Monday, November 13, 2017

TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN KAKAP PUTIH Lates calcarifer



   
1. Teknik Pemeliharaan dan Pemijahan Induk
1.1 Pemeliharaan Induk
Induk-induk ikan kakap putih dipelihara dalam bak beton atau bak fiber berbentuk bulat dengan volume 50 - 200 m3 (ton) dengan kedalaman  2 - 3 m.  Bak induk dilengkapi dengan aerasi, pipa pemasukan air (inlet) dan pipa pengeluaran air (outlet) bawah 2 - 4 inci, pipa outlet atas 2 – 4 inci yang terletak tepat di atas bak penampungan telur, serta bak penampungan telur dengan dimensi 2 x 2 x 1 m.  Bak pemeliharaan induk ini juga sekaligus merupakan bak pemijahan. 
Induk yang dipelihara memiliki bobot tubuh berkisar 1,3 - 5,5 kg dengan panjang tubuh 46 - 67 cm.  Bobot tubuh rata-rata induk jantan 1 – 2 kg dan induk betina > 3 kg.  Kegiatan rutin yang dilakukan setiap 2 - 3 bulan sekali adalah vaksinasi induk, sampling bobot  dan panjang induk.
Pada saat menjelang musim pemijahan (awal bulan terang), induk dipindah ke bak penampungan sementara.  Bak induk dikuras dan teritip yang menempel dibersihkan, kemudian bak disterilisasi dengan kaporit dosis 10.000 ppm yang dilarutkan ke dalam 10 liter air tawar dan disiramkan ke dinding maupun dasar bak sambil dilakukan penggosokan dengan sikat agar lumut yang menempel mati.  Terakhir bak dicuci bersih menggunakan air tawar.  Bak ini diisi air laut kembali sampai penuh sehingga induk dapat dimasukkan kembali ke dalam bak.

1.2 Manajemen Pemberian Pakan
Induk harus diberi pakan yang memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi dan lengkap, karena dapat berpengaruh terhadap pematangan gonad dan kualitas telur yang dihasilkan, yang selanjutnya akan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup larva.  Induk diberi pakan ikan rucah segar seperti ikan benggol, kembung dan mata besar.  Dan sangat dianjurkan untuk memberikan pakan cumi selain ikan rucah pada induk sebanyak 2 kali seminggu.  Sebelum diberikan, ikan rucah yang sudah dihilangkan kepala, ekor dan isi perutnya dipotong-potong sesuai lebar bukaan mulut induk.  Pemberian pakan dilakukan secara at-satiation (sekenyangnya) dengan dosis pemberian pakan 3 – 5 % dari bobot biomassa induk dan diberikan satu kali per hari (pagi hari).  Jumlah pakan per hari yang biasanya dimakan hingga kenyang oleh induk dengan bobot rata-rata 2,8 kg adalah 3 - 4 kg.  Pemberian jenis ikan rucah ini juga dianjurkan saling bergantian dan bisa diberikan campuran dari beberapa jenis ikan.  Pemberian pakan induk cukup dilakukan 5 - 6 kali seminggu dan diselingi dengan pemuasaan induk satu hari, hal ini dimaksudkan agar nafsu makan induk selalu bagus.
Untuk menjaga kesehatan induk dan memacu kematangan gonad, setiap hari induk juga diberikan moist pelet (hasil penelitian kerja sama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB)), serta diberi vitamin B, C dan E yang dimasukkan ke dalam kapsul.  Pemberian vitamin ini dilakukan sebanyak 2 kali/minggu dengan dosis 40 mg/bobot biomassa induk.  Moist pelet dan kapsul vitamin ini dimasukkan ke dalam ikan rucah maupun cumi sebelum diberikan induk.
Ikan rucah, cumi dan moist pelet harus benar-benar segar dan sebaiknya di simpan dalam freezer suhu - 20oC.  Karena pakan yang tetap segar, nutrisinya  akan tetap terjaga dengan baik atau tidak rusak.

1.3 Manajemen Kualitas Air
Sirkulasi air pada bak induk dilakukan secara terus menerus atau sistem air mengalir dengan pergantian air minimal 200% per hari.  Untuk menjaga agar kualitas air tetap baik, setiap 2 hari sekali air diturunkan sampai 70% setelah pemberian pakan, sambil dinding dan dasar bak disikat.  Hal ini bertujuan untuk membuang lumut yang menempel dan sisa kotoran induk.  Pengaturan pembuangan air atas dan air bawah juga dilakukan agar kualitas air dalam bak induk tetap baik, siang hari dilakukan pembuangan air bawah dan malam hari dilakukan pembuangan air atas.  Bak pemeliharaan dan pemijahan induk dikuras dan dibersihkan setiap 2 minggu sekali. 
Kualitas air yang optimal dapat meningkatkan kesehatan dan daya tahan induk terhadap penyakit sebelum melakukan pemijahan.  Di bawah ini adalah nilai parameter kualitas air pada bak pemeliharaan induk :
Suhu                                    :  28 - 31 oC
Salinitas                               : 28 – 30 ppt
pH                                        : 7.5 – 8.0
DO (Dissolved Oxygen)         : 3.5 – 5 ppm
   
1.4 Pemijahan Induk
Ikan kakap putih termasuk ikan yang hermaprodit protandri, dimana dalam satu siklus hidupnya terdapat proses diferensiasi gonad dari fase jantan ke fase betina setelah mencapai umur lebih dari 6 – 8 tahun.  Pada ikan-ikan yang berukuran kecil berjenis kelamin jantan dan setelah besar sampai ukuran tertentu berubah menjadi kelamin betina.  Biasanya ikan yang memiliki berat ±1,2 Kg sudah bisa menjadi induk jantan, sedangkan untuk induk betina minimal memiliki berat 3 kg.
Pada awal pertumbuhannya ikan kakap putih berada dalam habitat air payau atau air tawar selama 2 – 3 tahun lebih.  Dan pada saat perkembangan gonad, ikan kakap mulai bermigrasi ke laut untuk kawin (Katadromous). Pemijahan berlangsung di laut secara bergerombol. 

Keberhasilan pemijahan induk kakap putih ini sangat tergantung dari manajemen pakan, lingkungan dan rangsangan hormonal.  Pemijahan ikan kakap putih dapat dilakukan dengan pemijahan alami (natural spawning), pemijahan buatan (artificial spawning), dan pemijahan dengan rangsangan hormonal (induced spawning).  Dari ketiga metode pemijahan di atas, yang menghasilkan kualitas telur terbaik adalah dengan pemijahan alami (natural spawning) dengan rangsangan hormonal.
Menjelang musim pemijahan (awal bulan terang), dilakukan pengamatan jenis kelamin dan seleksi tingkat kematangan induk dengan metode kanulasi, yaitu dengan memasukkan selang kanula atau kateter yang berdiameter 0,8 - 1 mm ke dalam lubang genital sedalam 4 - 6 cm, lalu dihisap dan dicabut secara perlahan-lahan.  Induk betina yang siap dipijahkan memiliki diameter telur 400 - 500 µm, sedangkan induk jantan terlihat cairan sperma berwarna putih susu pada selang kanula.  Metode kanulasi biasanya dilakukan bersamaan dengan pemindahan induk ke bak penampungan sementara saat bak utama dikuras dan dibersihkan.  Induk-induk yang siap dipijahkan ini yang nantinya akan diberikan rangsangan hormonal yaitu dengan penyuntikan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) seperti Puberogen atau Chorulon sebanyak 250 - 500 IU/kg bobot induk.  Penyuntikan dilakukan secara intramuscular di bagian punggung di bawah sirip dorsal.  Perbandingan induk jantan dan betina adalah 1 : 2.
Pemijahan alami (natural spawning) yang dilakukan adalah dengan memanipulasi lingkungan, yaitu dengan menurunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan induk sampai ±70% pada pagi hari setelah pemberian pakan dan dibiarkan selama 5 - 7 jam dimana sirkulasi air terus dilakukan.  Setelah itu ketinggian air dinaikkan kembali seperti semula.  Penurunan ketinggian air dan penjemuran bak ini dapat menaikkan suhu air di dalam bak sebesar ± 1 - 3oC.  Dan akan terjadi penurunan suhu kembali pada saat penaikan ketinggian air.  Kondisi ini yang dapat merangsang induk untuk memijah.  Perlakuan naik turun ketinggian air ini dilakukan setiap hari sejak induk dimasukkan ke dalam bak pemeliharaan menjelang musim pemijahan.
Pemijahan ikan kakap putih biasanya terjadi pada bulan terang dan terjadi pada malam hari sekitar jam 18.00 - 22.00 WIB.  Telur yang dibuahi akan mengapung di permukaan air dan akan terbawa keluar mengikuti aliran air bagian atas kemudian telur akan tersaring pada jaring pengumpul telur (eggs collector) yang diletakkan di luar bak induk.  Eggs collector ini terbuat dari jaring yang lembut dengan ukuran mata jaring berkisar antara 300 - 400 µm.  Eggs collector ini dipasang pada sore hari dan telur yang terapung dalam eggs collector dipanen pada pagi hari sekitar jam 07.00 - 08.00 WIB.
Telur ikan kakap putih hasil pemijahan yang baik akan melayang dipermukaan air, transparan dan berbentuk bulat dengan diameter 600 -800 µm.  Sedangkan telur yang jelek dan tidak terbuahi akan mengendap di dasar dan berwarna putih susu (keruh).

