur semi massal adalah akuarium volume 100 liter, bak fiber volume 350
liter, bak fiber volume 1000 liter, sedangkan untuk kultur massal menggunakan
wadah bak beton volume 10 m3 serta bak fiber volume 30 m3. Kultur dilakukan secara bertingkat mulai dari
akuarium 100 liter, bak fiber 350 liter, bak fiber 1 m3 dan bak
beton 10 m3. Wadah dan
peralatan aerasi seperti selang aerasi dan batu aerasi dicuci dengan sabun atau
deterjen dan dibilas dengan air tawar sampai bersih. Air laut disterilisasi dengan kaporit Ca(OCL)2
20 ppm (20 g kaporit/ton air media yang digunakan) untuk skala semi massal akuarium 100 L dan bak fiber 350 L. Sedangkan untuk skala massal dosis kaporit
yang digunakan 15 ppm (15 g/ton).
Sterilisasi air dilakukan sehari sebelum digunakan, dan saat pemberian
kaporit, aerasi dihidupkan ± 1 - 2 menit agar kaporit larut. Kemudian aerasi dimatikan dan dibiarkan
seharian. Pagi hari aerasi dihidupkan
kembali secara kuat dan mulai dicek dengan chlorine test, jika air berwarna
kuning kecoklatan maka air dinetralkan dengan Natrium Thiosulphat (Na2S2O3) dengan
dosis ½ dari berat kaporit yang digunakan.
Tetapi pada saat penetralan Na-Thio yang diberikan ¾ dari berat Na-Thio
awal. Cek lagi dengan chlorine test,
jika air berwarna bening/jernih maka air sudah netral. Dan jika masih belum
netral (masih berwarna kuning muda tipis) ditambahakan Na-Thio ¼ lagi. Untuk meyakinkan air sudah netral selain di
cek dengan chlorine test juga dilakukan pembauan. Air yang sudah netral ini juga disimpan pada
ember-ember besar steril yang dilengkapi dengan tutup, fungsinya untuk
menggelontor pompa dan selang yang akan digunakan untuk kultur. Air netral dapat disimpan maksimal selama 2
hari. Sebelum digunakan untuk kultur,
pompa dan selang aerasi serta peralatan lainnya seperti ember, gayung, dibilas
atau digelontor dengan air laut steril yang sudah netral.
Pupuk yang digunakan
untuk kultur semi massal dan massal adalah pupuk teknis, yaitu Urea 30 ppm, TSP
15 ppm, ZA 40 ppm, EDTA 2 ppm, FeCl3 1 ppm. Masing-masing pupuk ditimbang dan ditaruh
diwadah yang berbeda, kemudian dimasukkan satu persatu ke dalam air tawar yang
sudah mendidih, secara berurutan : 1) Urea, 2) ZA, 3) EDTA, 4) TSP kemudian 5)
FeCl3 (sebelumnya FeCl3 dilarutakan dalam air tawar panas
terlebih dahulu). Tunggu sebentar sampai
semua pupuk larut. Kemudian pupuk cair
yang sudah jadi dipindahkan ke ember steril yang dilengkapi dengan tutup. Pada musim hujan atau sering mendung,
pemupukan dapat dilakukan sebanyak 3 kali pada hari pertama, kedua dan ketiga
kultur, dengan dosis pupuk dibagi rata.
Inokulan
awal Nannochloropsis sp. sebanyak
10 – 20 % dari volume media atau kepadatan awal yang digunakan 2 – 4 juta sel/ml (2 – 4 x 106 sel/ml). Inkubasi dilakukan selama 6 hari dengan
aerasi sedang hingga kepadatan Nannochloropsis
sp. mencapai 10-20 x 106 sel/ml selanjutnya
dilakukan observasi kualitas dan kuantitas Nannochloropsis
sp. Sebelum kultur (inokulasi),
inokulan yang akan dipakai di amati dahulu di
bawah mikroskop untuk melihat kualitas (ada tidaknya kontaminasi dari
protozoa maupun algae lain) dan kuantitas sel (kepadatan sel/ml). Botol-botol sampel yang digunakan untuk
mengambil sampel Nannochloropsis sp.,
harus disterilisasi dengan perebusan atu diautoclave.
5.2 Kultur Brachionus sp. Skala Semi Massal dan
Massal
Kultur Brachionus sp. dilakukan secara
bertingkat mulai dari akuarium volume 100 liter, bak fiber bulat 500 liter dan
bak fiber bulat 10 m3. Media
kultur yang digunakan adalah green water
atau hasil kultur massal Nannochloropsis
sp. dengan kepadatan 10 x 106 sel/ml. Pemberian algae jenis Nannochloropsis sp. sebanyak 50% dari volume wadah kultur dan
dengan pemberian inokulan awal Brachionus
sp. kepadatan 40-50 ekor/ml media. Inkubasi dilakukan selama 4 - 5 hari atau
kepadatan Brachionus sp. mencapai 100
– 200 ekor/ml. Penambahan Nannochloropsis sp. dilakukan setelah
jumlah Nannochloropsis sp. berkurang
atau habis, hal ini dapat terlihat dari media kultur yang menjadi bening. Pada kultur skala semi massal (akuarium 100
liter), Yeast atau ragi roti dapat
ditambahkan setiap 2 hari sekali sebanyak 0,36 g yeast/10 liter media sebagai
pakan tambahan pada awal kultur.
Pada saat panen, Brachionus sp. dalam bak kultur tidak
dihabiskan tapi disisakan sebagian atau 50% dari total volume sebagai bibit
untuk kultur selanjutnya, kemudian bak kultur diisi kembali dengan Nannochloropsis
sp. hingga volume semula. Bersamaan
dengan kegiatan itu, harus dipersiapkan kultur Nannochloropsis sp. di dalam bak yang lain, sehingga setiap selesai panen sudah harus
tersedia Nannochloropsis sp. dalam jumlah yang cukup. Panen Brachionus
sp. dapat dilakukan setiap hari pada bak kultur yang sama hingga bak kultur
terlihat kotor. Panen dapat dilakukan
sebanyak 7 – 10 kali, kemudian bak dipersiapkan dari awal kembali. Panen dilakukan dengan mengalirkan air kultur
Brachionus sp. ke wadah ukuran 40 x
40 x 60 cm yang sudah dilengkapi dengan planktonet 40 μm. Setelah dipanen, kepadatan Brachionus sp. di bak pemanenan
diusahakan mencapai 200 ekor/ml dan siap untuk di enrichment.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim. 2002. Budidaya
Fitoplankton dan Zooplankton. Balai Budidaya Laut Lampung. Direktorat
Jenderal Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan. Hal 7 – 8.
Kurniastuty, T. Tusihadi dan P. Hartono. 2004. Hama dan Penyakit Ikan dalam Pembenihan Ikan
Kerapu. Departemen Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan
Budidaya. Balai Budidaya Laut Lampung. Bandar Lampung. Halaman 77 – 89.
Sugama, K., Tridjoko, B. Slamet, S. Ismi, E. Setiadi dan S.
Kawahara. 2001. Petunjuk Teknis Produksi
Benih Ikan Kerapu Bebek, Cromileptes altivelis. Balai Riset Budidaya Laut
Gondol – JICA. Bali. 40 Halaman.
Sugama, K., S. Ismi, S. Kawahara and M. Rimmer. 2003. Improvement of Larval Rearing Technique for
Humback Grouper (Cromileptes altivelis). Aquaculture Asia Megazine July - September
2003. NACA. Bangkok. Thailand. Page 34 - 37.
No comments:
Post a Comment