1.5 Pengendalian Penyakit
Pemeliharaan induk harus selalu terkontrol dengan baik, salah satu faktor yang tidak kalah penting adalah kegiatan pengendalian penyakit pada induk.  Pengendalian berbagai jenis penyakit dan parasit ini akan menunjang kelangsungan hidup dan peningkatan produksi telur induk.  Penyakit dan parasit akan muncul jika kondisi lingkungan pemeliharaan kurang optimal dan mutu pakan yang rendah serta besarnya prosentase pergantian air laut.
Kegiatan pengendalian penyakit dan parasit ini dilakukan dengan pengelolaan kualitas air yang baik.  Setiap hari bak disikat bersamaan dengan penurunan ketinggian air sampai 70%, sehingga sisa-sisa kotoran dapat terbuang.  Setiap 2 minggu sekali bak dikuras dan disterilisasi dengan kaporit.  Bersamaan dengan pembersihan bak ini, induk ditreatmen dengan direndam air tawar selama 5 - 10 menit dengan aerasi kencang, bisa juga ditambahkan acriflavine 50 ppm atau formalin 200 ppm.  Perendaman ini untuk menghilangkan parasit yang menempel pada permukaan tubuh, mata maupun insang ikan.  Parasit yang sering menyerang adalah golongan krustasea (copepod : Caligus sp.), trematoda (skin fluke : Benedenia sp.), Leeches (lintah) dan protozoa.
Pencegahan penyakit ini juga dilakukan dengan cara vaksinasi induk menggunkan vaksin polivalen Vibrio (hasil penelitian kerja sama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama dengan Universitas Gajah Mada (UGM)).  Caranya induk disuntik dengan larutan vaksin polivalen vibrio secara intramuscular di bagian punggung di bawah sirip dorsal dengan dosis 0,5 ml/induk.  Kegiatan vaksinasi dilakukan rutin setiap 3 bulan sekali.

2.  Teknik Pemeliharaan Larva
2.1 Persiapan Bak
Bak yang digunakan dalam pemeliharaan larva memiliki kapasitas 2 m3.  Ukuran ini digunakan untuk target produksi 5.000 – 10.000 ekor juvenil ikan kakap putih.  Bak  berbentuk bulat dengan diameter 2 m dan kedalaman 1 m, dilengkapi pipa inlet 1 inci dan pipa outlet 2 inci, dan bak dicat dengan warna biru muda.
Bak terletak di dalam ruangan tertutup (indoor) supaya tidak terkena hujan dan sinar matahari langsung.  Untuk menghindari fluktuasi suhu, maka bak ditutup dengan plastik transparan.  Tutup plastik ini dibuka pada siang hari dan ditutup pada malam hari.
Persiapan bak pemeliharaan larva memegang peranan yang sangat penting di dalam usaha pembenihan ikan kerapu.  Tujuan utama dari persiapan bak ini adalah untuk mematikan organisme penyakit (patogen).  Sebelum bak digunakan harus disterilisasi atau didesinfektan menggunakan larutan kaporit Ca(OCl)2 (bahan aktif 60%) dengan dosis 10.000 ppm yang dilarutakan ke dalam 10 L air tawar.  Dinding dan dasar bak disiram menggunakan larutan kaporit, dan dibiarkan beberapa menit sampai dinding berwarna keputihan (lumut mati), lalu dilakukan penggosokan menggunakan sikat.  Bak dan peralatan (selang dan batu aerasi) kemudian direndam dengan larutan kaporit 100 ppm selama 1 hari.  Setelah 1 hari bak pemeliharaan dan peralatan dicuci dengan deterjen.  Setelah itu baru dibilas dengan air tawar.  Terakhir bak dikeringkan dan ditutup dengan terpal atau plastik.
Bak yang sudah siap digunakan, diisi air bersih yang sebelumnya sudah dilewatkan pada mesin Ultraviolet (UV) dan filter bag (ukuran 5 µm).



2.2 Seleksi, Penebaran dan PenetasanTelur
 Setelah persiapan bak selesai, dilakukan seleksi telur.  Seleksi dan penangan telur merupakan langkah awal menuju keberhasilan produksi benih ikan kerapu.  Kesalahan dalam penanganan telur dapat menyebabkan kerusakan pada telur. 
Telur yang telah tertampung di eggs collector dan sudah pada stadia embrio dipindahkan ke ember menggunakan gayung untuk kemudian ditaruh di akuarium.  Pemindahan telur harus pelan-pelan dan hindari telur kontak langsung dengan udara.  Seleksi telur dilakukan dengan cara mengangkat aerasi dan mendiamkan telur selama ± 5 - 10 menit.  Telur yang jelek (tidak terbuahi) berwarna putih susu dan akan mengendap di dasar akuarium, sedangkan telur yang baik akan mengapung di permukaan berwarna putih transaparan, bulat dengan diameter 600 – 800 µm.  Telur-telur yang mengendap selanjutnya disipon.  Kemudian telur yang sudah terseleksi dihitung jumlahnya dengan metode volumetrik dengan sampling sebanyak 5 kali pada tempat yang bebeda dan pada saat sampling jumlah telur aerasi harus dihidupkan.  Di bawah ini adalah rumus untuk menghitung jumlah telur :


Telur yang sudah dihitung jumlahnya kemudian direndam dengan larutan iodin 20 ppm selama 15 menit atau acriflavin selama 1 menit sebagai desinfektan.  Kemudian telur siap untuk ditebar langsung ke bak penetasan dan pemeliharaan larva.  Penebaran dilakukan secara hati-hati dengan kepadatan dalam bak 30 butir/liter.  Rumus volume air pada bak penampungan telur (akuarium) yang akan dipindahkan ke bak penetasan (V) adalah sebagai berikut :

  
Telur kakap putih akan menetas antara 17 - 18 jam setelah pembuahan pada suhu 27 - 29oC dengan panjang total  1,8 mm.  Setelah larva menetas, telur dan cangkang yang mengendap di dasar bak disipon untuk menghindari timbulnya protozoa, jamur maupun bakteri.  Telur yang sudah menetas menjadi larva disebut larva day nol (D0) sedangkan larva yang berumur satu hari dari telur menetas adalah day 1 (D1).  Larva kakap putih umur D1 akan menyebar merata, kemudian larva yang menetas dihitung jumlahnya dengan metode volumetrik dengan sampling sebanyak 3 kali pada tempat yang bebeda.  Air sampel diambil dengan cara mencelupkan pipa PVC tegak lurus ke dalam bak (diameter pipa 1,5 inci dan panjang 0,5 m).  Volume air dan jumlah larva yang terambil dalam air sampel dihitung.  Kepadatan larva di bak dapat dihitung berdasarkan konversi jumlah larva per satuan volume air sampel.  Penghitungan ini selain untuk mengetahui jumlah larva, juga untuk menentukan prosentase Hatching Rate (HR). Apabila HR kurang dari 70% maka larva dibuang (flushing).  Hal ini disebabkan kualitas telur yang jelek dan apabila terus dipelihara maka, larva banyak yang cacat, lemah dan akhirnya mati.  HR rata-rata di hatchery adalah 80 - 90 %, dan nilai ini masih bagus untuk ukuran derajat penetasan telur ikan kakap putih.  Rumus HR adalah sebagai berikut :


Pada larva umur D1, permukaan air pemeliharaan ditetesi minyak cumi sebanyak 0.3 ml/m2/hari sampai umur D8.  Minyak cumi diberikan dua kali sehari yaitu pada jam 06.00 dan 15.00.   

2.3  Manajemen Pemberian Pakan
 Larva kakap putih yang baru menetas akan memiliki cadangan makanan yang berupa kuning telur (yolk egg).  Selama kuning telur ini belum habis diserap, maka larva kerapu belum mengambil makanan dari luar tubuhnya.  Rata-rata pada larva ikan kakap putih, kuning telur tinggal sedikit setelah larva berumur 2 hari setelah menetas (D2).  Sehingga larva mulai diberi makanan dari luar (exogenous feeding) pada umur D2, seiring sudah tebentuknya mulut dan saluran pencernaan serta sistem penglihatan yang sudah mulai berfungsi.  Keterlambatan pemberian pakan ini akan menyebabkan point of no return, yaitu titik yang tidak dapat balik lagi, dimana larva akan mati akibat tidak mendapatkan energi pertama kali dari luar tubuhnya, sehingga larva tidak terlatih untuk makan meskipun diberi pakan.
Tiga jenis pakan yang sering digunakan dalam pemeliharaan larva kerapu yaitu Rotifera, Artemia dan pakan buatan (pelet).  Sedangkan Nannochloropsis sp. ditambahkan ke dalam bak pemeliharaan larva sebagai pakan Rotifera dan untuk mempertahankan warna air agar berwarna selalu hijau yang selanjutnya dapat meratakan intensitas cahaya dalam air.  Nannochloropsis sp. dan Rotifera diberikan ke dalam bak pemeliharaan larva secara perlahan selama beberapa jam setiap harinya menggunakan selang kecil atau pipa kecil, karena larva sangat sensitif terhadap turbulensi air yang besar.  Rotifera yang sering diberikan adalah tipe-SS dengan panjang lorika 120 - 140 µm dan tipe-S dengan panjang lorika 180 - 200 µm (Sugama et al., 2003).  Sedangkan naupli Artemia memiliki ukuran 450 - 500 µm.  Di bawah ini akan dijelaskan cara pemberian pakan larva menggunakan tiga jenis pakan tesebut di atas :

a. Rotifera (Brachionus sp.)
 Untuk larva kakap putih, Rotifera tipe-SS mulai diberikan pada larva pada umur D2 - D4 dengan kepadatan 5 - 7 ind/ml, sedangkan mulai umur D5 - D20 larva diberi Rotifer tipe-S dengan kepadatan 8 - 10 ind/ml.  Penambahan Rotifera dilakukan apabila kepadatan Rotifera kurang dari 5 ind/ml.  Rotifera diberikan pada larva sampai umur D25 (Sugama et al., 2003).
Sebelum Rotifera diberikan dilakukan pengkayaan (enrichment).  Tujuan dari pengkayaan ini adalah untuk meningkatkan kandungan nilai nutrisi dalam Rotifera, terutama kandungan asam-asam lemak tak jenuh esensial seperti DHA (Docosahexaenoic Acid) dan EPA (Eicosapentaenoic Acid), dimana DHA dan EPA ini sangat dibutuhkan larva pada fase awal untuk perkembangan system syaraf, retina mata dan otak.  Bahan pengkayaan yang digunakan yaitu Bio-NR (hasil penelitian kerja sama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB)), dengan dosis 0.9 g Bio-NR untuk 10 liter media Rotifera dengan kepadatan Rotifera 200 - 500 ind/ml.  Lamanya pengkayaan 2 - 4 jam.  Pengkayaan juga bisa menggunakan 1 ml minyak cumi + 1 g ragi roti (yeast) + 0.2 g kuning telur  dan juga bisa ditambahkan 1 g vitamin C atau vit B kompleks,  kemudian ditambah air 200 ml dan diblender selama 30 detik.  Dosis ini juga sama, yaitu untuk media Rotifera 10 liter dengan kepadatan Rotifera 200 - 500 ind/ml.
Rumus banyaknya volume air pada bak penampungan Rotifera yang diberikan pada bak pemeliharaan larva adalah sebagai berikut :

 Ket :
V      = Volume air pada bak penampungan Rotifera yang diberikan (L)
KRI   = Kepadatan Rotifera yang diinginkan pada bak larva (ind/ml)
KRS = Kepadatan Rotifera yang tersisa pada bak larva (ind/ml)
KRP = Kepadatan Rotifera pada bak Penampungan (ind/ml)

b. Artemia
Pada larva kakap putih naupli Artemia mulai diberikan pada umur D12 dengan kepadatan 1 - 3 ind/ml.  Pemberian naupli Artemia ini dilakukan sampai umur D30.  Jumlah naupli Artemia yang diberikan harus habis dimakan larva setelah 1 jam, jika dalam 1 jam naupli Artemia belum habis dimakan, maka jumlah yang diberikan dikurangi, demikian pula sebaliknya.  Sugama et al. (2003) menambahakan, artemia yang tersisa di bak pemeliharaan larva tidak boleh lebih dari satu hari, karena dapat menyebabkan penyakit lordosis dan meningkatkan mortalitas pada larva.
Naupli Artemia sebelum diberikan juga bisa diperkaya dengan Nannochloropsis sp., scout emulsion minyak ikan cod dan vitamin C dosis 100 ppm selama 2 - 4 jam.  Dan selama pengkayaan juga dapat diberikan Acriflavin 2 ppm selama 30 menit untuk membunuh protozoa.

c. Pakan Buatan (pelet)
Untuk mencegah malnutrisi pada larva, maka pemberian pakan buatan harus dilakukan sedini mungkin dan pemberiannya sebelum mulai pemberian Artemia.  Pada larva kakap putih pakan buatan mulai diberikan pada umur D17.  Pakan buatan diberikan sedikit demi sedikit secara merata. Ukuran partikel pakan buatan disesuaikan dengan perkembangan larva (lebar bukaan mulut) dan jumlah yang diberikan perhari disesuaikan dengan kemampuan larva memangsanya.  Di bawah ini disajikan skema manajemen pakan dan kualitas air pemeliharaan larva ikan kakap putih (Gambar 1).  Dan jadwal pemberian pakan disajikan pada Tabel 1.

Gambar 1. Skema manajemen pakan dan kualitas air pada pemeliharaan larva kakap putih

Tabel 1. Jadwal pemberian pakan pada pemeliharaan larva kakap putih
Umur (day)
Jenis Pakan
Waktu (jam)
07.00
08.00
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
D2 – D7
Nanno
X







X



Rotifera


X



X



X

D8 – D20
Nanno
X







X



Rotifera


X




X

X


Artemia




X





X

Pelet (D17)
X


X


X





D21 – D30
Artemia


X




X




Pelet
X


X


X



X

D31 – D45
Pelet
X


X


X


X

X
D46 – D50
Pelet
X

X

X

X


X

X

2.4 Manajemen Kualitas Air
2.4.1 Pergantian Air
Kualitas air dalam Pemeliharaan larva kakap putih harus dikelola secara optimal.  Karena larva kakap putih membutuhkan lingkungan air yang benar-benar bersih dan segar (fresh).  Untuk itu harus dilakukan pergantian air yang cukup berdasarkan perkembangan larva.  Pada umur D8 sampai D20 pergantian air dilakukan sebanyak 10 - 20%.  Pada umur D20 – D30 pergantian air dilakukan sebanyak 50%.  Selanjutnya >D30 pergantian air dilakukan secara terus-menerus atau sistem air mengalir (Flow Through System) sebanyak >100%.

2.4.2 Pembersihan Dasar Bak (Penyiponan)
Selama pemeliharaan larva, kualitas air harus selalu dijaga dengan baik yaitu dengan mengusahakan keadaan bak selalu bersih.  Untuk itu perlu dilakukan pembersihan dasar bak (penyiponan) bila terlihat dasar bak kotor dan pembersihan dinding, selang aerasi serta batu aerasi.  Kotoran berupa bahan organik ini berasal dari sisa pakan yang tidak termakan, kotoran larva (feses), serta Nannochloropsis, Rotifera dan larva yang mati akan terkumpul di dasar bak.  Akumulasi bahan organik ini dapat mengundang protozoa, jamur dan bakteri, jika tidak dilakukan penyiponan.  Khususnya larva yang mati di dasar bak, harus cepat dilakukan penyiponan untuk mencegah terjadinya serangan bakteri Vibrio sp. dan virus jenis Viral Nervous Necrosis (VNN).  Penyiponan dilakukan secara hati-hati supaya tidak terjadi pengadukan kotoran dasar.  Penyiponan dasar bak ini dilakukan dengan melihat kondisi larva dan dasar bak pemeliharaan.
Penyiponan dapat dilakukan pada saat larva baru menetas (umur D1) jika terlihat ada telur dan cangkang telur yang mengendap.  Penyiponan selanjutnya dapat dilakukan pada saat larva berumur D8 - D17, dan setelah larva diberi pakan buatan (pelet) secara penuh, penyiponan dilakukan setiap hari.

2.4.3 Pemberian Fitoplankton (Nannochloropsis sp.)
Fitoplankton yang diberikan ke dalam bak pemeliharan larva adalah Nannochloropsis sp. dengan kepadatan (10 - 15) x 106 sel/ml sebanyak 40 - 60 liter.  Kepadatan Nannochloropsis sp. di bak larva dipertahankan (3 - 5) x 105 sel/ml (Sugama et al., 2003).  Nannochloropsis sp. yang diberikan ini untuk makanan Rotifera dan mempertahankan warna air agar berwarna selalu hijau yang selanjutnya dapat meratakan intensitas cahaya dalam air.  Warna air hijau dapat menghindari terjadinya larva menggerombol di satu tempat dalam bak.
Larva kakap putih sangat sensitif terhadap perputaran air (turbulence), oleh karena itu pemberian plankton harus dilakukan secara perlahan dengan menggunakan selang kecil selama beberapa jam.
Prosentase pergantian air yang cukup besar pada malam hari menyebabkan air bak pemeliharaan larva menjadi bening pada pagi hari, hal ini dikarenakan fitoplankton banyak yang keluar adanya sirkulasi air.  Sehingga warna air menjadi bening dan harus ditambahkan fitoplankton sebelum matahari terbit dan dibantu dengan pemberian penerangan lampu neon di atas bak untuk meningkatkan populasi fitoplankton.  Akibat prosentase pergantian air yang besar, selain penambahan fitoplankton juga dibantu dengan pemberian acriflavin 0.5 - 1 ppm.  Acriflavin ini berwarna hijau kekuningan dan berfungsi sebagai pewarna air agar larva tidak berkumpul di salah satu tempat dan sebagai bahan antiseptik.

2.4.4 Pengaturan Suhu
Suhu air pemeliharaan larva kakap putih dijaga agar tetap stabil yaitu berkisar antara 28 - 31oC.  Dan kisaran ini masih baik untuk kelangsungan hidup larva.  Sugama et al. (2003) menambahkan, bahwa suhu optimal yang menghasilkan Survival Rate (SR) larva terbaik adalah suhu 28 oC.  Untuk menghindari fluktuasi suhu yang terlalu besar, maka bak pemeliharaan larva dibuat di dalam ruangan tertutup (indoor) dan pada malam hari bak ditutup menggunakan plastik transparan.

2.4.5 Pengaturan Cahaya
Cahaya diperlukan larva supaya dapat melihat dan memangsa terhadap pakan yang diberikan.  Larva pada stadia awal membutuhkan intensitas cahaya 1000 Lux dan fotoperiod lebih dari 10 jam untuk memburu pakan secara optimal.  Sugama et al. (2001) selanjutnya mengatakan bahwa untuk mencegah bergerombolnya larva pada permukaan air dapat dipasang lampu neon TL di atas bak larva dengan intensitas cahya minimum 800 lux.  Pengaturan pencahayaan juga bertujuan untuk memperpanjang aktivitas metabolism larva dan menjaga kesetabilan intensistas cahaya dalam air.
Pencahayaan dilakukan dengan menggunakan lampu neon TL 40 watt sebanyak satu buah yang dipasang di atas bak pada jarak 40 - 60 cm dari permukaan air dan lampu neon ini dapat diatur ketinggiannya dari permukaan air.  Sebelum larva umur D10 pencahayaan lampu neon diatur supaya intensitas yang dihasilkan 1000 - 1500 Lux, sedangkan setelah larva umur D10 intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah 600 - 1000 Lux.  Lamanya penggunaan lampu neon mulai dari jam 06.00 – 19.00 WIB.

2.4.6 Pengaturan Aerasi
Pengaturan aerasi baik penempatan titik aerasi dan kecepatan aerasinya dilakukan berdasarkan perkembangan dan umur larva.  Untuk bak larva volume 2 m3 , jumlah titik aerasi yang digunakan sebanyak 8 buah yang ditempatkan di pinggir atau menempel pada dinding bak, serta satu titik aerasi ditempatkan ditengah bak.
Pengaturan kecepatan aerasi pada larva umur D0 - D2 aerasi diberikan agak besar untuk menghindari telur atau larva mengendap di dasar bak.  Larva umur D3 - D10, kecepatan aerasi diperkecil sampai kecepatan sedang agar pergerakan larva di dalam air membentuk kelompok dan mudah memangsa Rotifera. Larva umur D11 - D40, kecepatan aerasi ditambah sedikit demi sedikit sampai besar untuk menghindari larva bergerombol di satu tempat dan meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air.

2.4.7 Pemberian Minyak Cumi pada Permukaan Air Bak
Pemberian minyak cumi dilakukan dengan meneteskan minyak cumi di atas permukaan air sedikit demi sedikit menggunakan pipet tetes, agar minyak cumi tersebar merata dan tidak menggumpal.  Pada larva kakap putih, pemberian minyak cumi ini dilakukan pada umur D0 - D8.  Dosis minyak cumi yang diberikan adalah 0.3 ml/m2 luasan permukaan air bak setiap harinya.  Pemberian dilakukan 2 kali sehari pada jam 06.00 dan 15.00.  Tujuan utama pemberian minyak cumi adalah  untuk mencegah kematian larva yang mengapung akibat terperangkap tegangan permukaan air.

2.4.8 Pengamatan Parameter Kualitas Air
Kualitas dalam pemeliharaan larva harus selalu terkontrol dan stabil, karena perubahan salah satu parameter kualitas air yang drastis atau mendadak dapat menyebabkan larva stress dan mudah terserang penyakit.  Sehingga dilakukan pengamatan kualitas air untuk mengetahui fluktuasi hariannya.  Pengamatan atau pengecekan parameter kualitas air dilakukan setiap hari selama pemeliharaan larva.  Untuk melihat kualitas air harian dilakukan pengecekan kualitas air pada pagi dan sore hari, sedangkan untuk melihat kualitas air bulanan pengecekan dilakukan setiap 2 jam sekali selama 24 jam.  Pengecekan bulanan ini dilakukan sebulan 2 kali (2 minggu sekali).  Parameter kualitas air yang sering diamati adalah suhu, salinitas, pH, DO (oksigen terlarut), kekeruhan dan konduktifitas.  Pengukuran kualitas air menggunakan alat digital, sehingga lebih mudah, praktis dan cepat menghasilkan data.  Di bawah ini adalah nilai parameter kualitas air yang optimal pada bak pemeliharaan larva :
Suhu                                    :  28 - 30 oC
Salinitas                               :  28 – 30 ppt
pH                                        :  7.5 – 8.0
DO (Dissolved Oxygen)         :  > 3.5 ppm

2.5 Pengendalian Penyakit
Selama pemeliharaan larva kakap putih, penyakit yang sering menyerang adalah penyakit yang disebabkan bakteri.  Jenis bakteri yang sering muncul adalah Vibrio sp. dan penyakitnya disebut vibriosis.  Bakteri Vibrio sp. ini bersifat oportunis dan akan patogen jika larva atau juvenil dalam kondisi stress.  Juvenil yang terinfeksi vibriosis tubuhnya akan terlihat berwarna gelap, sedangkan untuk ikan yang lebih besar akan memperlihatkan luka pada permukaan tubuhnya.  Selain itu gejala lainnya adalah nafsu makan berkurang, berenang lemah, pembusukan pada sirip (fin rot), pangkal sirip ekor dan mulut merah, mata menonjol dan terjadi penggumpalan cairan pada perut (perut kembung).  Umumnya bakteri Vibrio menyerang larva pada umur D17 dan merupakan penyebab kematian yang besar selain penyakit viral (Kurniastuty et al., 2004). Pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman Acriflavin 10 ppm selama 2 jam atau dengan perendaman Oxytetracycline 10 ppm selama 1 jam selama 5 hari berturut-turut.  Selain itu bisa juga diberikan chlorampenichol 0.2 kg/kg pakan selama 4 hari atau Sulphoamide 0.5 g/kg pakan selama 7 hari (Kurniastuty et al., 2004).
Selain penyakit vibriosis juga ada penyakit yang disebabkan oleh virus.  Penyakit virus yang sering menyerang pada larva kakap putih adalah VNN (Viral Necrotic Nervous) yang disebabkan oleh nodavirus.  Virus ini menyebabkan kematian massal pada larva atau juvenil, dengan ciri-ciri mula-mula tenggelam di dasar bak kenudian akan mengapung di permukaan air dengan perut menggembung.  Kurniastuty et al. (2004) menambahkan, penyakit viral VNN yang menginfeksi larva dapat mengakibatkan kematian total 100% dalam tempo yang relatif singkat (1-2 minggu).  VNN sampai sekarang  tidak ada obatnya dan hanya bisa dilakukan upaya pencegahannya.
Upaya pencegahan terhadap penyakit yang dilakukan yaitu sterilisasi air laut menggunakan UV (Ultraviolet), sterilisasi semua peralatan dan fasilitas dengan bahan disinfektan berupa kaporit 100 ppm,  penebaran telur yang bebas VNN (berdasarkan hasil deteksi Polymerase Chain Reaction (PCR)), perendaman telur dengan iodin 20 ppm selama 15 menit,  mengurangi kepadatan larva, menghindari larva stress dengan menjaga kualitas air yang baik serta kualitas dan kuantitas pakan,  pemberian Oxytetracycline 1 ppm selama pengkayaan pakan alami, pemberian elbazine 1 ppm seminggu sekali pada media pemeliharaan larva untuk mencegah kontaminasi bakteri, dekapsulasi siste Artemia dengan kaporit, dan perendaman larva atau juvenil dengan larutan vaksin polivalen Vibrio selama 30 menit dengan aerasi kuat  Kepadatan juvenil pada saat perendaman 200 ekor/10 L air laut.

2.6  Panen Juvenil dan Grading
Juvenil ikan kakap putih memiliki sifat berenang mengelilingi bak.  Pemanenan juvenil ikan kakap putih dilakukan pada umur D40 dengan kisaran panjang 2 - 3 cm.  Pemanenan  dilakukan dengan menurunkan air bak secara perlahan-lahan sampai ketinggian air mencapai 20 cm.  Setelah itu juvenil diserok menggunakan serokan (scoop net), kemudian juvenil ditampung di baskom/keranjang yang diberi aerasi.
Juvenil yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan ukurannya (grading). Grading merupakan upaya untuk menyeragamkan pertumbuhan juvenil dan meminimalisasi kematian akibat kanibalisme.  Karena sebagai ikan karnivora, ikan kakap putih memiliki sifat untuk saling memangsa.  Kanibalisme ini muncul akibat kekurangan makanan dan perbedaan ukuran ikan, sehingga ikan yang berukuran besar cenderung memangsa ikan yang berukuran lebih kecil.  Juvenil atau benih yang sudah digrading selanjutnya dihitung jumlahnya untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup larva (Survival Rate (SR)).  Tingkat kelangsungan hidup (SR) larva ikan kakap putih sampai ukuran juvenil (2 - 3 cm) berkisar antara  30 - 50 %.




3  Pendederan Benih
3.1 Pemeliharaan Benih (Pendederan)
 Pendederan benih ikan kakap putih biasanya dibagi menjadi dua yaitu pendederan I dan pendederan II.  Pendederan I ikan yang dipelihara mulai dari juvenil ukuran 2 - 3 cm sampai ukuran 5 – 7 cm dengan lama pemeliharaan 1 bulan.  Sedangkan pada pendederan II ikan yang dipelihara dari ukuran 5 - 7 cm sampai 10 - 15 cm dengan lama pemeliharaan 1 - 2 bulan.  Kepadatan yang dipakai untuk pemeliharaan pada pendederan I adalah 1500 ekor/m3 dan kepadatan untuk pendederan II adalah 600 ekor/ m3.  Kepadatan ini adalah kepadatan yang optimum untuk pendederan, jika kepadatan juvenil terlalu tinggi ikan gampang stress dan dapat mudah terserang penyakit bakterial maupun virus.
Juvenil ikan kakap putih pada masa-masa awal pemeliharaan masih berenang mengelilingi bak.  Setelah itu juvenil akan cenderung berkumpul di dasar bak, sehingga tidak perlu menggunakan ukuran bak besar untuk pendederan.  Bak yang dipakai berukuran 5 - 10 m3.  Bentuk bak pemeliharaan baik berbentuk bulat atau persegi panjang dapat digunakan dan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (sama).

3.2 Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan berupa pakan buatan (pelet) dan ikan rucah yang dipotong-potong berdasarkan lebar bukaan mulut ikan.  Sirip, duri, tulang, jeroan dan kepala ikan rucah sebelumnya dibuang dahulu sebelum dipotong-potong.  Jenis ikan rucah yang sering diberikan adalah ikan benggol, kembung dan mata besar.  Pemberian pelet dapat dilakukan setiap 3 - 4 jam sekali sehari secara ad-satiation (sekenyang-kenyangnya) dan ikan rucah mulai diberikan sebanyak 1 - 2 kali sehari pada pendederan II.  Ukuran butiran pelet yang diberikan harus disesuaikan dengan lebar bukaan mulut ikan dan biasanya setiap 10 - 14 hari sekali, ukuran butiran pelet yang diberikan akan berubah setahap demi setahap menjadi ukuran yang lebih besar.  Pemberian ukuran pelet ini bersifat relatif, tergantung dari pertumbuhan ikan.  Pemilihan jenis pakan buatan komersil harus didasarkan pada kandungan nutrisinya (protein min 45%) dan harga. 
Jumlah pakan dan berat ikan yang mati setiap harinya harus dicatat dalam buku data, untuk mengetahui konversi pakan (Feed Conversion Ratio (FCR)), efisiensi pakan (EP), dan tingkat pemberian pakan (Feeding Rate (FR)) pada akhir pemeliharaan.  Di bawah ini disajikan rumus-rumus FCR, EP dan FR :
1.    

BBM = Bobot biomassa ikan

2.    

3.      atau

4.    

Pada pendederan ikan kakap putih FCR rata-rata sebesar 1,10 dengan Efisiensi pakan 90,81% dan FR 5,16%.  FCR 1,10, berarti untuk menghasilkan 1 kg daging ikan dibutuhkan sebanyak 1,10 kg pakan.  Nilai FCR ini masih tergolong kecil dan sanagat baik untuk pendederan.

3.3 Pengelolaan Kualitas Air
Pemberian pelet dengan kandungan protein yang tinggi maupun pemberian ikan rucah, menyebabkan kualitas air cepat jelek dan kotor.  Untuk itu dalam kegiatan pendederan ini menggunakan sistem air mengalir dengan pergantian air minimal 400%.  Air yang digunakan untuk bak pendederan adalah air yang sudah melewati filter fisik dan mesin UV. 
Pembersihan dasar bak (sipon) dilakukan dua kali setiap hari yaitu pagi dan sore setelah pemberian pakan, tujuannya untuk membersihkan dasar bak dari feses ikan, sisa pakan, ikan mati maupun bahan-bahan organik lainnya.  Karena kotoran-kotoran yang terakumulasi di dasar bak jika tidak dibersihkan, maka pada malam harinya akan terdekomposisi dan mudah memunculkan serangan penyakit bakterial.  Setelah disipon dilakukan penyikatan dinding dan dasar bak, serta penurunan ketinggian air sampai 70% agar kualitas air tetap baik (bersih dan tidak keruh).

3.4 Pengendalian Penyakit dan Parasit
Pencegahan terhadap serangan penyakit dan parasit dilakukan dengan memanajemen dengan baik pengelolaan kualitas air, pemberian pakan yang cukup mutu dan jumlahnya, dan padat penebaran ikan yang tidak terlalu tinggi.  Selain itu kegiatan rutin yang sering dilakukan adalah perendaman benih dalam air tawar selama 5 - 10 menit, bisa juga ditambahkan acriflavine 10 ppm dan atau formalin 200 ppm.  Biasanya setelah direndam, parasit yang menempel pada permukaan tubuh, mata dan insang ikan akan lepas.  Perendaman ini dilakukan satu kali setiap bulan.  Jika terlihat benih ada yang sakit, maka benih tersebut langsung direndam dan diobatin, setelah itu dipelihara di bak terpisah untuk mengurangi tingkat penularan penyakit ke benih yang sehat.
usaha pengendalian penyakit seperti yang dijelaskan di atas, juga dilakukan kegiatan vaksinasi dengan vaksin polivalen Vibrio.  Vaksinasi dilakukan 3 kali yaitu vaksinasi pertama pada juvenil ukuran 2 - 3 cm dilakukan dengan metode perendaman, dimana juvenil direndam dengan larutan vaksin selama 30 menit dengan aerasi kuat.  Vaksinasi kedua pada benih ukuran 10 - 15 cm dilakukan dengan metode suntikan, vaksin disuntikkan secara intraperitoneal di bagian tengah perut, tepat di atas sirip perut dan di bawah operkulum dengan dosis 0,1 ml/ikan.  Vaksinasi yang ketiga dilakukan seminggu setelah vaksinasi kedua dengan cara yang sama yaitu metode suntikan.  Benih dapat ditebar ke keramba satu minggu setelah vaksinasi yang ketiga.  Benih minimal divaksin sebanyak 2 kali.

3.5 Grading dan Sampling
Grading atau pemilahan ukuran adalah salah satu kegiatan dalam pendederan untuk menyeleksi sekaligus memilah-milah benih sesuai dengan ukurannya.  Tujuannya untuk mendapatkan benih yang seragam (seukuran) dengan bentuk tubuh yang ideal (tidak cacat) dan untuk mengurangi sifat kanibalisme (saling memangsa) (Gambar 17).  Sifat kanibal ini akan sedikit berkurang pada ikan yang berukuran sama atau seragam.  Benih biasanya dipisahkan menjadi 3 ukuran, yaitu ukuran small (S), medium (M) dan large (L).  Benih-benih yang memiliki ukuran berbeda-beda ini kemudian dihitung dan dipelihara pada bak yang terpisah.  Grading dapat dilakukan sebanyak 1 - 2 kali dalam sebulan, tergantung dari pertumbuhan dan perbedaan ukuran benih.
Sampling biasanya dilakukan setelah kegiatan grading, dengan mengambil 100 ekor dari masing-masing ukuran benih kemudian diukur panjang dan beratnya.  Dengan kegiatan grading dan sampling yang rutin dapat diketahui survival rate (SR), pertumbuhan relatif (α) maupun bobot biomassa (BBM) benih.  Rumus untuk mengetahui SR, pertumbuhan relatif dan bobot biomassa disajikan di bawah ini :

1.    

2.    

        t = waktu atau lamanya pemeliharaan ikan (hari)

3.    

4.    
Survival Rate (SR) rata-rata pada pendederan ikan kakap putih berkisar 85-95% dengan pertumbuhan relatif sebesar 4,69%.  SR ini cukup baik untuk kegiatan pendederan kakap putih.  Kematian pada pendederan kakap putih banyak disebabkan oleh penyakit bakterial dan juga sifat kanibalisme yang tinggi.

4.  Kultur Pakan Alami Nannochloropsis sp. dan Brachionus sp. Skala Laboratorium
4.1 Kultur Nannochloropsis sp. Skala Laboratorium (Kultur Murni)
Pakan alami merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dari kegiatan pembenihan ikan kakap putih.  Karena pakan alami merupakan pakan yang pertama kali dimakan oleh larva ikan setelah yolk eggs habis diserap larva dan pakan alami memiliki ukuran yang sangat kecil sesuai ukuran bukaan mulut larva.  Selain itu pakan alami ini memiliki kandungan nutrisi yang sangat penting untuk pertumbuhan larva, terutama kandungan asam amino dan asam lemak esensial serta vitamin.  Pakan alami yang sering digunakan untuk pembenihan ikan kakap putih adalah jenis fitoplankton Nannochloropsis sp dan jenis zooplankton Brachionus sp. (golongan Rotifera).  Nannochloropsis sp. berukuran 2 – 4 μm berwarna hijau memiliki kandungan  EPA (Eicosapentaenoic Acid) 30.5 %, total omega 3 HUFAs 42.7 % dan Vitamin B12 (Anonim, 2002).  Vitamin B12 sangat penting untuk populasi Brachionus sp. sedangkan EPA penting untuk nilai nutrisi Brachionus sp. untuk pakan larva ikan kakap putih.  Nannochloropsis sp. dikultur untuk pakan Brachionus sp. sedangkan Brachionus sp. dikultur untuk pakan larva ikan kakap putih.
Kultur murni Nannochloropsis sp. dilakukan di dalam laboratorium dengan suhu yang stabil antara 20 - 25 oC, hal ini bertujuan untuk menjaga kemurnian Nannochloropsis sp. dan agar tidak ada kontaminasi dari mikroorganisme lain seperti jenis alga yang lain dan protozoa.  Karena dengan suhu rendah dan stabil akan mengurangi kompetitor dan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan Nannochloropsis sp. yang dikultur agar tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat (tidak cepat drop), sehingga Nannochloropsis sp. kualitasnya lebih bagus dan awet.  Pencahyaan untuk Nannochloropsis sp. berfotosintesis diatur supaya intensitas cahaya yang dihasilkan antara 8000 – 10000 Lux, yaitu dengan penambahan beberapa lampu neon TL 40 watt.
Tahapan pada kultur murni Nannochloropsis sp. adalah sterilisasi alat dan bahan, kultur dan inokulasi, serta observasi kualitas dan kuantitas Nannochloropsis sp. di bawah mikroskop.  Pada tahapan sterilisasi, semua alat seperti tabung reaksi 22 ml, erlenmeyer 500 ml, 3000 ml dan 5000 ml yang sudah diisi air laut dan selang aerasi serta tutup plastik, semuanya diautoclave dengan suhu 121 oC tekanan 15 psi selama 15 menit untuk membunuh mikroorganisme yang tidak diinginkan.  Sebelum dilakukan kultur murni ada tahapan yang harus dilakukan terlebih dahulu, yaitu tahapan isolasi Nannochloropsis sp. dari laut (alam).  Cara mengisolasi Nannochloropsis sp. dari laut yaitu dengan penyaringan menggunakan planktonet dengan beberapa ukuran mata jaring antara 4 – 20 μm.  Setelah alga tersaring dilakukan pengamtan di bawah mikroskop dan dipisah-pisahkan sesuai jenisnya menggunakan pipet kapiler, untuk selanjutnya di gores atau disebar di atas media agar cawan yang sudah ditambahkan pupuk Conwy/Walne.  Koloni alga yang tumbuh digores lagi ke media agar agar benar-benar terdapat koloni tunggal, terakhir koloni tunggal dikultur pada media cair yang sudah dipupuk dan alga diamati dibawah mikroskop lagi untuk melihat kembali kemurnian alga.  Setelah benar-benar didapatkan Nannochloropsis sp. yang murni kemudian dijadikan bibit (inokulan) untuk tahap kultur murni di laboratorium.
Tahapan pertama sebelum kultur murni Nannochloropsis sp. yaitu media air laut pada tabung reaksi 22 ml, 500 ml, 3000 ml dan 5000 ml yang sudah di autoclave, semua dipupuk menggunakan pupuk cair Conwy/Walne dengan dosis 1 ml/liter media.  Selanjutnya dilakukan tahapan inokulasi atau pemberian inokulan Nannochloropsis sp. ke dalam media kultur.  Inokulan murni yang dipakai adalah Nannochloropsis sp. yang berasal dari tahapan isolasi atau dari kultur murni yang sudah jadi.  Pemberian inokulan awal Nannochloropsis sp. sebanyak 10 – 20 % dari volume media atau dengan kepadatan awal 34 juta sel/ml (34 x 106 sel/ml).  Setelah proses inokulasi, media kultur di erlenmeyer diberi aerasi sedang sebagai sumber karbondioksida (CO2), sedangkan untuk media di tabung reaksi cukup dibolak-balik 3 kali/hari.  Inkubasi dilakukan selama 5 - 6 hari atau pada saat Nannochloropsis sp. mencapai pertumbuhan eksponensial (kepadatan optimal) yaitu antara 40-50 x 106 sel/ml.  Kultur dilakukan bertingkat mulai dari kultur media tabung reaksi 22 ml (inokulan dari kultur tabung reaksi), 500 ml (inokulan dari kultur tabung reaksi), 3000 ml (inokulan dari kultur erlenmeyer 500 ml) dan 5000 ml (inokulan dari kultur erlenmeyer 500 ml).  Pengamatan kualitas Nannochloropsis sp. meliputi bentuk sel, pigmen klorofil dan kontaminasi dari protozoa maupun alga yang lain, diamati di bawah mikroskop.  Sedangkan pengamatan kuantitas Nannochloropsis sp. yaitu dengan penghitungan jumlah sel/ml dengan haemocytometer.  Nannochloropsis sp. hasil kultur murni kemudian menjadi inokulan atau bibit untuk kultur semi massal dan massal.   Di bawah ini adalah komposisi pupuk Conwy/Walne, trace metal dan vitamin:
 Pupuk Kultur Murni (pupuk Conway/Walme):
1. NaNO3 / KNO3                             100 / 116 g
2. Na2HPO4.2H2O                            20 g
3. H3BO3                                         33.6 g
4. Na2EDTA                                    45 g
5. MnCL2                                        0.36 g
6. FeCl3.6H2O                                 1.3 g
7. Trace Metal Solution)*                 1 ml
8. Larutan Vitamin)**                       1 ml
9. Aquadest                                    1000 ml
Penggunaaan : 1 ml/L media



)*Trace Metal Solution :
1. ZnCL2                                         2.1 g dalam 500 ml aquadest
2. CoCL2.6H2O                                2 g dalam 500 ml aquadest
3. CuSO4.5H2O                               2 g dalam 500 ml aquadest
4. (NH4)6.Mo7.O24.4H2O                   0.9 g dalam 500 ml aquadest


)**Larutan Vitamin :
1. Vitamin H (Biotin)               0.025 g dalam 500 ml aquadest steril
2. Vitamin B1 (Thiamin)         0.175 g dalam 500 ml aquadest steril
3. Vitamin B12                       0.175 g dalam 250 ml aquadest  steril

Cara pembuatan pupuk Conwy/Walne 1 liter yaitu dengan mencampurkan Larutan A (melarutkan NaNO3, Na2HPO4.2H2O, H3BO3,  Na2EDTA, MnCL2 ke dalam 500 ml akuades) dan larutan B (melarutkan FeCl3.6H2O ke dalam 200 ml akuades), kemudian ditambahkan trace metal solution masing-masing sebanyak 1 ml dan terakhir tambahkan lagi akuades sampai 1 liter.  Pupuk Conwy/Walne disterilisasi dengan autoclave suhu 121 oC tekanan 15 psi selama 15 menit, kemudian tambahkan vitamin masing-masing 1 ml dari stok primer.
Untuk menjaga kesinambungan stok murni Nannochloropsis sp., kultur pada media agar dan tabung reaksi dapat disimpan di kulkas dengan suhu 4 oC.  Penyimpanan stok murni Nannochloropsis sp. dapat bertahan 1 – 6 bulan dan dapat digunakan sebagai bibit kultur apabila Nannochloropsis sp. mengalami penurunan kualitas.

4.2 Kultur Brachionus sp. Skala Laboratorium
Kultur Brachionus sp. pada skala laboratorium dilakukan secara bertingkat, dari wadah yang meiliki volume kecil sampai ke volume yang lebih besar, yaitu dari tabung reaksi volume 22 ml, erlenmeyer volume 500 ml, 3000 ml dan 5000 ml.  Kultur pada media erlenmeyer membutuhkan aerasi sedang sebagai sumber oksigen Brachionus sp. dan untuk meratakan penyebaran pakan (pakan tidak mengendap).  Pemberian inokulan awal Brachionus sp. dengan kepadatan 10 ekor/ml media.  Media kultur yang digunakan adalah green water  atau media hasil kultur Nannochloropsis sp..  Pakan yang diberikan melalui penambahan Nannochloropsis sp. dengan kepadatan tertentu dan penambahan dilakukan setelah jumlah pakan berkurang atau habis, hal ini dapat terlihat dari media kultur yang menjadi bening (± 3 hari).
Penghitungan kepadatan Brachionus sp. dilakukan di bawah mikroskop dengan alat Sedgewick Rafter dan alat bantu hand counter.  Sedangkan ukuran Brachionus sp. dapat diukur dengan alat micrometer pada lensa okuler mikroskop.  Pengukuran perlu dilakukan untuk mengetahui ukuran yang sesuai sebagai pakan larva (sesuai ukuran lebar bukaan mulut larva).  Pemanenan Brachionus sp. dapat dilakukan setelah 4 – 5 hari atau mencapai kepadatan 100 – 200 ekor/ml dengan penyaringan menggunakan planktonet ukuran 40 μm atau memanen bersama dengan media kulturnya.

5.  Kultur Nannochloropsis sp. dan Brachionus sp. Skala Semi Massal dan Massal
5.1  Kultur Nannochloropsis sp. Skala Semi Massal dan Massal
Kultur massal Nannochloropsis sp. memiliki peranan yang sangat penting bagi usaha pembenihan ikan kakap putih.  Karena keberhasilan kultur massal  Nannochloropsis sp. akan menentukan keberhasilan kultur massal Brachionus sp., hal ini disebabkan Nannochloropsis sp. merupakan pakan utama dari Brachionus sp. sedangkan Brachionus sp. sendiri merupakan pakan alami larva ikan kakap putih.
Tahapan kultur semi massal dan massal yaitu sterilisasi alat, wadah dan air, serta kultur dan inokulasi.  Wadah yang dipakai untuk kultur semi massal adalah akuarium volume 100 liter, bak fiber volume 350 liter, bak fiber volume 1000 liter, sedangkan untuk kultur massal menggunakan wadah bak beton volume 10 m3 serta bak fiber volume 30 m3.  Kultur dilakukan secara bertingkat mulai dari akuarium 100 liter, bak fiber 350 liter, bak fiber 1 m3 dan bak beton 10 m3.  Wadah dan peralatan aerasi seperti selang aerasi dan batu aerasi dicuci dengan sabun atau deterjen dan dibilas dengan air tawar sampai bersih.  Air laut disterilisasi dengan kaporit Ca(OCL)2 20 ppm (20 g kaporit/ton air media yang digunakan) untuk skala semi massal  akuarium 100 L dan bak fiber 350 L.  Sedangkan untuk skala massal dosis kaporit yang digunakan 15 ppm (15 g/ton).  Sterilisasi air dilakukan sehari sebelum digunakan, dan saat pemberian kaporit, aerasi dihidupkan ± 1 - 2 menit agar kaporit larut.  Kemudian aerasi dimatikan dan dibiarkan seharian.  Pagi hari aerasi dihidupkan kembali secara kuat dan mulai dicek dengan chlorine test, jika air berwarna kuning kecoklatan maka air dinetralkan dengan Natrium Thiosulphat (Na2S2O3) dengan dosis ½ dari berat kaporit yang digunakan.  Tetapi pada saat penetralan Na-Thio yang diberikan ¾ dari berat Na-Thio awal.  Cek lagi dengan chlorine test, jika air berwarna bening/jernih maka air sudah netral. Dan jika masih belum netral (masih berwarna kuning muda tipis) ditambahakan Na-Thio ¼ lagi.  Untuk meyakinkan air sudah netral selain di cek dengan chlorine test juga dilakukan pembauan.  Air yang sudah netral ini juga disimpan pada ember-ember besar steril yang dilengkapi dengan tutup, fungsinya untuk menggelontor pompa dan selang yang akan digunakan untuk kultur.  Air netral dapat disimpan maksimal selama 2 hari.  Sebelum digunakan untuk kultur, pompa dan selang aerasi serta peralatan lainnya seperti ember, gayung, dibilas atau digelontor dengan air laut steril yang sudah netral.
Pupuk yang digunakan untuk kultur semi massal dan massal adalah pupuk teknis, yaitu Urea 30 ppm, TSP 15 ppm, ZA 40 ppm, EDTA 2 ppm, FeCl3 1 ppm.  Masing-masing pupuk ditimbang dan ditaruh diwadah yang berbeda, kemudian dimasukkan satu persatu ke dalam air tawar yang sudah mendidih, secara berurutan : 1) Urea, 2) ZA, 3) EDTA, 4) TSP kemudian 5) FeCl3 (sebelumnya FeCl3 dilarutakan dalam air tawar panas terlebih dahulu).  Tunggu sebentar sampai semua pupuk larut.  Kemudian pupuk cair yang sudah jadi dipindahkan ke ember steril yang dilengkapi dengan tutup.  Pada musim hujan atau sering mendung, pemupukan dapat dilakukan sebanyak 3 kali pada hari pertama, kedua dan ketiga kultur, dengan dosis pupuk dibagi rata.
Inokulan awal Nannochloropsis sp.  sebanyak 10 – 20 % dari volume media atau kepadatan awal yang digunakan 24 juta sel/ml (24 x 106 sel/ml).  Inkubasi dilakukan selama 6 hari dengan aerasi sedang hingga kepadatan Nannochloropsis sp. mencapai 10-20 x 106 sel/ml selanjutnya dilakukan observasi kualitas dan kuantitas Nannochloropsis sp. Sebelum kultur (inokulasi), inokulan yang akan dipakai di amati dahulu di  bawah mikroskop untuk melihat kualitas (ada tidaknya kontaminasi dari protozoa maupun algae lain) dan kuantitas sel (kepadatan sel/ml).  Botol-botol sampel yang digunakan untuk mengambil sampel Nannochloropsis sp., harus disterilisasi dengan perebusan atu diautoclave.

5.2  Kultur Brachionus sp. Skala Semi Massal dan Massal
Kultur Brachionus sp. dilakukan secara bertingkat mulai dari akuarium volume 100 liter, bak fiber bulat 500 liter dan bak fiber bulat 10 m3.  Media kultur yang digunakan adalah green water atau hasil kultur massal Nannochloropsis sp. dengan kepadatan 10 x 106 sel/ml.  Pemberian algae jenis Nannochloropsis sp. sebanyak 50% dari volume wadah kultur dan dengan pemberian inokulan awal Brachionus sp. kepadatan 40-50 ekor/ml media.  Inkubasi dilakukan selama 4 - 5 hari atau kepadatan Brachionus sp. mencapai 100 – 200 ekor/ml.  Penambahan Nannochloropsis sp. dilakukan setelah jumlah Nannochloropsis sp. berkurang atau habis, hal ini dapat terlihat dari media kultur yang menjadi bening.  Pada kultur skala semi massal (akuarium 100 liter), Yeast atau ragi roti dapat ditambahkan setiap 2 hari sekali sebanyak 0,36 g yeast/10 liter media sebagai pakan tambahan pada awal kultur.
Pada saat panen, Brachionus sp. dalam bak kultur tidak dihabiskan tapi disisakan sebagian atau 50% dari total volume sebagai bibit untuk kultur selanjutnya, kemudian bak kultur diisi kembali dengan  Nannochloropsis sp. hingga volume semula.  Bersamaan dengan kegiatan itu, harus dipersiapkan kultur Nannochloropsis sp. di dalam bak yang lain,  sehingga setiap selesai panen sudah harus tersedia  Nannochloropsis sp. dalam jumlah yang cukup.  Panen Brachionus sp. dapat dilakukan setiap hari pada bak kultur yang sama hingga bak kultur terlihat kotor.  Panen dapat dilakukan sebanyak 7 – 10 kali, kemudian bak dipersiapkan dari awal kembali.  Panen dilakukan dengan mengalirkan air kultur Brachionus sp. ke wadah ukuran 40 x 40 x 60 cm yang sudah dilengkapi dengan planktonet 40 μm.  Setelah dipanen, kepadatan Brachionus sp. di bak pemanenan diusahakan mencapai 200 ekor/ml dan siap untuk di enrichment.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2002. Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Balai Budidaya Laut Lampung. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan. Hal 7 – 8.

Kurniastuty, T. Tusihadi dan P. Hartono. 2004. Hama dan Penyakit Ikan dalam Pembenihan Ikan Kerapu. Departemen Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Balai Budidaya Laut Lampung. Bandar Lampung. Halaman 77 – 89.

Sugama, K., Tridjoko, B. Slamet, S. Ismi, E. Setiadi dan S. Kawahara. 2001. Petunjuk Teknis Produksi Benih Ikan Kerapu Bebek, Cromileptes altivelis. Balai Riset Budidaya Laut Gondol – JICA. Bali. 40 Halaman.

Sugama, K., S. Ismi, S. Kawahara and M. Rimmer. 2003. Improvement of Larval Rearing Technique for Humback Grouper (Cromileptes altivelis). Aquaculture Asia Megazine July - September 2003. NACA. Bangkok. Thailand. Page 34 - 37.



 

No comments:

Post a Comment